Di sebuah sudut ruang pameran di Jakarta, Kamis siang itu, sepasang sepatu berdiri di atas podium kayu. Warna hijaunya tidak menyala, justru lembut seperti daun pandan yang baru dipetik dari halaman rumah nenek. Di sekelilingnya, puluhan orang mengabadikan momen dengan ponsel. Ada yang berbisik, ada yang tersenyum kecil, seolah mengenali sesuatu yang akrab dari sepatu itu.
Sepatu itu bernama GEL-KAYANO™ 12.1 "ARCHIPELAGO", hasil kolaborasi ASICS dengan atmos Indonesia. Bukan sekadar perilisan produk, peluncuran ini menjadi semacam perayaan kecil atas kekayaan alam dan budaya Nusantara yang sering luput dari sorotan dunia sneaker global.
Ketika Pandan Jadi Bintang Utama
Pandan. Tanaman sederhana yang tumbuh di pekarangan rumah, sering dipakai untuk pewarna kue dan pengharum masakan, justru menjadi titik berangkat desain sepatu ini. Pilihan itu terasa tidak biasa untuk sebuah produk lari berteknologi tinggi. Namun di baliknya ada cerita yang menyentuh.
"Kami ingin sesuatu yang benar-benar Indonesia, bukan sekadar motif batik atau warna bendera," ujar salah satu perwakilan atmos Indonesia saat memperkenalkan sepatu tersebut. "Pandan itu tumbuhan yang merakyat. Dia ada di dapur, di halaman, di ingatan masa kecil banyak orang. Kami ingin membawa memori itu ke kaki para pelari."
Nuansa hijau pandan dipadukan dengan aksen krem dan cokelat tanah, menciptakan kesan vintage yang hangat. Siluet GEL-KAYANO generasi ke-12 dikawinkan dengan sentuhan teknologi modern, menghasilkan apa yang mereka sebut sebagai gaya vintage-tech — perpaduan masa lalu dan masa kini yang berjalan berdampingan.
Perjalanan Panjang di Balik Layar
Kolaborasi ini tidak lahir dalam sekejap. Ada perjalanan panjang yang penuh perjuangan, diskusi, dan tentu saja air mata ketika ide-ide harus dirombak berkali-kali. Tim desain menceritakan bagaimana mereka bolak-balik melakukan riset, mengamati cara pandan diolah, hingga memastikan warna yang dipilih benar-benar merepresentasikan tanaman itu.
"Awalnya kami sempat kehilangan arah," kenang seorang anggota tim kreatif. "Terlalu banyak elemen Indonesia yang ingin kami masukkan. Akhirnya kami kembali ke hal paling sederhana: pandan. Dan justru dari kesederhanaan itu, semuanya jadi jelas."
Momen mengharukan terjadi ketika prototipe pertama selesai. Salah satu perajin lokal yang terlibat dalam proses uji material sempat terdiam lama, lalu berkata pelan bahwa sepatu itu mengingatkannya pada ibunya yang selalu memasak kolak pandan setiap Ramadan. "Saat itu kami sadar, produk ini bukan cuma soal jualan. Ini soal memori kolektif," ujarnya.
Langkah Baru untuk Budaya Lokal
Bagi banyak penggemar sepatu di Indonesia, kolaborasi semacam ini terasa seperti pengakuan yang lama dinanti. Selama bertahun-tahun, merek global kerap menjadikan Indonesia sebagai pasar, bukan sumber inspirasi. Kini, ketika sebuah nama besar dunia menggandeng atmos Indonesia dan mengangkat pandan sebagai bintang, ada kebanggaan yang tumbuh perlahan.
"Ini bukan sekadar sneaker. Ini cara kami bercerita tentang rumah," kata seorang pengunjung yang datang jauh-jauh dari Bandung hanya untuk melihat peluncuran. Ia mengaku menabung sejak berbulan-bulan untuk bisa memiliki sepasang. "Saya ingin anak saya tahu, produk sebagus ini bisa lahir dari tumbuhan yang dia lihat di belakang rumah."
Peluncuran ini juga membuka ruang bagi perajin dan desainer lokal untuk ikut serta dalam rantai produksi global. Beberapa di antaranya terlibat dalam pemilihan material dan pengembangan konsep warna. Bagi mereka, ini adalah mimpi yang perlahan bangkit — bahwa karya anak bangsa bisa berdiri sejajar di panggung internasional.
Saat senja mulai turun di Jakarta, podium pameran itu perlahan sepi. Namun percakapan tentang pandan, tentang memori masa kecil, dan tentang pelari yang akan memakai sepatu itu masih menggantung di udara. Sepasang sepatu hijau itu tetap berdiri tegak, sederhana, tapi menyimpan cerita panjang tentang tanah tempat ia tumbuh.
Di balik layar, tidak ada yang instan. Ada perjuangan, ada keraguan, dan ada momen ketika semua terasa mustahil. Tapi seperti pandan yang tetap tumbuh meski tak pernah dirawat, kolaborasi ini membuktikan bahwa hal-hal yang lahir dari akar sendiri sering kali justru paling menyentuh hati.
Comments (0)