Di sebuah dapur kecil berukuran 3x4 meter di pinggiran Yogyakarta, aroma santan dan roti tawar yang dikukus perlahan memenuhi ruangan. Di balik uap panas yang mengepul, tangan keriput Mbah Sri (72) dengan telaten menuangkan adonan kuning ke dalam loyang. Di sela-sela jarinya, butiran kismis hitam terselip, siap menjadi kejutan manis di setiap suapan. Momen sederhana ini, yang berlangsung setiap Kamis pagi, adalah ritual yang telah ia wariskan kepada cucunya, Aisyah (23), sejak lima tahun lalu.
"Puding ini bukan sekadar makanan, Nak. Ini adalah pelukan hangat dari masa lalu," ujar Mbah Sri sambil tersenyum, matanya berkaca-kaca mengenang ibunya yang dulu mengajarkan resep ini di tengah keterbatasan zaman. Kisah di balik puding santan roti tawar kukus kismis ini bukanlah tentang bahan-bahan mewah, melainkan tentang perjuangan dan cinta yang diwariskan turun-temurun.
Dari Dapur Sederhana, Lahir Kenangan yang Tak Terlupakan
Perjalanan resep ini dimulai pada era 1960-an, ketika Mbah Sri masih berusia belasan tahun. Saat itu, gula dan santan adalah barang langka yang hanya muncul saat hari raya. Ibunya, Mbah Karsih, seorang penjahit yang gigih, selalu mencari cara untuk menyajikan makanan manis bagi keluarganya tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Roti tawar yang sudah agak keras di pasar, dibelinya dengan harga murah, lalu disulap menjadi puding lembut yang mengenyangkan.
"Ibu saya selalu bilang, 'Sri, kita tidak perlu kaya untuk berbagi kebahagiaan. Cukup dengan apa yang ada, kita bisa membuat orang tersenyum,'" kenang Mbah Sri, suaranya bergetar. Filosofi itulah yang membuatnya bertahan hidup di masa sulit, dan kini ia menanamkan nilai yang sama kepada Aisyah. Setiap kali mengukus puding, Mbah Sri selalu bercerita tentang masa-masa ia dan ibunya berbagi satu potong puding untuk lima orang, dengan kismis yang dihitung satu-satu agar adil.
Bagi Aisyah, momen di dapur itu adalah sekolah kehidupan. Ia tidak hanya belajar mencampur santan, telur, dan gula, tetapi juga belajar tentang kesabaran. "Nenek selalu mengajarkan bahwa puding yang enak adalah puding yang dimasak dengan hati. Jika kita terburu-buru, hasilnya tidak akan lembut. Begitu juga hidup, Nak," ujar Aisyah menirukan pesan neneknya. Air mata menggenang di matanya saat mengingat bagaimana neneknya selalu menyisihkan kismis terbesar untuknya, sebagai simbol kasih sayang yang tak pernah diucapkan.
Di Balik Layar: Perjuangan Melawan Lupa dan Waktu
Namun, di balik kehangatan resep ini, ada perjuangan yang tidak terlihat. Sejak dua tahun lalu, Mbah Sri mulai kesulitan mengingat takaran bahan. Terkadang ia lupa sudah berapa sendok gula yang ia masukkan. Aisyah, yang kini bekerja sebagai guru PAUD, harus ekstra sabar membimbing neneknya tanpa membuatnya merasa tidak berguna.
"Ada satu momen yang paling mengharukan. Nenek tiba-tiba menangis karena lupa menambahkan kismis. Ia berkata, 'Apa jadinya aku kalau sudah tidak bisa membuat puding untukmu?' Saya memeluknya dan berkata bahwa yang terpenting bukanlah kismisnya, tetapi kehadirannya," tutur Aisyah sambil menyeka sudut matanya. Sejak saat itu, Aisyah membuat buku catatan kecil berisi resep dengan tulisan tangan neneknya, lengkap dengan coretan-coretan takaran yang sering berubah. Buku itu kini menjadi harta paling berharga di keluarganya.
Perjuangan lain datang dari keterbatasan ekonomi. Untuk mendapatkan santan segar, Mbah Sri harus berjalan kaki satu kilometer ke pasar tradisional setiap Kamis pagi. "Saya tidak mau pakai santan instan. Rasanya beda. Santan segar itu seperti cinta, harus diperas dengan tenaga dan kesabaran," katanya. Aisyah, yang awalnya menawarkan diri untuk membeli santan kemasan, akhirnya mengerti bahwa ritual itu adalah cara neneknya menjaga kenangan ibunya tetap hidup. Setiap perasan kelapa adalah doa, setiap tetes santan adalah air mata kebahagiaan yang ia titipkan untuk generasi penerus.
Inspirasi untuk Bangkit: Puding sebagai Simbol Ketangguhan
Kisah puding santan roti tawar kukus kismis ini tidak berhenti di dapur keluarga. Aisyah, yang terinspirasi oleh kegigihan neneknya, mulai membagikan puding buatan mereka kepada tetangga yang sedang berduka atau sakit. "Saya ingin orang lain merasakan kehangatan yang saya rasakan. Puding ini seperti pelukan, sederhana tetapi mampu menenangkan," jelasnya. Dari sepuluh loyang, mereka menyisihkan lima untuk dibagikan. Aksi kecil ini menggerakkan hati warga sekitar, dan kini beberapa ibu-ibu di kompleksnya mulai belajar membuat puding serupa untuk dijual sebagai usaha sampingan.
"Banyak yang bilang resep ini sederhana, tapi bagi kami, ini adalah simbol ketangguhan. Di setiap gigitan, ada kisah tentang ibu yang berjuang di dapur sempit, tentang nenek yang menahan sakit lutut demi mengaduk adonan, dan tentang cucu yang belajar arti kesabaran," ujar Aisyah dengan mata berbinar. Ia bermimpi suatu hari nanti dapat membuka kafe kecil yang menyajikan puding neneknya, dengan nama "Puding Mbah Sri" sebagai penghormatan. Di kafe itu, ia ingin menggantung foto-foto lama dan menuliskan cerita di balik setiap resep, agar pengunjung tidak hanya menikmati rasa manis, tetapi juga merasakan perjalanan hidup yang penuh air mata dan kebangkitan.
Di akhir wawancara, Mbah Sri menggenggam tangan Aisyah dan berbisik, "Nak, resep ini bukan tentang takaran yang pas. Ini tentang bagaimana kita selalu punya alasan untuk tersenyum, bahkan ketika hidup terasa pahit. Kismis itu, meskipun kecil dan keriput, selalu memberi rasa manis di akhir. Begitulah hidup, selalu ada kejutan manis di ujung perjuangan." Momen mengharukan itu menjadi penutup sempurna dari sebuah kisah yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan jiwa. Puding santan roti tawar kukus kismis, yang tampak sederhana, ternyata menyimpan lautan cinta yang tak pernah kering.
Comments (0)