Aug 25, 2026
entertainment

Kisah Cinta Aaliyah Massaid dan Thariq Halilintar yang Menyentuh Hati

Sore itu, cahaya keemasan menembus jendela sebuah rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan. Aaliyah Massaid duduk di sudut ruangan, memandangi sebuah foto lama dalam bingkai kayu yang warnanya mulai...

Kisah Cinta Aaliyah Massaid dan Thariq Halilintar yang Menyentuh Hati

Sore itu, cahaya keemasan menembus jendela sebuah rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan. Aaliyah Massaid duduk di sudut ruangan, memandangi sebuah foto lama dalam bingkai kayu yang warnanya mulai memudar. Di foto itu, mendiang ayahnya tersenyum lebar. Dari kejauhan, Thariq Halilintar memperhatikan istrinya dalam diam, lalu menghampiri perlahan dan menggenggam tangannya tanpa suara. Tidak ada kata yang terucap, tetapi genggaman itu mengisahkan segalanya — tentang rindu yang tak pernah selesai, dan tentang cinta yang hadir untuk menemani, bukan menggantikan.

Potret kebersamaan keduanya yang beredar luas di media sosial memang selalu berhasil menyentuh hati banyak orang. Namun, di balik layar sorot kamera dan jutaan pasang mata yang mengagumi, tersimpan sebuah perjalanan panjang yang jauh dari kata instan. Kisah Aaliyah dan Thariq adalah kisah tentang dua anak muda yang berjuang menemukan pijakan, saling menguatkan, dan berjalan beriringan menuju mimpi yang sama.

Perjalanan Cinta yang Tumbuh dari Ketulusan

Sebelum menjadi sepasang suami istri, Aaliyah dan Thariq mengawali semuanya dari pertemanan yang hangat. Keduanya sama-sama tumbuh di keluarga besar yang dikenal publik, sama-sama memahami beratnya hidup di bawah sorotan, dan sama-sama merindukan sosok yang bisa diajak menjadi diri sendiri. Dari kesamaan itulah, benih-benih cinta tumbuh perlahan — tanpa gembar-gembor, tanpa panggung yang sengaja diciptakan.

Ketika akhirnya hubungan mereka terbuka ke publik, badai komentar pun datang silih berganti. Ada yang mendukung, ada pula yang meragukan. Namun keduanya memilih jalan sunyi yang jarang diambil pasangan muda seusianya: menjawab keraguan dengan konsistensi. Thariq setia mendampingi Aaliyah di berbagai momen penting, sementara Aaliyah menjadi pendengar paling sabar bagi segala mimpi sang kekasih. Sedikit demi sedikit, waktu membuktikan bahwa rasa itu nyata.

"Aku tidak mencari yang sempurna. Aku hanya ingin pulang ke pelukan yang membuatku tenang. Dan aku menemukannya," ujar Aaliyah dalam suatu kesempatan, dengan mata yang berkaca-kaca.

Air Mata, Restu, dan Sosok Ayah di Balik Layar

Bagi Aaliyah, perjalanan menuju pelaminan bukan sekadar urusan dua hati. Ada satu kursi kosong yang selalu terasa di setiap momen besarnya: kursi untuk sang ayah, Adjie Massaid, yang berpulang ketika Aaliyah masih belia. Kehilangan itu membentuknya menjadi perempuan yang kuat, tetapi juga menyimpan rindu yang dalam dan tak pernah benar-benar usai.

Di hari pernikahannya, momen mengharukan itu tak terbendung. Ketika ijab kabul diucapkan, air mata Aaliyah jatuh perlahan — bukan karena sedih, melainkan karena ia tahu, di suatu tempat yang tak terlihat, ayahnya pasti tersenyum bangga. Sang ibu, Reza Artamevia, serta Angelina Sondakh yang selama ini menjadi sosok ibu sambung penuh kasih, turut menyeka air mata menyaksikan putri kesayangan mereka melangkah ke babak baru kehidupan.

Thariq sendiri memahami betul beban emosional yang dibawa istrinya. Ia tidak pernah berusaha mengisi kekosongan yang ditinggalkan mendiang Adjie Massaid. Sebaliknya, ia memilih berdiri di samping Aaliyah, menjaga ingatan itu tetap hidup dengan cara yang paling lembut — mendengarkan ketika rindu itu datang, dan memeluk ketika kata-kata tak lagi cukup.

"Mencintai dia berarti mencintai seluruh ceritanya. Termasuk rindu yang ia bawa sejak lama," tutur Thariq dengan suara bergetar.

Membangun Mimpi dalam Kesederhanaan

Kini, setelah resmi menjadi pasangan suami istri, Aaliyah dan Thariq justru memilih hidup yang jauh dari kesan glamor. Di tengah kesibukan masing-masing — Thariq dengan dunia kreatifnya dan Aaliyah dengan kariernya di industri hiburan — keduanya tetap menyempatkan hal-hal kecil: makan malam berdua di dapur, beribadah bersama, hingga sekadar berbagi cerita sebelum tidur. Bagi mereka, kemewahan bukanlah tujuan; kebersamaanlah yang menjadi rumah.

Bagi banyak anak muda yang mengikuti kisah mereka, pasangan ini menjadi inspirasi bahwa cinta yang dewasa tidak selalu harus riuh. Ia bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana: sebuah genggaman tangan ketika salah satu sedang rapuh, sebuah pelukan setelah hari yang panjang, dan kesediaan untuk terus bangkit bersama ketika hidup sedang tidak mudah.

Di sudut ruangan yang tak seberapa besar itu, foto sang ayah masih terpajang rapi. Aaliyah kini tak lagi memandanginya sendirian. Ada tangan lain yang menggenggamnya, ada bahu tempatnya bersandar, dan ada masa depan yang sedang mereka rajut berdua — perlahan, tulus, dan penuh cahaya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User