Aug 25, 2026
entertainment

Langkah di Atas Awan yang Mengembalikan Senyumnya

Di sudut kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu, Rina menatap sepasang sepatu trekking yang solnya sudah mulai mengelupas. Di luar, langit Jakarta baru saja beranjak dari warna kelam, namun pik...

Langkah di Atas Awan yang Mengembalikan Senyumnya

Di sudut kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu, Rina menatap sepasang sepatu trekking yang solnya sudah mulai mengelupas. Di luar, langit Jakarta baru saja beranjak dari warna kelam, namun pikirannya sudah berlari ratusan kilometer jauhnya, ke deretan punggung bukit yang menunggu di utara. Bukan keindahan puncak yang sebenarnya dirindukannya, melainkan keheningan yang selama ini terasa seperti barang mewah di tengah hiruk-pikuk kota. "Setiap kali mengikat tali sepatu ini, rasanya seperti menyambung kembali bagian dari diri saya yang terputus," ucapnya lirih, hampir tertelan oleh deru kipas angin dinding yang berputar malas.

Kisah Rina bukanlah tentang mendaki gunung demi pameran di media sosial. Jauh dari itu. Tiga tahun lalu, ia berjuang bangkit setelah kehilangan pekerjaan dan seorang ibu dalam waktu yang hampir bersamaan. Dunia yang dulu ia kenal runtuh begitu saja, meninggalkan luka yang tidak terlihat namun terasa begitu nyeri. Seorang sahabat kemudian mengajaknya ke sebuah jalur pendakian yang sederhana di Gunung Gede. Tanpa peralatan mewah, tanpa target ambisius, hanya langkah demi langkah yang dipaksakan dalam derai napas yang memburu. "Saya ingat persis, di pos dua, saya menangis. Bukan karena capek, tapi karena untuk pertama kalinya setelah lama, saya merasa diperbolehkan lemah," kenangnya.

Sepatu Usang dan Mimpi yang Belum Padam

Perjalanan mengisahkan banyak hal tentang seseorang. Bagi Rina, setiap kali ia melihat kembali sepatu trekkingnya yang usang, ia melihat peta perjalanan hidupnya sendiri. Dari seorang perempuan yang dulu hampir tidak pernah keluar dari apartemennya selama berbulan-bulan, kini ia menjadi sosok yang bangun pukul tiga dini hari untuk mengejar sunrise di ketinggian. Perubahan itu tidak datang secara megah. Ia datang dalam bentuk langkah goyah di atas bebatuan basah, dalam rasa malu ketika harus meminjam headlamp karena lupa mengisi baterai, dan dalam hangatnya secangkir kopi instan yang dibagikan pendaki asing di tengah hutan.

"Orang sering bilang, mendaki itu menyenangkan. Padahal, di balik layar, ada begitu banyak momen ingin menyerah," tutur Rina sambil tersenyum tipis. Ia bercerita tentang salah satu pendakian paling berat dalam hidupnya, ketika hujan deras mengguyur selama enam jam nonstop di lereng gunung. Jas hujan yang ia miliki bocor di beberapa bagian, membuat tubuhnya menggigil di dalam sleeping bag yang basah kuyup. Namun, justru di malam paling gelap itulah ia mendengar suara hati paling jernih. "Saya sadar, hidup memang tidak selalu memberi kita perlengkapan yang sempurna. Tapi kita tetap punya pilihan untuk terus melangkah, atau berhenti di tengah badai."

Di Balik Layar Setiap Langkah

Bukan hanya fisik yang diuji di jalur pendakian. Ada lanskap emosional yang jauh lebih terjal dari kemiringan jalur mana pun. Rina mengenang seorang porter bernama Pak Tarno, seorang pria berusia lima puluhan yang setiap minggu naik turun gunung dengan beban lebih dari dua puluh kilogram di pundaknya. Di sebuah momen mengharukan di dekat kemah, Pak Tarno bercerita bahwa ia bekerja keras agar putri bungsunya bisa kuliah kedokteran. "Bapak bilang, 'Nak, gunung ini tidak pernah janji jalan yang mudah. Tapi puncak selalu ada buat yang sabar.' Kalimat sederhana itu menyentuh saya begitu dalam," ujar Rina, suaranya sedikit bergetar.

Dari situ, Rina mulai memandang setiap pendakian sebagai cerminan. Ia tidak lagi terobsesi mencapai puncak secepat mungkin. Ia belajar menghargai setiap pohon yang dilalui, setiap helai embun yang menempel di daun pakis, dan setiap percakapan tak terduga dengan orang asing yang kemudian menjadi teman seperjuangan. Inspirasi itu mengubah caranya melihat hidup. Bukan lagi tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, tapi siapa yang tetap rendah hati dan bersyukur selama perjalanan.

Air Mata dan Senyum di Garis Langit

Puncak tidak selalu memberi jawaban. Kadang, puncak hanya memberi kita tempat untuk menangis dengan lebih leluasa. Rina mengingat kembali pagi ketika ia berdiri di puncak Gunung Prau, setelah perjalanan panjang yang dipenuhi keraguan. Kabut tipis menyelimuti lembah di bawah, sinar matahari pertama menyentuh wajahnya yang basah oleh air mata. "Di sana, saya tidak merasa jadi pemenang. Saya justru merasa sangat kecil, sangat sederhana, dan sangat berterima kasih," katanya. Saat itulah ia mengerti bahwa mendaki bukan tentang mengalahkan gunung, tapi tentang berdamai dengan diri sendiri.

Kini, setiap kali Rina kembali ke kota, ia membawa secarik kertas kecil di dompetnya. Di atasnya tertulis tangan: "Langkahmu tidak harus cepat, asal tidak berhenti." Itu adalah hadiah dari seorang pendaki lanjut usia yang ia temui di jalur turun. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap foto indah yang orang lihat, ada kisah perjuangan yang tak terucap, ada malam-malam dingin yang dilalui sendirian, dan ada keputusan kuat untuk bangkit setiap kali kaki terpeleset.

Rina kini sering menerima pesan dari teman-temannya yang ingin mencoba mendaki untuk pertama kalinya. Ia selalu membalas dengan kalimat yang sama: "Bawa hatimu yang paling jujur, dan biarkan gunung mengajarkan sisanya." Karena baginya, gunung bukan sekadar destinasi. Gunung adalah rumah sementara bagi mereka yang sedang mencari kembali potongan dirinya yang hilang, satu langkah demi satu langkah, menuju cahaya yang perlahan menerangi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User