Aug 25, 2026
entertainment

Kisah di Balik Sebungkus Buntil: Cinta dan Kenangan yang Direbus

Uap tipis menari-nari di atas tungku kayu yang menyala pelan. Di sudut dapur mungil itu, seorang perempuan paruh baya duduk bersila di depan cobek batu. Jemarinya yang mulai keriput dengan cekatan men...

Kisah di Balik Sebungkus Buntil: Cinta dan Kenangan yang Direbus

Uap tipis menari-nari di atas tungku kayu yang menyala pelan. Di sudut dapur mungil itu, seorang perempuan paruh baya duduk bersila di depan cobek batu. Jemarinya yang mulai keriput dengan cekatan menyobek daun singkong muda, meletakkannya di atas selembar daun yang lebih lebar, lalu menggulungnya dengan ketelitian seorang perajin. Di sampingnya, adonan tempe yang telah dihaluskan bersama kelapa parut dan bumbu rempah mengeluarkan aroma yang langsung membawa ingatan pada masa lalu—masa ketika dapur selalu menjadi tempat paling hangat di rumah.

Dialah Mbah Sarmi, 67 tahun, penjaga resep buntil daun singkong isi tempe yang telah tiga generasi diwariskan di keluarganya. Setiap gulungan daun yang ia buat bukan sekadar makanan, melainkan sebuah cerita panjang tentang perjuangan, ketulusan, dan cinta yang dibungkus rapat dalam sehelai daun singkong.

Jejak Rasa dari Dapur Tanah Liat

Mbah Sarmi mengisahkan, resep ini pertama kali ia dapat dari ibunya saat usianya baru menginjak delapan tahun. Kala itu, keluarganya hidup dalam kesederhanaan di lereng Gunung Wilis. Singkong dan tempe adalah dua bahan yang paling mudah ditemukan, tetapi mengolahnya menjadi hidangan istimewa membutuhkan sentuhan tangan dan hati.

"Ibu saya dulu bilang, kalau membuat buntil itu seperti menyimpan doa. Setiap lipatan daun adalah harapan, setiap remasan bumbu adalah rasa syukur. Jadi kalau bikinnya sambil mengeluh, rasanya nanti bisa berubah pahit," kenang Mbah Sarmi sambil tersenyum, menerawang pada sosok yang telah tiada. Kini, kenangan itu ia hidupkan kembali setiap kali tangannya mulai bekerja.

Di balik setiap buntil, ada kisah tentang ketangguhan yang tak memerlukan banyak kata. Daun singkong yang sering dianggap biasa, justru menjadi wadah yang melindungi isinya selama proses perebusan panjang. Ia menyerap bumbu, menjaga kelembapan, dan memberikan cita rasa khas yang tak tergantikan. Seperti itulah Mbah Sarmi memandang hidup—sederhana di luar, penuh makna di dalam.

Tangan yang Tak Pernah Berhenti Menganyam Harapan

Proses pembuatan buntil di tangan Mbah Sarmi adalah sebuah ritual yang nyaris sakral. Dini hari, saat embun masih menggantung di ujung daun, ia sudah berada di kebun kecil di belakang rumah. Memilih daun singkong yang tepat tidak bisa sembarangan—harus yang muda, tetapi cukup kuat untuk menahan isian, dengan warna hijau segar yang menjanjikan rasa gurih alami. Sementara itu, tempe yang digunakan bukan tempe kemasan, melainkan tempe buatan sendiri dari kedelai lokal, difermentasi dengan ragi warisan.

Semua bumbu diulek manual. Lengkuas, kencur, cabai, bawang merah, bawang putih, dan sedikit terasi bakar—semua dihancurkan di atas cobek batu yang permukaannya sudah licin oleh puluhan tahun pemakaian. "Ini bukan soal lebih enak atau tidak. Tapi ada energi yang beda kalau tangan kita sendiri yang menghaluskan. Kayak kita ngobrol sama makanan," ujarnya. Setelah bumbu halus, ia mencampurnya dengan tempe yang sudah dikukus dan ditumbuk kasar, lalu menambahkan kelapa parut setengah tua. Adonan itu kemudian dibungkus dengan daun singkong, diikat dengan tali dari serat batang pisang, dan disusun rapi di dalam panci besar.

Merebus buntil membutuhkan kesabaran. Api kecil, air santan yang perlahan menyusut, dan aroma yang semakin kuat menandakan hidangan ini sedang menuju kesempurnaan. Bagi Mbah Sarmi, menunggu adalah bagian dari proses yang mengajarkan bahwa sesuatu yang baik tidak bisa terburu-buru.

Sebungkus Buntil, Seribu Cerita

Kini, setiap pagi Mbah Sarmi membawa sekitar tiga puluh bungkus buntil buatannya ke pasar desa. Ia menjualnya dengan harga yang sangat terjangkau—hanya cukup untuk membeli bahan baku dan sedikit tambahan. Baginya, ini bukan tentang keuntungan, melainkan tentang memastikan bahwa generasi sekarang masih bisa mencicipi hidangan yang dulu menemani masa kecil orang tua mereka.

Para pembelinya punya cerita masing-masing. Ada seorang guru SD yang selalu membeli dua bungkus untuk bekal mengajar, mengenang ibunya yang dulu juga menyiapkan buntil sebelum berangkat kerja. Ada mahasiswa rantau yang memesan khusus karena rindu masakan neneknya di kampung. Bahkan, seorang pengusaha sukses dari Jakarta kadang singgah saat pulang mudik, membeli seluruh dagangan Mbah Sarmi untuk dibagikan ke sanak saudara.

"Saya tidak menyangka, sebungkus buntil bisa jadi jembatan hati. Kadang ada yang menangis waktu gigit pertama. Katanya, rasanya persis seperti buatan almarhumah ibunya. Di situ saya merasa, tugas saya bukan cuma masak, tapi juga menjaga ingatan orang-orang tetap hidup," tutur Mbah Sarmi dengan mata berkaca-kaca.

Menghidupkan Kenangan Lewat Sehelai Daun

Saat ini, Mbah Sarmi tengah melatih cucu perempuannya yang berusia tiga belas tahun. Setiap akhir pekan, dapur kecil itu kembali dipenuhi tawa dan cerita. Sang cucu belajar tidak hanya teknik menggulung daun, tetapi juga filosofi di balik setiap langkah. Mbah Sarmi ingin memastikan, ketika ia nanti tak lagi di sini, ada seseorang yang melanjutkan kisah ini.

Di era yang serba instan, buntil Mbah Sarmi adalah pengingat bahwa makanan tradisional menyimpan lebih dari sekadar rasa. Ia adalah arsip hidup, penghubung antargenerasi, dan bukti bahwa cinta bisa ditularkan melalui hal-hal yang paling sederhana. Sebungkus buntil mungkin hanya bertahan dua hari di suhu ruang. Tapi kenangan dan pelajaran yang dibawanya, akan terus awet melewati waktu.

Malam itu, sebelum menutup dapurnya, Mbah Sarmi memandangi sisa-sisa kayu bakar yang masih berpijar. "Selama masih ada yang ingat, selama itu pula masakan ini hidup. Buntil ini tak akan pernah basi, Nak. Karena dia direbus dengan hati," bisiknya lirih, seolah berbicara pada angin yang akan membawa pesannya ke masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User