JAKARTA – Senja itu, Raka (22) sudah berdiri di depan layar pemesanan sejak pukul empat sore. Dengan koneksi internet yang ia pinjam dari ponsel temannya, ia berharap bisa meraih satu tempat duduk. Bukan untuk konser musik megah atau festival mode, melainkan untuk menyaksikan tayangan sebuah film yang sedang mengguncang jagat maya: The Odyssey. Namun, saat loket daring akhirnya dibuka, semua kursi lenyap dalam hitungan detik. Raka hanya bisa menatap layar kosong. Ia bukan sendiri; ribuan orang lain bernasib serupa. Di balik gegap gempita pujian untuk film adaptasi legenda Homeros ini, terselip bisik-bisik kecewa yang kini mengeras menjadi suara lantang: cara menikmati The Odyssey terasa begitu berjarak, begitu elitis.
Lahirnya Antusiasme Tanpa Batas
Ketika trailer The Odyssey pertama kali dirilis, media sosial seketika terbakar. Adegan pertempuran raksasa di lautan badai, penggambaran gua Polifemos yang mencekam, dan akting mendalam para aktor utamanya menyihir jutaan pasang mata. Para penggemar sinema dunia, tak terkecuali di Indonesia, langsung menggaungkan nama film ini sebagai “persembahan sinematik abad ini.” Tak heran, sejak jadwal penayangan diumumkan, belasan grup komunitas daring dibentuk: dari forum penggemar legenda Yunani, klub diskusi sastra klasik, sampai sekadar pecinta efek visual kelas atas.
Adit, seorang pegiat sastra dari Komunitas Pembaca Mitologi, mengisahkan bagaimana ia sudah menabung tiga bulan hanya untuk membeli tiket. “Saya ingin merasakan bagaimana terjemahan visual atas teks yang saya cintai sejak SMP ini diwujudkan,” ujarnya, Rabu. “Tapi setelah tahu caranya, saya seperti ditampar realita: apa iya mimpi sesederhana itu harus dibayar semahal ini?” Kalimat Adit merangkum kegelisahan yang membayangi pesona film tersebut.
Teknologi Canggih dengan Harga Selangit
Kontroversi mulai mencuat saat rumah produksi mengumumkan format eksklusif untuk pengalaman menonton The Odyssey secara penuh. Film ini disebut-sebut ‘dilahirkan’ untuk teknologi imersif tertentu: layar berlapis dengan resolusi di atas standar bioskop konvensional, sistem suara spasial yang menuntut akustik ruangan khusus, dan bahkan beberapa segmen dikabarkan hanya bisa dinikmati melalui peranti virtual reality edisi terbatas. Akibatnya, The Odyssey hanya bisa diputar di segelintir bioskop premium di kota-kota besar, dengan jumlah kursi yang amat terbatas.
Di Jakarta, misalnya, hanya dua lokasi yang memenuhi syarat teknis. Harga tiketnya pun melambung: setara dengan ongkos sepekan makan bagi sebagian keluarga. “Ini bukan sekadar menonton film, ini seperti menabung untuk liburan singkat,” keluh Tari, seorang guru honorer yang akhirnya mengurungkan niatnya. “Saya ingin ikut merayakan karya besar, tapi saya merasa tak diundang.”
Jeritan dari Daerah dan Pinggiran
Jika warga ibu kota masih bisa memupuk harapan meski tipis, lain cerita dengan para penikmat film di daerah lain. Di Yogyakarta, sekelompok mahasiswa sampai menggalang petisi daring agar film ini setidaknya ditayangkan dalam format adaptif di jaringan bioskop lokal. “Kami hanya ingin melihat kisah Odysseus pulang ke Ithaka. Kenapa harus serumit ini?” tulis salah satu petisi yang telah mengumpulkan ribuan tanda tangan. Hingga kini, belum ada kejelasan. Pihak produksi hanya menyatakan bahwa ‘integritas artistik’ harus dijaga dan teknologi adalah bagian tak terpisahkan dari narasi.
Lebih jauh lagi, seniman dan kritikus film lokal mulai menyuarakan pandangan serius. Mereka menyebut fenomena ini sebagai bentuk baru segregasi budaya, di mana akses terhadap seni berkualitas hanya dikuasai mereka yang secara ekonomi dan geografis punya privilese. The Odyssey, yang bercerita tentang manusia yang melawan ketidakadilan, justru disajikan dengan cara yang menurut para pengkritik melanggengkan ketimpangan.
Di Antara Kekaguman dan Kegelisahan
Tentu saja, tidak semua pihak melontarkan keluhan. Sebagian penonton yang berhasil menyaksikan The Odyssey di bioskop premium melaporkan pengalaman yang nyaris spiritual. “Seumur hidup saya belum pernah terpukau seperti itu. Air mata saya jatuh bukan hanya karena ceritanya, tapi karena setiap serat gambar terasa hidup,” tutur Bayu, seorang desainer grafis yang beruntung mendapatkan tiket lewat undangan spesial. Ia memahami mengapa format tayangan sengaja dibatasi, tetapi ia pun mengaku gelisah: “Seni yang sejati seharusnya merangkul, bukan mengucilkan.”
Di sinilah inti persoalan mengendap: apakah kemajuan teknologi dalam bercerita harus selalu berbanding lurus dengan eksklusivitas? Para sineas yang terlibat, dalam beberapa wawancara, menegaskan bahwa tujuan mereka adalah mendorong batas medium. Namun, di warung kopi dan ruang-ruang diskusi daring, jawaban itu dianggap belum cukup memuaskan dahaga akan keadilan akses.
Mimpi yang Berusaha Tetap Terjaga
Malam itu, Raka yang masih duduk di bangku taman dekat stasiun, menyimpan kembali ponselnya. Ia memutuskan untuk tetap membaca ulang teks terjemahan Odysseia yang ia punya, sebagai bentuk perlawanan sunyi. “Mungkin suatu hari,” bisiknya pada diri sendiri, “film sebagus apa pun tidak perlu menciptakan tembok yang tak terlihat.”
Antusiasme yang membuncah tak bisa dipungkiri telah melahirkan kembali kecintaan publik pada mitologi klasik, dan itu adalah berkah tersendiri. Namun, pertanyaan yang kini menggantung di benak banyak orang tak kalah besar: akankah The Odyssey hanya menjadi kenangan bagi segelintir manusia yang cukup berpunya, ataukah akhirnya akan menemukan jalan untuk menyapa semua jiwa yang mencintainya? Sebagaimana pelayaran Odysseus yang penuh rintangan, perjalanan film ini menuju hati setiap penonton mungkin masih harus menempuh badai yang panjang—bukan di lautan, melainkan di kesenjangan yang tak kunjung surut.
Comments (0)