Di ruang tamu sederhana sebuah rumah kontrakan di pinggiran Jakarta, Hartono Wijaya menatap layar televisi dengan napas tertahan. Di sana, dalam sebuah adegan film pendek yang tengah viral, wajahnya tampak begitu jelas — tersenyum, berjalan, bahkan menangis. Padahal, lelaki 58 tahun itu tak pernah sekalipun berada di lokasi syuting tersebut. “Itu wajah saya, tapi itu bukan saya,” ucapnya lirih, jari-jarinya gemetar memegang remote. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Momen mengharukan itu menjadi titik balik dalam perjalanan panjang Hartono sebagai pemeran pendukung. Empat puluh tahun ia berjuang di industri film Tanah Air, memerankan sosok-sosok kecil yang mudah dilupakan: ayah yang menunggu di halte, penjaga warung yang ramah, tetangga yang selalu menyapa. Kini, di usia senja, ia justru menghadapi kenyataan pahit — wajahnya dipinjam oleh kecerdasan buatan tanpa sepatah kata izin pun.
Wajah yang Direplikasi Mesin
Kisah Hartono bukanlah satu-satunya. Di balik layar industri perfilman yang tengah bertransformasi digital, teknologi AI memang menghadirkan kemudahan luar biasa: menghemat biaya produksi, mempercepat pascaproduksi, hingga menghidupkan kembali sosok aktor yang telah tiada. Namun di balik kemudahan itu, tersimpan luka bagi mereka yang hidupnya bergantung pada wajah, suara, dan mimik mereka sendiri.
“Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti manusia. Ketika wajah seorang aktor bisa muncul di mana-mana tanpa kehadirannya, di situlah martabat profesi ini dipertaruhkan,” tutur Hartono, matanya berkaca-kaca menahan haru.
Banyak pemeran figuran dan pemeran pendukung mengisahkan pengalaman serupa. Mereka menemukan suara mereka ditiru, ekspresi mereka digandakan, bahkan penampilan masa muda mereka dihidupkan kembali — semua tanpa kompensasi sepeser pun. Padahal, bagi mereka, setiap kerutan di wajah adalah jejak perjuangan bertahun-tahun di lokasi syuting yang panas dan melelahkan.
Teguran Tegas dari Badan Perfilman Indonesia
Menyikapi keresahan yang kian meluas, Badan Perfilman Indonesia (BPI) angkat bicara. Lembaga ini mengingatkan seluruh pelaku industri bahwa penggunaan AI dalam produksi film tidak bisa berjalan tanpa aturan. Setiap replikasi wajah, suara, maupun penampilan seorang aktor melalui teknologi wajib mendapatkan izin yang jelas dari pemiliknya.
Tak hanya izin, BPI juga menegaskan pentingnya kompensasi yang layak. Seorang aktor yang wajahnya digunakan — baik untuk kebutuhan peremajaan digital, penggandaan adegan, maupun kehadiran virtual — berhak mendapatkan penghargaan finansial atas karya dan identitasnya.
“Kami tidak menolak teknologi. Kami justru menyambutnya dengan tangan terbuka. Tetapi ada batas yang tidak boleh dilanggar: persetujuan sang aktor dan keadilan baginya. Kreativitas tidak boleh dibangun di atas ketidakadilan,” demikian penegasan yang disampaikan perwakilan BPI.
Pernyataan ini menjadi angin segar sekaligus pengingat bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, hak cipta dan hak personal para pekerja seni tetap harus dijaga. Teknologi yang sejatinya dirancang untuk membantu urusan produksi dan kreatif, kerap kali justru menyeret industri ke dalam persoalan hak cipta yang rumit dan menyakitkan.
Mimpi yang Tak Bisa Digantikan Mesin
Bagi Hartono, aturan itu lebih dari sekadar pasal dan ketentuan di atas kertas. Ia adalah pengakuan bahwa kehadiran manusia — dengan segala keringat, air mata, dan dedikasinya — masih berarti di dunia yang serba otomatis. Sebuah pengakuan sederhana, namun sangat menyentuh bagi mereka yang telah lama berjuang di balik layar.
“Saya tidak takut pada mesin. Saya hanya ingin dihargai sebagai manusia. Wajah ini menyimpan empat puluh tahun mimpi saya. Tidak sederhana menggantikannya dengan sekali klik,” katanya penuh harap.
Di penghujung senja, Hartono kembali duduk di ruang tamunya. Kali ini bukan untuk menatap layar, melainkan membaca naskah pendek dari seorang sutradara muda yang memintanya bermain — sebagai dirinya sendiri, dengan izin, dengan hormat, dan dengan kompensasi yang layak. Senyumnya mengembang perlahan. Perjalanan panjangnya belum usai, dan kisahnya menjadi inspirasi bahwa di balik gemerlap teknologi, hati manusia tetaplah yang paling berharga.
Comments (0)