Oct 11, 2026
entertainment

Langkah Kecil di Lorong Sekolah, Jejak Sepatu Masa Kecil

Langit pagi di ujung gang permukiman itu masih berwarna kelabu ketika Rina, 43 tahun, membuka kotak kardus usang di gudang rumahnya. Di dalamnya, sepasang sepatu kanvas putih dengan garis biru di sisi...

Langkah Kecil di Lorong Sekolah, Jejak Sepatu Masa Kecil

Langit pagi di ujung gang permukiman itu masih berwarna kelabu ketika Rina, 43 tahun, membuka kotak kardus usang di gudang rumahnya. Di dalamnya, sepasang sepatu kanvas putih dengan garis biru di sisi samping terbaring tenang, sedikit menguning dimakan usia. Ia menyentuhnya pelan, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh dan berharga. “Ini sepatu yang dulu saya pakai waktu kelas empat SD,” ujarnya lirih. “Masih saya simpan sampai sekarang, walau sudah tidak muat lagi.”

Bagi Rina, sepatu itu bukan sekadar alas kaki. Ia adalah saksi dari masa ketika dunia terasa lebih sederhana: pagi-pagi berangkat ke sekolah dengan seragam rapi, membawa bekal nasi goreng dalam kotak plastik, dan berlari kecil menghindari gerbang yang akan ditutup pukul tujuh tepat. Di era 1990-an, merek sepatu tertentu begitu lekat dengan identitas anak sekolah. Bukan karena iklan besar-besaran atau selebriti, melainkan karena hampir setiap kaki kecil di Indonesia pernah mengenakannya.

Ketika Sepatu Menjadi Penanda Zaman

Memasuki pertengahan dekade 1990-an, toko-toko sepatu di kota-kota kecil hingga besar dipenuhi model kanvas dan kulit sintetis dengan harga yang bersahabat. Merek-merek lokal tumbuh subur, bersaing dengan produk impor yang mulai masuk. Namun ada satu nama yang seolah menjadi bahasa universal di kalangan pelajar: sepatu dengan sol karet lentur dan tali putih yang gampang kotor. “Dulu kalau tidak pakai merek itu, rasanya ada yang kurang,” kenang Rina sambil tersenyum. “Bukan karena sombong, tapi karena memang itu yang ada di toko dekat rumah dan harganya pas dengan uang saku.”

Di balik popularitasnya, ada kisah para perajin dan pedagang kecil yang menghidupi keluarga dari sepatu-sepatu itu. Di sebuah bengkel sepatu di kawasan Bandung, Pak Salim, kini 68 tahun, pernah menjadi bagian dari rantai produksi yang sibuk menjelang tahun ajaran baru. “Setiap Juni, kami lembur sampai malam. Pesanan dari sekolah-sekolah dan pasar tradisional menumpuk,” tuturnya. “Waktu itu belum ada mesin canggih. Semua dijahit tangan, dilem satu per satu. Tapi justru dari situ kami bisa menyekolahkan anak-anak.”

Air Mata di Balik Sepatu yang Lusuh

Bagi sebagian anak, memiliki sepatu baru bukan hal yang mudah. Yanti, 45 tahun, masih ingat betul bagaimana ia harus menerima sepatu bekas dari kakaknya karena kondisi ekonomi keluarga yang sulit. “Warnanya sudah pudar, solnya tipis. Tapi Ibu selalu bilang, yang penting bisa dipakai sekolah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. “Saya sempat malu. Tapi sekarang saya sadar, itu bentuk perjuangan orang tua saya.”

Kisah serupa datang dari Andi, 47 tahun, yang tumbuh di sebuah desa di Jawa Tengah. Ia menempuh perjalanan hampir lima kilometer setiap hari dengan sepatu yang sudah bolong di ujung jari. “Kalau hujan, kaki saya basah kuyup. Tapi saya tidak pernah bolos,” katanya. “Guru saya bilang, sepatu boleh rusak, tapi semangat jangan.” Kalimat itu ia bawa hingga dewasa, menjadi penyemangat ketika merintis usaha kecil-kecilan yang kini menghidupi keluarganya.

Di balik setiap sol yang aus dan tali yang kusut, tersimpan cerita tentang ketekunan. Sepatu-sepatu itu menemani anak-anak menapaki lorong sekolah, berdiri di depan kelas untuk presentasi pertama, dan berlari di lapangan saat jam istirahat. Ia menjadi saksi bisu tawa, tangis, dan mimpi yang tumbuh perlahan.

Jejak yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Kini, merek-merek sepatu era 1990-an memang tak lagi mendominasi rak-rak mal. Anak-anak masa kini lebih akrab dengan sepatu olahraga impor atau merek global dengan teknologi canggih. Namun bagi generasi yang tumbuh di dekade itu, kenangan akan sepatu kanvas sederhana tetap hidup. Beberapa komunitas penggemar barang lawas bahkan rela memburu model lama di pasar loak atau lelang daring. “Saya beli lagi sepasang yang mirip dengan punya saya dulu,” kata Rina. “Bukan untuk dipakai, hanya untuk mengingat bahwa saya pernah jadi anak kecil yang bahagia dengan hal-hal sederhana.”

Pak Salim, yang kini telah pensiun dari bengkelnya, menyimpan satu pasang sepatu hasil karyanya sendiri di lemari. “Ini yang terakhir saya buat sebelum tutup,” katanya. “Saya simpan sebagai kenangan. Dari sepatu ini, banyak anak jadi orang hebat.”

Perjalanan sebuah merek sepatu mungkin berakhir di etalase yang berdebu. Namun jejaknya tetap terasa dalam langkah-langkah orang dewasa yang pernah menjadi anak sekolah. Dalam ingatan mereka, sepatu itu bukan sekadar benda mati. Ia adalah bagian dari cerita tentang berjuang, tentang orang tua yang bekerja keras, dan tentang mimpi yang mulai dianyam sejak bangku sekolah dasar. Di ujung gang, Rina menutup kembali kotak kardus itu, meletakkannya di tempat semula. “Suatu hari nanti, saya akan tunjukkan ini ke anak saya,” ujarnya. “Supaya dia tahu, kebahagiaan tidak selalu datang dari barang baru.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User