Aug 25, 2026
entertainment

Kisah Ardhito Pramono Gugat Sony Music demi Royalti yang Adil

Di sebuah ruang tamu sederhana di Jakarta Selatan, di sela tumpukan piringan hitam dan gitar akustik yang menggantung di dinding, Ardhito Pramono pernah duduk lama memutar ulang lagu-lagu yang ia tuli...

Kisah Ardhito Pramono Gugat Sony Music demi Royalti yang Adil

Di sebuah ruang tamu sederhana di Jakarta Selatan, di sela tumpukan piringan hitam dan gitar akustik yang menggantung di dinding, Ardhito Pramono pernah duduk lama memutar ulang lagu-lagu yang ia tulis lebih dari satu dekade lalu. Malam itu, di balik layar karier yang tampak mulus, tumbuh kegelisahan yang tak lagi bisa ia pendam: karya yang lahir dari air mata, mimpi, dan perjuangan masa mudanya, ke mana hasilnya selama ini? Dari kegelisahan itulah lahir keputusan besar yang kemudian mengguncang industri musik Tanah Air — menggugat label yang bertahun-tahun menaungi perjalanan kariernya.

Perjalanan Seorang Pencipta yang Tak Pernah Berhenti Bermimpi

Nama Ardhito Pramono bukan nama asing di telinga pecinta musik Indonesia. Penyanyi sekaligus penulis lagu kelahiran 1995 itu dikenal lewat sentuhan musik jazz, soul, dan pop yang hangat, dengan lirik-lirik sederhana namun menyentuh. Lagu-lagu seperti “Bitterlove” dan “Here We Go Again / Cerita Singkat” sempat melekat di kepala banyak orang, mengiringi momen jatuh cinta, patah hati, hingga perjalanan pulang di sore hari.

Namun di balik gemerlap itu, mengisahkan perjalanan Ardhito berarti juga berbicara tentang kerja keras yang jauh dari sorotan. Ia menulis, mengaransemen, dan merekam sendiri banyak karyanya sejak masa indie, sebelum akhirnya bergabung dengan label besar. Setiap lagu baginya bukan sekadar produk, melainkan potongan kisah hidup yang ia pertaruhkan secara utuh.

Ketika Hasil Karya Tak Pulang ke Rumah Penciptanya

Persoalan berawal dari satu hal yang sederhana namun fundamental: royalti. Sebagai pencipta lagu, Ardhito memiliki hak ekonomi atas karyanya. Setiap kali lagunya diputar, diunduh, atau digunakan, ia seharusnya menerima bagian yang adil. Namun belakangan, ia merasa bagian itu tidak sebanding dengan apa yang telah ia berikan.

Gugatan pun dilayangkan. Ardhito resmi menggugat Sony Music Entertainment Indonesia di pengadilan niaga Jakarta. Dalam gugatannya, ia mempersoalkan pembagian royalti yang ia nilai tidak adil serta meminta transparansi atas laporan penghasilan dari karya-karyanya. Baginya, ini bukan sekadar soal uang, melainkan soal harga diri seorang pencipta.

Keputusan untuk menempuh jalur hukum bukanlah hal yang mudah. Menggugat label yang pernah membesarkan namanya berarti menghadapi risiko besar — hubungan yang retak, masa depan yang tak menentu, bahkan celaan dari sebagian orang. Tetapi Ardhito memilih bangkit dan memperjuangkan apa yang ia yakini benar. Ia menegaskan bahwa perjuangan ini ia lakukan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh pencipta lagu di Indonesia yang sering kali berada di posisi lemah ketika berhadapan dengan industri.

Menggetarkan Industri Musik Indonesia

Kabar gugatan itu menyebar cepat dan menjadi perbincangan hangat di kalangan musisi maupun pencinta musik. Banyak rekan sejawat yang menyampaikan dukungan, karena kasus ini membuka diskusi yang selama ini jarang tersentuh: seberapa adil pembagian royalti di industri musik kita?

Bagi banyak musisi muda, kasus ini menjadi semacam pelajaran sekaligus inspirasi. Mereka mulai berani bertanya, menuntut kejelasan kontrak, dan mempelajari hak-hak mereka sebagai pencipta. Momen mengharukan terjadi ketika sederet nama besar di industri musik bersuara mendukung langkah Ardhito, menunjukkan bahwa persoalan ini menyentuh hampir semua orang yang berkarya di belakang panggung.

Di sisi lain, kasus ini juga menjadi pengingat bahwa industri musik tidak hanya berputar di sekitar label dan platform digital, tetapi juga bergantung pada manusia-manusia di baliknya — para penulis lagu yang menorehkan perasaan mereka menjadi nada dan kata. Tanpa mereka, tak akan ada lagu yang kita nyanyikan setiap hari.

Pelajaran yang Meninggalkan Bekas

Terlepas dari bagaimana persidangan berjalan, kisah Ardhito Pramono telah meninggalkan bekas yang dalam. Ia mengajarkan bahwa keberanian untuk melawan ketidakadilan, sekecil apa pun bentuknya, bisa dimulai dari satu keputusan sederhana. Bahwa seorang seniman tidak harus selalu pasrah menerima keadaan, tetapi bisa berdiri tegak memperjuangkan haknya.

Air mata, kerja keras, dan mimpi yang ia tuangkan dalam lagu-lagunya kini menemukan makna baru: menjadi pijakan bagi generasi musisi berikutnya untuk lebih berani bermimpi — dan lebih berani pula menjaga mimpi itu tetap berada di tangan yang tepat.

Perjalanan ini belum selesai, tetapi langkah pertama sudah diambil. Dan kadang, itulah bagian tersulit dari sebuah perjuangan: berani memulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User