Suara itu datang tanpa peringatan. Bukan bunyi biasa di Bandara Regional Abha, kota dingin di pegunungan Asir, Arab Saudi selatan. Pada Rabu pagi, 12 Juni 2019, langit yang biasanya hanya riuh oleh mesin pesawat berubah menjadi arena ledakan. Rudal yang diluncurkan pemberontak Houthi dari Yaman menghantam area bandara, meninggalkan lubang menganga, pecahan kaca, dan kepanikan yang menggantung di udara.
Seorang petugas kebersihan yang enggan disebut namanya mengisahkan, ia baru saja menyapu lorong keberangkatan ketika dinding di dekatnya terasa bergetar. "Saya pikir itu gempa," ujarnya dengan suara bergetar. "Tapi kemudian asap masuk, dan orang-orang berlarian. Saya hanya bisa berlutut dan berdoa." Kalimat itu sederhana, namun menyimpan ketakutan yang tak mudah hilang.
Bandara yang Menjadi Saksi
Abha bukanlah bandara sembarangan. Ia adalah pintu gerbang bagi ribuan warga sipil, termasuk keluarga, pedagang, dan pasien yang hendak berobat ke kota lain. Di sudut ruang tunggu yang kini porak-poranda, masih terlihat kursi-kursi tunggu yang terbalik, tas jinjing tertinggal, dan sepatu anak kecil yang entah milik siapa. Di balik puing-puing itu, tersimpan cerita tentang perjalanan yang terhenti mendadak.
Serangan ini bukan yang pertama. Sejak konflik Yaman memanas, Houthi berkali-kali menargetkan wilayah perbatasan Saudi. Namun bagi warga Abha, setiap serangan selalu terasa baru. "Kami sudah lelah mendengar sirene," kata Fatimah, seorang ibu dua anak yang tinggal tak jauh dari bandara. "Anak saya sekarang takut naik pesawat. Ia selalu bertanya, apakah langit akan aman?"
Di Balik Layar Serangan
Houthi mengklaim serangan itu sebagai balasan atas operasi militer Saudi di Yaman. Mereka menyebut bandara sebagai target militer. Namun kenyataannya, yang pertama kali merasakan dampaknya adalah orang-orang biasa. Seorang teknisi penerbangan yang bertugas saat kejadian menuturkan, ia sempat melihat serpihan logam menancap di badan pesawat yang sedang parkir. "Saya tidak tahu harus menyelamatkan diri atau menyelamatkan orang lain," kenangnya. "Saya pilih berlari ke arah penumpang."
Momen mengharukan terjadi ketika seorang petugas keamanan menggendong seorang nenek yang kakinya terluka. Ia membawanya menembus asap, sementara ledakan susulan terdengar di kejadian. "Jangan tinggalkan saya," bisik nenek itu. "Saya belum sempat pamit ke cucu." Air mata mengalir di pipi petugas yang tak sempat menjawab.
Perjuangan yang Tak Selesai
Setelah serangan, bandara ditutup sementara. Penerbangan dialihkan, dan tim evakuasi bekerja siang-malam. Pemerintah Saudi mengecam keras tindakan itu sebagai teror. Namun di balik pernyataan resmi, ada luka yang lebih dalam: rasa aman yang terkoyak. Warga Abha mulai mempertanyakan apakah tempat yang mereka sebut rumah masih bisa disebut aman.
Bagi keluarga korban, perjuangan sebenarnya baru dimulai. Seorang ayah yang kehilangan kontak dengan anaknya selama beberapa jam menggambarkan bagaimana ia berlari dari satu ruang ke ruang lain. "Saya mencari di setiap sudut. Saya bahkan membuka pintu darurat yang penuh asap," ujarnya. "Ketika akhirnya menemukannya, saya hanya bisa memeluknya erat, tanpa kata."
Kisah dari Abha adalah potret kecil dari perang panjang yang jarang tersorot. Di antara berita politik dan klaim kemenangan, ada manusia yang kehilangan hari-hari biasa. Ada anak yang tak jadi berlibur, ada pedagang yang kehilangan dagangan, dan ada mimpi yang harus ditunda. Bandara itu mungkin akan dibangun kembali, dinding-dindingnya diperbaiki, kacanya diganti. Tapi kenangan akan pagi yang penuh teror itu akan tinggal lama di ingatan.
Seorang petugas bandara menatap langit yang kembali cerah sore itu. "Kami akan bangkit," katanya lirih. "Tapi tolong, jangan biarkan kami harus bangkit berkali-kali." Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah doa, harapan, dan sekaligus luka yang tak pernah benar-benar sembuh dari sebuah kota yang hanya ingin hidup damai.
Comments (0)