Oct 10, 2026
entertainment

Kisah di Balik Layar Inherit, Teror Warisan yang Menghantui Jakarta

Di sebuah ruang sunyi yang hanya diterangi lampu meja, Banjong Pisanthanakun menatap layar monitor dengan mata lelah. Sudah tiga malam ia begadang, menyusun ulang adegan demi adegan. Bukan untuk menak...

Kisah di Balik Layar Inherit, Teror Warisan yang Menghantui Jakarta

Di sebuah ruang sunyi yang hanya diterangi lampu meja, Banjong Pisanthanakun menatap layar monitor dengan mata lelah. Sudah tiga malam ia begadang, menyusun ulang adegan demi adegan. Bukan untuk menakuti penonton dengan lompatan mendadak, melainkan untuk mengajak mereka merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam: ketakutan yang diwariskan dari generasi ke generasi. "Saya tidak ingin membuat orang sekadar kaget," ujarnya suatu ketika, "Saya ingin mereka pulang dengan perasaan gelisah yang tidak bisa dijelaskan."

Perasaan itulah yang akan dibawa Banjong ke Jakarta. Film terbarunya, Inherit, dijadwalkan tayang dalam gelaran Jakarta World Cinema 2026. Kabar ini disambut hangat oleh para pencinta sinema tanah air, terutama mereka yang tumbuh dengan karya-karya legendarisnya. Nama Banjong bukan nama asing. Lewat Shutter, ia pernah membuat penonton Indonesia enggan menyalakan kamera ponsel di malam hari. Kini, ia kembali dengan cerita yang lebih personal dan menyentuh.

Perjalanan Panjang Sebuah Warisan

Inherit bukan proyek yang lahir dalam semalam. Banjong mengisahkan bahwa ide film ini berakar dari pengalaman pribadinya saat membersihkan rumah mendiang neneknya di provinsi utara Thailand. Di antara tumpukan foto lama dan perabot berdebu, ia menemukan buku catatan yang penuh tulisan tangan. "Ada satu halaman yang membuat saya terdiam," kenangnya. "Nenek saya menulis tentang sebuah perjanjian keluarga yang tidak pernah dibicarakan siapa pun. Saya merasa seperti membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup."

Momen itu menjadi benih yang tumbuh menjadi skenario. Banjong menghabiskan hampir dua tahun mewawancarai kerabatnya sendiri, menggali cerita-cerita yang selama ini terkubur rapat. Ia menyadari bahwa setiap keluarga menyimpan rahasia yang diwariskan bukan lewat benda, melainkan lewat rasa takut, rasa bersalah, dan harapan yang tak terucap. "Warisan paling berat bukan rumah atau tanah," tuturnya dengan suara pelan, "tapi luka yang tidak pernah selesai disembuhkan."

Pendekatan personal ini membuat Inherit berbeda dari film horor arus utama. Banjong sengaja menahan diri dari sensasi berlebihan. Ia lebih memilih membangun ketegangan lewat dialog yang tajam dan keheningan yang menusuk. "Horor sejati ada di dalam kepala kita," katanya. "Saya hanya menyediakan cermin."

Rumah Tua, Rahasia Baru

Dalam Inherit, penonton akan dibawa ke sebuah rumah tua terpencil yang diwariskan kepada seorang perempuan muda. Ia datang dengan niat sederhana: membereskan properti keluarganya dan melanjutkan hidup. Namun, dinding-dinding rumah itu menyimpan lebih dari sekadar kenangan. Setiap sudut, setiap lemari, setiap cermin seolah berbicara tentang sesuatu yang belum selesai.

Banjong menggambarkan proses syuting sebagai pengalaman yang emosional bagi seluruh kru. Lokasi syuting yang jauh dari kota membuat mereka hidup bersama selama berpekan-pekan, seperti keluarga besar yang saling bergantung. "Ada malam ketika kami semua duduk di beranda, tidak ada yang bicara," ujarnya. "Kami hanya mendengar angin dan jangkrik. Saat itu saya tahu, atmosfer itulah yang saya cari."

Aktris utama yang memerankan tokoh perempuan tersebut mengaku sempat diliputi keraguan. Ia harus menanggung beban emosional peran yang menuntut luka batin mendalam. "Ada satu adegan di mana saya harus menangis selama lima belas menit tanpa henti," kenangnya. "Setelah syuting selesai, saya tidak bisa berhenti gemetar. Banjong menghampiri saya, memeluk saya, dan berkata bahwa itu sudah cukup. Saya menangis lagi, tapi kali ini karena lega."

Momen-momen seperti inilah yang membuat Inherit terasa hidup. Bukan karena efek visual yang mahal, melainkan karena setiap bingkai dibangun dengan kesungguhan dan cinta. Banjong tidak ingin penonton hanya menonton; ia ingin mereka merasakan denyut nadi setiap karakter.

Jakarta dan Getaran yang Sama

Bagi Banjong, Jakarta memiliki tempat istimewa. Ia masih mengingat reaksi penonton Indonesia saat Shutter tayang bertahun-tahun lalu. "Mereka berteriak, menutup mata, lalu tertawa karena malu," kenangnya sambil tersenyum. "Itu reaksi paling jujur yang pernah saya lihat. Saya tahu, di sini penonton tidak takut menunjukkan emosi."

Kehadiran Inherit di Jakarta World Cinema 2026 bukan sekadar penayangan biasa. Ini adalah pertemuan antara dua budaya yang sama-sama menghargai cerita keluarga dan hal-hal yang tak terlihat. Banjong berharap penonton Indonesia dapat menemukan cerminan kisah mereka sendiri dalam film ini. "Setiap orang punya warisan yang tidak selalu indah," katanya. "Tapi dengan menatapnya, kita bisa mulai memahami diri kita sendiri."

Ia juga menyimpan harapan sederhana. Setelah menonton, ia ingin orang-orang menelepon ibu mereka, mengunjungi kakek nenek, atau sekadar membuka album foto lama. "Jangan tunggu sampai rumah itu kosong dan kalian hanya punya penyesalan," pesannya dengan mata berkaca-kaca. "Karena warisan sejati adalah waktu yang kita habiskan bersama orang-orang yang kita cintai."

Di balik gemuruh ketakutan yang ia rancang dengan cermat, Banjong sesungguhnya sedang menulis surat cinta untuk keluarga, untuk kenangan, dan untuk keberanian menghadapi masa lalu. Inherit mungkin akan membuat penonton menahan napas, tetapi pada akhirnya, ia juga akan membuat mereka merenung. Dan itulah warisan yang paling berharga dari seorang pendongeng seperti Banjong Pisanthanakun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User