Bayangkan terbangun dengan dua kehidupan yang bersarang di dalam satu kepala. Di satu sisi, ada seorang terpidana mati yang seumur hidupnya dibesarkan oleh pukulan dan pengabaian. Di sisi lain, tersimpan cinta seorang ayah kepada anak perempuan kecilnya—perasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Itulah titik berangkat kisah Jerico Stewart, sosok yang diperankan Kevin Costner dalam film Criminal, yang mengisi layar Bioskop Trans TV malam ini, Rabu (19/8).
Lebih dari sekadar film aksi, Criminal sesungguhnya mengisahkan perjalanan panjang seorang manusia yang telah diserahkan oleh masyarakat. Ia bukan pahlawan yang lahir dari kebaikan, melainkan dari kekacauan—dan justru dari sanalah momen-momen mengharukan mulai tumbuh.
Dua Kehidupan dalam Satu Kepala
Kisahnya bermula saat Bill Pope, agen CIA yang diperankan Ryan Reynolds, gugur dalam sebuah misi rahasia. Pope membawa informasi vital: lokasi seorang hacker yang menjadi kunci menyelamatkan dunia dari ancaman teror siber. Misi itu berakhir tragis—ia tertangkap, disiksa, dan tewas sebelum sempat menyampaikan rahasianya. Satu-satunya harapan yang tersisa adalah memindahkan ingatan Pope ke otak orang lain.
Di sinilah Dr. Micah Franks, diperankan Tommy Lee Jones, memasuki cerita. Ilmuwan itu berjuang melawan waktu dengan eksperimen transplansi memori yang belum pernah teruji. Pilihannya jatuh pada Jerico Stewart, terpidana mati dengan lobe frontal yang tak berkembang sempurna akibat kekerasan masa kecil—seorang pria yang tak mampu merasakan empati, rasa takut, bahkan cinta. Bagi Jerico, kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang ia pahami sepanjang hidupnya.
Operasi berjalan, namun meninggalkan kekacauan yang tak terduga. Jerico terbangun dengan ingatan Pope mengalir deras di kepalanya: wajah seorang istri, tawa seorang anak, dan rasa cinta yang sama sekali asing baginya. Keraguan yang menghantuinya nyaris bisa dirangkum dalam satu kalimat:
“Ada wajah yang terus muncul di kepalaku. Aku tak mengenalnya, tapi dadaku seolah remuk setiap kali ia menangis. Perasaan apa ini?”
Di Balik Layar: Dua Legenda yang Saling Menghidupkan
Di balik layar, Criminal mempertemukan dua aktor legendaris Hollywood dalam satu bingkai. Kevin Costner, yang dikenal lewat peran-peran humanis dalam Dances with Wolves hingga Field of Dreams, kembali memerankan tokoh rapuh yang berjuang menemukan makna hidupnya. Ia menghidupkan pria bertubuh kuat dengan batin yang kosong—lalu perlahan, sel demi sel ingatan orang lain, batin itu terisi.
Sementara itu, Tommy Lee Jones tampil tenang namun penuh beban sebagai ilmuwan yang membawa mimpi besar sekaligus dilema moral. Tak ketinggalan, Gary Oldman hadir sebagai direktur CIA yang terjepit antara misi dan nurani, serta Gal Gadot—jauh sebelum namanya melambung lewat Wonder Woman—yang memerankan Jill, istri mendiang Pope yang tak pernah menyangka ingatan suaminya kini hidup di dalam tubuh orang asing.
Ingatan sebagai Warisan Cinta
Bagian paling menyentuh dari Criminal justru bukan ledakan atau kejar-kejaran menegangkan, melainkan proses lambat ketika Jerico mulai merasakan cinta yang bukan miliknya. Ia mendekati Jill dan Emma, anak Pope, dengan dalih menuntaskan misi. Namun tanpa ia sadari, air mata yang jatuh di pipinya bukan lagi air mata seorang buronan—melainkan air mata seorang ayah yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Film ini mengajukan pertanyaan sederhana yang sering dilupakan dunia: apakah seorang manusia bisa bangkit dari masa lalunya? Apakah kebaikan bisa tumbuh di dalam diri orang yang tak pernah merasakannya? Criminal menjawabnya dengan lembut dan tanpa menggurui.
“Kadang, jalan pulang bagi orang yang tersesat bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah perasaan.”
Kesempatan Kedua yang Menginspirasi
Bagi penonton yang mencari inspirasi di balik hiburan, Criminal menawarkan keduanya sekaligus. Film garapan Ariel Vromen ini mengingatkan bahwa tak ada manusia yang terlalu rusak untuk diberi kesempatan kedua, dan bahwa mimpi untuk menjadi orang baik tak pernah terlambat untuk dikejar.
Saksikan perjalanan Jerico Stewart malam ini di Bioskop Trans TV, Rabu (19/8). Siapkan tisu, sekaligus ruang di hati—karena kisah ini bukan sekadar tentang agen rahasia dan ancaman dunia, melainkan tentang seorang manusia yang belajar mencintai untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Comments (0)