Aug 28, 2026
entertainment

Ketulusan Shin Min-ah Menghidupkan Dua Jiwa dalam The Eyes

Di sudut studio yang remang, Shin Min-ah duduk membisu. Matanya terpejam, jari-jarinya meraba naskah yang sudah lusuh. Ia bukan sekadar membaca dialog—ia sedang menyelami kegelapan. Di depannya, dua...

Ketulusan Shin Min-ah Menghidupkan Dua Jiwa dalam The Eyes

Di sudut studio yang remang, Shin Min-ah duduk membisu. Matanya terpejam, jari-jarinya meraba naskah yang sudah lusuh. Ia bukan sekadar membaca dialog—ia sedang menyelami kegelapan. Di depannya, dua kursi kosong seolah menunggu: satu untuk sosok yang melihat dunia dengan terang, satu lagi untuk mereka yang hanya bisa meraba. Hari itu, ia akan menghidupkan dua jiwa sekaligus, dan salah satunya tak akan pernah melihat cahaya.

Mengurai Dua Karakter yang Berbeda

Shin Min-ah memerankan sepasang saudara kembar yang tak identik dalam takdir. Peran ganda ini menjadi ujian terberatnya: satu karakter harus memancarkan kehangatan seorang kakak yang protektif, sementara yang lain adalah adik yang perlahan kehilangan penglihatan akibat sebuah kecelakaan tragis. Bukan hanya riasan atau gaya rambut yang membedakan mereka, melainkan cara mereka bernapas, bergerak, bahkan diam.

“Saya harus membangun dua dunia batin yang sama sekali berbeda,” ujar Shin Min-ah dalam sebuah wawancara di sela syuting. “Yang satu bertumpu pada mata, yang satu pada perasaan.” Untuk menghidupkan sosok yang buta, ia menghabiskan waktu berjam-jam berkonsultasi dengan para tunanetra. Ia belajar membaca huruf Braille, berjalan dengan tongkat, dan yang paling sulit: mengosongkan tatapan tanpa kehilangan emosi.

Pujian dari Bilik Sutradara

Sutradara Yeom Ji-ho tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Dalam sebuah percakapan di balik layar, ia berkisah tentang totalitas sang aktris yang jarang ia temui sepanjang kariernya. “Shin Min-ah bukan hanya bermain. Ia menghilang ke dalam peran dan membiarkan dua karakter itu mengambil alih tubuhnya,” kenangnya. Yeom menceritakan sebuah adegan di mana Shin Min-ah harus berpindah dari satu saudari ke saudari lainnya hanya dalam hitungan menit. “Kamera menyala, dan seketika wajahnya berubah. Bahkan para kru menahan napas. Itu bukan sekadar akting; itu perwujudan.”

Yeom menambahkan bahwa komitmen Shin Min-ah terlihat sejak pra-produksi. “Ia datang dengan catatan setebal buku harian. Ia menganalisis psikologi kembar, mendiskusikan setiap detail medis tentang kebutaan, dan bahkan melatih gestur kecil yang hanya dimengerti oleh mereka yang kehilangan penglihatan. Itu bukan pekerjaan seorang aktor biasa—itu adalah obsesi yang produktif.

Proses Panjang Menuju Kegelapan

Untuk memahami dunia tanpa cahaya, Shin Min-ah rela menjalani latihan imersif. Selama sepekan penuh, ia berlatih beraktivitas dengan mata tertutup di rumahnya sendiri. Pengalaman itu, akunya, begitu menggetarkan. “Hari pertama, saya menangis. Saya menabrak meja, menjatuhkan gelas, dan merasa begitu sendirian. Tapi justru di situlah saya menemukan inti karakter ini: bukan tentang kehilangan, melainkan tentang bagaimana ia terus bertahan.”

Ketika syuting dimulai, ia sudah terbiasa membaca ruang melalui suara, sentuhan, dan ingatan otot. Ia bahkan menolak bantuan pemandu di lokasi syuting untuk mempertajam instingnya. “Saya ingin penonton melihat seorang perempuan yang menerima kegelapan bukan sebagai kutukan, tapi sebagai bagian dari dirinya,” katanya.

Peran sebagai saudari yang sehat pun tak kalah rumit. Shin Min-ah harus memproyeksikan rasa bersalah dan cinta yang terpendam, sekaligus menjadi mata bagi kembarannya. Dalam banyak adegan, ia benar-benar menuntun lawan mainnya yang memerankan versi buta—sebuah koreografi emosional yang membutuhkan kepercayaan mutlak.

Menyentuh Hati Kru dan Pemain

Sebuah momen tak terlupakan terjadi saat pengambilan gambar klimaks. Shin Min-ah, sebagai si kembar buta, duduk di kursi roda di tengah hujan buatan, wajahnya basah oleh air dan air mata. Ia tak bergerak, namun sorot matanya yang kosong menyampaikan lebih banyak luka daripada ribuan dialog. Begitu sutradara berteriak “cut!”, keheningan menyelimuti set. Seorang penata rias senior, yang telah bekerja di puluhan proyek, tak kuasa menahan tangis. “Kami semua merasa seperti melihat sebuah keajaiban,” kisah Yeom.

Rekan-rekan mainnya mengaku kagum pada cara Shin Min-ah menjaga konsistensi dua karakter secara simultan. “Ia bisa menjadi A di pagi hari dan B di sore hari, dan keduanya terasa nyata,” ujar salah satu aktor pendukung. “Saat beradu akting, saya lupa bahwa itu orang yang sama.”

Bagi Shin Min-ah sendiri, The Eyes adalah perjalanan yang melampaui seni peran. “Saya seperti menitipkan separuh jiwa saya pada dua perempuan ini. Setelah syuting usai, butuh waktu berminggu-minggu untuk mengembalikan diri saya sendiri,” akunya. Film ini bukan hanya tentang penglihatan yang hilang, melainkan tentang bagaimana dua manusia saling menjadi penerang. Dan di tangan Shin Min-ah, kisah itu bersinar, bahkan dalam gelap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User