Aug 25, 2026
entertainment

Kisah Cinta Orfeus dan Euridice Buka SIPFest 2026 di Salihara

Di panggung Teater Salihara yang temaram, seorang lelaki berdiri mematung. Tangannya terulur ke arah bayangan yang perlahan menghilang ditelan kegelapan. Malam itu, ratusan pasang mata menjadi saksi m...

Kisah Cinta Orfeus dan Euridice Buka SIPFest 2026 di Salihara

Di panggung Teater Salihara yang temaram, seorang lelaki berdiri mematung. Tangannya terulur ke arah bayangan yang perlahan menghilang ditelan kegelapan. Malam itu, ratusan pasang mata menjadi saksi momen paling mengharukan dalam mitologi Yunani: detik-detik ketika Orfeus menoleh ke belakang, lalu kehilangan Euridice, kekasihnya, untuk selamanya. Dari kursi penonton, terdengar isak tertahan. Seorang perempuan di barisan depan tampak menyeka sudut matanya dengan ujung selendang.

Pementasan kisah pilu Orfeus dan Euridice itu menjadi pembuka Salihara International Performing Arts Festival (SIPFest) 2026, festival seni pertunjukan dua tahunan yang digelar Komunitas Salihara. Selama sebulan penuh, dari 1 hingga 30 Agustus 2026, kawasan Salihara di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, berubah menjadi rumah bagi para seniman dan pencinta seni dari berbagai penjuru.

Mitos Kuno yang Menyentuh Luka Masa Kini

Kisah Orfeus, sang pemusik yang nekat turun ke dunia bawah demi merebut kembali kekasihnya dari kematian, bukan sekadar dongeng berusia ribuan tahun. Di tangan para pemain, kisah itu menjelma menjadi cermin bagi siapa pun yang pernah kehilangan, sekaligus berjuang melawan keinginan untuk terus menoleh ke masa lalu. Musik yang mengalun sendu, gerak tubuh yang patah-patah, dan tata cahaya yang murung merangkum satu pertanyaan universal: seberapa kuat kita mempercayai cinta ketika keraguan datang menghampiri?

"Setiap kali memerankan adegan menoleh itu, dada saya selalu sesak," ujar pemeran Orfeus seusai pementasan, suaranya bergetar menahan emosi. "Karena kita semua pernah menjadi Orfeus. Kita semua pernah ingin menoleh ke belakang, kepada seseorang yang sudah tidak bisa kembali."

Di Balik Layar: Latihan, Disiplin, dan Air Mata

Momen mengharukan di atas panggung itu tidak lahir dengan mudah. Di balik layar, para pemain menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berlatih, mengulang adegan demi adegan hingga tubuh mereka hafal bukan hanya gerak, melainkan juga rasa sakit yang hendak disampaikan. Ada penari yang harus menahan tangis setiap kali musik pembuka dimainkan. Ada pemusik yang sengaja berlatih dalam ruangan gelap agar bisa merasakan kehilangan yang dialami Orfeus.

"Kami memilih kisah ini sebagai pembuka karena festival selalu dimulai dari sesuatu yang jujur dan manusiawi," kata salah seorang pengarah acara. "Orfeus mengajarkan bahwa cinta sejati bukan soal memiliki, melainkan keberanian untuk percaya, bahkan ketika kita tidak bisa melihat apa yang ada di belakang kita."

Sebulan Penuh Perayaan Seni di Salihara

Pembukaan yang menguras emosi itu hanyalah permulaan. Sebagai festival dwitahunan, SIPFest 2026 menghadirkan rangkaian pertunjukan teater, tari, dan musik lintas negara, diselingi diskusi serta lokakarya yang terbuka bagi publik. Selama tiga puluh hari, panggung-panggung Salihara akan terus hidup, mempertemukan karya-karya dari dalam dan luar negeri dalam satu atap yang hangat dan terbuka.

Bagi para penonton, festival ini lebih dari sekadar agenda kesenian. "Saya datang karena penasaran, tapi pulang dengan hati yang penuh," tutur seorang penonton muda yang mengaku baru pertama kali menyaksikan pertunjukan di Salihara. "Rasanya seperti diajak berbincang tentang kehilangan, tapi dengan cara yang lembut."

Malam itu, ketika lampu panggung kembali menyala dan tepuk tangan membahana, banyak penonton enggan segera berdiri dari kursinya. Mungkin mereka sedang merawat sesuatu yang sederhana namun berharga: kesadaran bahwa kisah cinta yang paling pilu sekalipun bisa menjadi sumber kekuatan. Dan di Salihara, selama sebulan ke depan, kisah-kisah semacam itu akan terus dinyalakan, satu demi satu, hingga akhir Agustus nanti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User