Sep 01, 2026
entertainment

Kisah di Balik Tahu Aci Goreng yang Renyah dan Penuh Kenangan

Di sebuah gang sempit di pesisir utara Jawa Tengah, asap mengepul dari penggorengan tua yang sudah lapuk dimakan waktu. Seorang perempuan paruh baya bernama Mbah Sutinah menguleni adonan tepung tapiok...

Kisah di Balik Tahu Aci Goreng yang Renyah dan Penuh Kenangan

Di sebuah gang sempit di pesisir utara Jawa Tengah, asap mengepul dari penggorengan tua yang sudah lapuk dimakan waktu. Seorang perempuan paruh baya bernama Mbah Sutinah menguleni adonan tepung tapioka dengan kedua tangannya yang sudah keriput. Setiap kali ia meremas adonan itu, ada cerita yang terkubur di dalamnya—cerita tentang perjuangan, tentang warisan, dan tentang secuil tanah kelahiran yang tidak pernah ia tinggalkan.

Tahu Aci. Mungkin bagi sebagian orang, nama ini sekadar makanan ringan yang bisa ditemukan di pinggir jalan. Tapi bagi Mbah Sutinah dan ribuan penjual lainnya di Kota Tegal, tahu aci adalah hidup. Adalah warisan yang diturunkan turun-temurun, sebuah resep sederhana yang menyimpan rasa hormat pada leluhur dan kecintaan pada tanah kelahiran.

Mengenal Lebih Dekat Tahu Aci Khas Tegal

Tahu Aci adalah perpaduan unik antara tahu yang digoreng dengan lapisan adonan tepung aci yang kenyal dan renyah. Berbeda dari jajanan pada umumnya, tekstur tahu aci memiliki dua lapisan yang berbeda dalam satu gigitan—bagian luarnya renyah seperti kerupuk, sementara bagian dalamnya lembut dan kenyal seperti cimplung khas daerah pantura.

Proses pembuatan tahu aci dimulai dari memilih tahu putih yang tepat. Bukan tahu yang terlalu tua, bukan pula yang terlalu muda. Tahu yang pas akan memberikan tekstur lembut di dalam sementara lapisan acian yang melingkupinya memberikan sensasi renyah yang tak terlupakan. Mbah Sutinah selalu memilih tahu dari pengrajin tahu tradisional di desanya, yang masih menggunakan ragi alami dan air sumur tua.

"Kalau tahu-nya tidak cocok, seluruh rasa akan berbeda," kata Mbah Sutinah sambil tersenyum. "Saya sudah tiga puluh tahun membuat tahu aci, dan masih belajar setiap hari. Resep ini tidak pernah benar-benar selesai dipelajari."

Perjalanan Resep yang Diwariskan dari Generasi ke Generasi

Resep tahu aci yang kita kenal sekarang sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Kala itu, para pedagang di pesisir utara bereksperimen dengan tepung dari pohon singkong—yang mereka sebut aci—sebagai cara untuk memanfaatkan bahan pangan lokal yang melimpah. Dari eksperimen sederhana itulah, lahir sebuah kuliner yang kini menjadi identitas kuliner Kota Tegal.

Mbah Sutinah mendapatkan resep ini dari ibunya, yang mendapatkannya dari sang ibu juga. Tiga generasi perempuan dalam satu keluarga, terikat oleh satu piring tahu aci yang selalu hadir di setiap perayaan. Ada sesuatu yang sakral dalam proses pembuatan ini—setiap adonan yang diuleni, setiap tahu yang digoreng, adalah penghormatan terhadap mereka yang telah mendahului.

Saat ini, anak perempuan Mbah Sutinah, bernama Siti, mulai ikut membantu di warung kecil mereka. Dengan tangan yang masih segar, Siti membawa energi baru dalam cara memasak. Ia mulai bereksperimen dengan topping tambahan—mungkin sedikit daun bawang, atau taburan ikan teri kering—tanpa meninggalkan resep asli yang sudah teruji puluhan tahun.

Momen Mengharukan di Balik Setiap Piring Tahu Aci

Ada satu momen yang tidak pernah bisa dilupakan Mbah Sutinah. Beberapa tahun lalu, seorang pria paruh baya datang ke warungnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menceritakan bahwa ayahnya, puluhan tahun lalu, adalah pelanggan setia warung ini. Pria itu telah berpindah ke Jakarta dan hidup dalam kesibukan metropolis. Tapi satu hari, ia kembali ke Tegal—bukan untuk urusan bisnis, melainkan untuk merasakan lagi rasa tahu aci yang sama dengan yang pernah dimakan bersama ayahnya.

"Saya tidak menyangka, makanan sederhana ini bisa membuat seseorang menangis," kenang Mbah Sutinah dengan suara bergetar. "Tapi saya mengerti. Rasa itu bukan sekadar rasa. Itu adalah kenangan. Itu adalah rumah."

Momen seperti itu yang membuat Mbah Sutinah tidak pernah sekalipun berpikir untuk berhenti berjualan. Bagi dia, setiap piring tahu aci yang keluar dari penggorengannya adalah sebuah jembatan emosional—menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menghubungkan satu generasi dengan generasi lainnya.

Di era serba cepat ini, di mana makanan modern dan franchise besar mendominasi setiap sudut kota, tahu aci khas Tegal tetap bertahan. Ia tidak pernah mengikuti tren. Ia tetap sederhana, tetap autentik, tetap membawa kehangatan yang sama seperti puluhan tahun lalu. Dan selama ada orang-orang seperti Mbah Sutinah yang menjaga resep ini dengan penuh cinta, tahu aci akan terus ada—menjadi saksi bisu perjalanan panjang kuliner Nusantara yang tak pernah lekang oleh waktu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User