Oct 12, 2026
entertainment

Kisah di Balik Trik Deodoran untuk Wajah Berminyak

Di sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di kawasan Depok, Jawa Barat, Rani duduk di depan cermin lipat kecil. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Di atas meja, tersusun rapi botol skincare, bedak, ...

Kisah di Balik Trik Deodoran untuk Wajah Berminyak

Di sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di kawasan Depok, Jawa Barat, Rani duduk di depan cermin lipat kecil. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Di atas meja, tersusun rapi botol skincare, bedak, dan satu benda yang mungkin tak biasa tergeletak di antara semua itu: sebuah deodoran roll-on. Ia mengisahkan bahwa benda itu bukan untuk ketiak, melainkan untuk wajahnya yang kembali berminyak hanya satu jam setelah dibersihkan.

"Awalnya saya malu mengakui ini ke teman-teman. Kedengarannya aneh, kan? Deodoran kok buat muka," ujarnya sambil tersenyum kecil. Namun, ia melanjutkan, kebiasaan itu sudah ia jalani hampir dua tahun. Baginya, ini bukan soal tren kecantikan, melainkan soal rasa nyaman yang sederhana namun berarti.

Ketika Minyak Datang Terlalu Cepat

Rani bukan satu-satunya. Di berbagai forum kecantikan daring, kisah serupa bermunculan. Ada yang mengaku kulitnya memproduksi minyak begitu deras sehingga riasan luntur sebelum rapat pagi usai. Ada pula yang mengeluh wajahnya terlihat mengkilap di foto-foto acara keluarga. Dari keluhan-keluhan kecil inilah sebuah kebiasaan unik tumbuh: mengoleskan deodoran—produk yang lazim digunakan untuk menekan keringat dan bau badan—ke area wajah, terutama pada bagian T-zone.

Secara ilmiah, gagasan ini tidak sepenuhnya asal-asalan. Deodoran dan antiperspiran umumnya mengandung senyawa seperti aluminium klorida atau aluminium zirkonium yang bekerja menyempitkan saluran kelenjar keringat. Ketika dioleskan ke kulit, senyawa itu menciptakan lapisan yang menghambat keluarnya cairan. Karena minyak dan keringat di wajah sama-sama diproduksi oleh kelenjar yang saling berkaitan, sebagian orang merasa wajah mereka bertahan lebih lama tanpa kilap.

"Itu bukan solusi resmi, tapi banyak orang menemukannya sendiri lewat coba-coba," kata seorang dokter kulit yang menangani pasien di klinik kecantikan di Jakarta Selatan. Ia menuturkan bahwa pasiennya kerap datang dengan pertanyaan serupa: apakah boleh menggunakan deodoran di wajah? Jawabannya, menurut dia, tidak sesederhana ya atau tidak.

"Kulit wajah itu jauh lebih tipis dan sensitif dibanding kulit ketiak. Apa yang aman di satu bagian tubuh belum tentu aman di bagian lain. Saya selalu bilang, jangan jadikan wajah sebagai tempat bereksperimen tanpa pemahaman," ujarnya dengan nada hati-hati.

Antara Kebutuhan dan Kehati-hatian

Di balik tren ini, ada cerita tentang perempuan dan laki-laki yang berjuang melawan rasa tidak percaya diri. Sebut saja Dimas, seorang karyawan swasta yang mengaku pernah menghindari presentasi karena wajahnya selalu terlihat berminyak di depan klien. Ia mulai mencoba deodoran setelah membaca pengalaman orang lain. Hasilnya, kata dia, cukup membantu, meski tak sepenuhnya menghilangkan masalah.

"Saya tahu ini bukan jalan pintas yang sempurna. Tapi setidaknya saya berani menatap lawan bicara tanpa terus memikirkan kilap di dahi saya," kisahnya. Ada nada lega dalam suaranya, sekaligus getir yang menyentuh—tentang bagaimana penampilan bisa begitu memengaruhi rasa percaya diri seseorang.

Namun para ahli mengingatkan bahwa jalan ini menyimpan risiko. Aluminium pada deodoran bisa memicu iritasi, kemerahan, hingga munculnya jerawat pada kulit yang rentan. Selain itu, kandungan pewangi dan alkohol dapat mengeringkan lapisan pelindung kulit. Bila dilakukan terus-menerus, dikhawatirkan justru merusak keseimbangan alami wajah dan memicu produksi minyak berlebih sebagai kompensasi.

Beberapa orang yang mencoba akhirnya berhenti setelah kulit mereka perih. Ada pula yang tetap bertahan karena tak menemukan alternatif yang cocok. Inilah yang membuat persoalan ini menarik: ia bukan sekadar soal produk, melainkan tentang perjalanan panjang seseorang mencari rasa nyaman dengan kulitnya sendiri.

Belajar Menerima Kulit Sendiri

Rani kini mulai mengurangi kebiasaannya. Ia beralih ke kertas minyak dan pembersih wajah yang lebih lembut setelah kulitnya sempat memerah. "Saya belajar bahwa kulit ini bagian dari diri saya. Tidak perlu dilawan terus," katanya pelan.

Kisah-kisah seperti ini mengingatkan bahwa di balik tren kecantikan yang kerap terdengar sepele, tersimpan perjuangan personal yang nyata. Ada air mata kecil saat melihat cermin, ada mimpi untuk tampil percaya diri, dan ada keberanian untuk bangkit mencoba cara yang lebih bijak.

Bagi mereka yang masih penasaran dengan trik deodoran, para ahli menyarankan untuk berkonsultasi lebih dulu. Kulit setiap orang berbeda, dan apa yang berhasil pada satu orang belum tentu aman bagi yang lain. Yang terpenting, setiap orang berhak merasa nyaman dengan wajahnya—tanpa harus menyakiti dirinya sendiri.

Di sudut kamar kos itu, Rani menutup cerminnya perlahan. Hari masih panjang, dan ia melangkah keluar dengan wajah yang, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia terima apa adanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User