Angin musim semi menyapu lembut pelataran kuil di Kyoto ketika Anissa Aziza melangkah pelan di antara deretan lentera batu. Di tangan kanannya, secangkir teh hangat masih mengepul; di tubuhnya, blazer krem berpadu dengan rok lipit yang berayun mengikuti langkah. Bagi sebagian orang, deretan foto liburan ini mungkin sekadar potret gaya. Namun bagi Anissa, setiap bingkai adalah babak kecil dari perjalanan panjangnya menemukan cara berpakaian yang paling jujur pada dirinya sendiri.
Gaya yang ia tampilkan di Negeri Sakura itu terasa akrab sekaligus segar. Ia menyebutnya preppy feminin — sebuah bahasa mode yang merangkai kerapian khas seragam sekolah dengan kelembutan detail perempuan. Kemeja putih berkerah rapi, cardigan rajutan tipis, pita kecil di rambut, serta sepatu loafer yang nyaman untuk berjalan berjam-jam. Sederhana, tetapi tidak pernah membosankan.
Perpaduan Chic dan Playful yang Lahir dari Keseharian
Di balik tampilan yang tampak effortless itu, ada proses panjang yang jarang terlihat. Anissa mengisahkan bahwa ia bukan tipe orang yang berganti gaya setiap musim. Baginya, busana adalah cara bercerita — tentang suasana hati, tentang kota yang sedang dijelajahi, dan tentang siapa dirinya pada hari itu.
“Saya tidak pernah memaksakan diri mengikuti tren. Yang penting, saya merasa nyaman dan bahagia saat memakainya,” tuturnya hangat di sela perjalanan. “Di Jepang, saya justru belajar bahwa keindahan tidak harus selalu berteriak. Kadang ia hadir lewat hal-hal kecil: warna krem yang lembut, kerah yang rapi, atau senyum orang yang kita temui di jalan.”
Yang membuat gayanya menarik adalah cara ia mempertemukan dua kutub yang tampak berlawanan. Di satu sisi ada sisi chic — elegan, tenang, penuh perhitungan dalam pemilihan warna dan potongan. Di sisi lain, sisi playful muncul lewat aksen tak terduga: kaus kaki bergaris, tas mini berbentuk unik, atau topi beanie yang sengaja dipadukan dengan blazer formal. Kombinasi inilah yang membuat setiap fotonya terasa hidup, seolah membisikkan cerita kecil tentang momen bahagianya di negeri orang.
Di Balik Layar: Momen-Momen Sederhana yang Menyentuh
Di balik layar, perjalanan Anissa di Jepang tidak selalu semulus yang tampak di foto. Ada pagi-pagi dingin ketika ia harus bangun sebelum matahari terbit demi mengejar cahaya terbaik di tepi Danau Kawaguchi. Ada hujan mendadak di distrik Harajuku yang memaksanya berteduh di bawah atap toko kecil, lalu mengubah rencana berfoto menjadi obrolan hangat dengan pemilik kedai ramen tua.
“Momen-momen seperti itulah yang paling saya ingat,” ujarnya dengan mata berbinar. “Ketika rencana gagal, justru di situ keajaiban kecil terjadi. Saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kesempurnaan, tapi dari keberanian untuk menikmati apa pun yang terjadi.”
Ia juga mengisahkan kebiasaannya menulis jurnal kecil setiap malam — mencatat orang-orang yang ditemuinya, rasa makanan yang dicobanya, dan perasaan yang sulit diucapkan. Kebiasaan sederhana ini, katanya, menjadi cara untuk mengingat bahwa perjalanan bukan hanya soal tempat yang dikunjungi, melainkan soal bagaimana setiap langkah mengubah cara kita memandang hidup.
Perjalanan Mengajarkan Arti Percaya Diri
Bagi Anissa, gaya preppy feminin yang dikenakannya di Jepang bukan sekadar pilihan estetika. Ia adalah simbol sebuah perjalanan batin — dari masa-masa ketika ia berjuang melawan keraguan atas penampilannya sendiri, hingga kini mampu berdiri tegak di tengah kota asing dengan kepala tegak dan senyum tulus. Ada air mata yang pernah jatuh diam-diam di kamar kecilnya, saat mimpi tampil percaya diri terasa begitu jauh.
“Dulu saya sering merasa kurang. Saya selalu membandingkan diri dengan orang lain,” kenangnya. “Tapi perlahan saya belajar bahwa fashion bukan tentang menjadi orang lain. Fashion adalah tentang merayakan siapa diri kita, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.”
Pesan itulah yang ingin ia bagikan lewat setiap unggahan. Bukan untuk pamer, melainkan untuk menginspirasi perempuan lain agar berani tampil sesuai versi terbaik diri mereka sendiri. Sebab di balik setiap busana yang indah, ada kisah tentang keberanian untuk bangkit, mencoba hal baru, dan percaya bahwa setiap orang pantas merasa cantik dengan caranya masing-masing.
Kini, saat musim semi perlahan berganti, Anissa membawa pulang lebih dari sekadar foto-foto indah. Ia membawa pelajaran tentang ketenangan, keberanian, dan kebahagiaan yang sederhana. Di sudut lemari rumahnya, blazer krem itu mungkin akan tergantung rapi. Namun kisah di baliknya — tentang seorang perempuan yang menemukan kembali dirinya di negeri sakura — akan terus hidup, mengalir hangat seperti teh yang ia pegang di pelataran kuil itu.
Comments (0)