Sep 19, 2026
Nasional

Klaim Ulta Levenia Soal HAARP dan Erupsi Gunung Api Menuai Kritik

Ruang publik dan lini masa media sosial baru-baru ini diramaikan oleh pernyataan kontroversial dari Deputi Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI),

Klaim Ulta Levenia Soal HAARP dan Erupsi Gunung Api Menuai Kritik

Ruang publik dan lini masa media sosial baru-baru ini diramaikan oleh pernyataan kontroversial dari Deputi Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI), Ulta Levenia Nababan. Dalam sejumlah pernyataannya yang viral, Ulta mengaitkan fenomena rentetan erupsi gunung api aktif di Indonesia dengan dugaan intervensi teknologi senjata frekuensi tinggi asal Amerika Serikat, yakni High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).

Klaim tersebut sontak menuai gelombang kritik tajam dari kalangan akademisi, ahli geologi, hingga vulkanolog. Pasalnya, narasi yang menghubungkan riset atmosfer dengan aktivitas magma perut bumi dinilai sebagai pseudosains dan teori konspirasi yang tidak berdasar secara ilmiah.

Kronologi Mencuatnya Isu dan Reaksi Publik

Dinamika perbincangan publik mengenai teori ini berkembang pesat dalam beberapa tahapan berikut:

  1. Penyebaran Pernyataan di Media Sosial: Cuplikan pandangan Ulta Levenia beredar luas di berbagai platform digital, mengklaim bahwa anomali cuaca dan erupsi gunung berapi di Tanah Air tidak terjadi secara alamiah murni, melainkan dipengaruhi gelombang elektromagnetik HAARP.
  2. Respon Kritis Komunitas Ilmiah: Para peneliti kebumian segera merespons pernyataan tersebut untuk meluruskan pemahaman publik agar tidak terjebak dalam kepanikan berbasis kabar keliru.
  3. Sorotan terhadap Integritas Komunikasi Publik: Posisi Ulta sebagai pejabat di lingkungan Bakom RI membuat publik mempertanyakan validitas verifikasi data sebelum sebuah narasi disampaikan ke ruang terbuka.

Fakta Ilmiah: Mengenal HAARP dan Batas Kemampuannya

Sebagai informasi, HAARP merupakan fasilitas penelitian yang berlokasi di Gakona, Alaska, yang dirancang untuk mempelajari lapisan ionosfer—lapisan atmosfer bumi paling atas yang berada pada ketinggian 80 hingga 600 kilometer. Sistem ini memancarkan sinyal radio frekuensi tinggi untuk mengamati interaksi partikel bermuatan listrik dengan atmosfer.

"Secara prinsip fisika, energi gelombang radio yang dipancarkan ke lapisan ionosfer mustahil dapat menembus kerak bumi hingga kedalaman puluhan kilometer untuk menggerakkan kantung magma. Mengaitkan HAARP dengan letusan gunung api adalah lompatan logika yang sama sekali tidak memiliki pijakan ilmiah," tegas salah satu pakar geofisika.

Indonesia Berada di Cincin Api Pasifik

Para ahli menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada tepat di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) serta pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia: Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Aktivitas vulkanik murni terjadi akibat dinamika alamiah, antara lain:

  • Subduksi Lempeng: Pergeseran lempeng bumi yang menyebabkan peleburan batuan menjadi magma cair.
  • Akumulasi Gas dan Tekanan: Naiknya tekanan gas di dapur magma yang mencari celah keluar melalui kawah gunung berapi.
  • Karakter Geologis Endogen: Proses internal bumi yang sudah berlangsung selama jutaan tahun jauh sebelum peradaban teknologi modern lahir.

Penyebaran informasi yang keliru oleh figur publik dinilai dapat mengaburkan kesiapsiagaan bencana yang sebenarnya. Edukasi berbasis mitigasi dan sains kebumian tetap menjadi kunci utama dalam melindungi masyarakat dari ancaman bahaya letusan gunung api di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User