Oct 10, 2026
entertainment

Gulai Cumi Padang, Warisan Rasa dari Dapur Keluarga

Di sudut pasar tradisional di Kota Padang, Sumatera Barat, aroma rempah kunyit, lengkuas, dan daun jeruk purut menyeruak dari sebuah warung kecil berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter. Di san...

Gulai Cumi Padang, Warisan Rasa dari Dapur Keluarga

Di sudut pasar tradisional di Kota Padang, Sumatera Barat, aroma rempah kunyit, lengkuas, dan daun jeruk purut menyeruak dari sebuah warung kecil berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter. Di sanalah, setiap pagi sejak pukul lima, seorang perempuan paruh baya bernama Rosmiati mulai menumis bumbu gulai warisan ibunya. Tangan keriputnya bergerak lincah, mengaduk santan yang mulai mengeluarkan minyak, sementara di atas meja kayu, belasan cumi segar menunggu untuk dimasukkan ke dalam kuali besar.

Gulai cumi khas Padang bukan sekadar hidangan. Ia adalah cerita tentang ketekunan, tentang bagaimana sebuah keluarga bertahan melalui resep yang diwariskan tiga generasi. Rosmiati mengisahkan bahwa ibunya dahulu berjualan gulai cumi dari gerobak dorong keliling kampung. "Dulu, Ibu harus bangun sebelum subuh, memasak dengan kayu bakar, lalu berjalan kaki lima kilometer," kenangnya dengan mata berkaca-kaca. "Saya kecil selalu ikut, memegang ujung gerobak. Dari situ saya belajar bahwa gulai ini bukan hanya soal rasa, tapi soal air mata dan doa."

Rahasia Keempukan yang Tak Banyak Diketahui

Banyak orang menganggap cumi adalah bahan yang sulit diolah. Salah sedikit, teksturnya bisa alot seperti karet. Namun, Rosmiati memiliki cara sederhana yang diwarisi dari sang ibu: cumi tidak pernah dimasak terlalu lama. "Cumi itu seperti manusia, kalau dipaksa terlalu keras, dia akan keras juga," ujarnya sambil tersenyum. Ia hanya memasukkan cumi pada sepuluh menit terakhir, setelah kuah santan benar-benar matang dan mengeluarkan minyak berwarna keemasan.

Selain itu, ia selalu memilih cumi segar berukuran sedang, bukan yang besar. Menurutnya, cumi kecil lebih manis dan tidak berbau amis. Sebelum dimasak, cumi dibersihkan dengan air jeruk nipis dan sedikit garam, lalu dibiarkan selama lima belas menit. Proses sederhana ini, kata dia, membuat bumbu lebih mudah meresap tanpa menghilangkan tekstur kenyal yang lembut.

"Kalau kamu memasak dengan hati, rasa itu akan sampai ke hati orang yang memakannya. Itu yang diajarkan Ibu kepada saya."

Perjalanan Bumbu dari Pasar ke Kuali

Bagi Rosmiati, gulai cumi bukan hanya tentang bumbu, tetapi tentang perjalanan. Setiap pagi ia menyusuri pasar, memilih kunyit, jahe, dan lengkuas satu per satu. "Saya tidak pernah beli bumbu yang sudah digiling. Rasanya berbeda," tegasnya. Ia percaya bahwa bumbu yang digiling sendiri dengan cobek batu memiliki aroma yang lebih kuat dan jiwa yang lebih hidup.

Proses menumis bumbu menjadi momen paling sakral dalam dapurnya. Ia menumis bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, jahe, lengkuas, dan serai hingga harum, lalu menuangkan santan kental. Api kompor dikecilkan, dan ia mengaduk perlahan selama hampir satu jam. "Sabar itu bumbu paling penting," katanya. "Kalau kita terburu-buru, santan akan pecah, dan gulai kehilangan jiwa."

Ketika cumi akhirnya dimasukkan, ia menambahkan daun ruku-ruku dan asam kandis. Aroma yang keluar dari kuali itu membuat beberapa pembeli yang menunggu ikut tersenyum. Salah satunya, Yuni, seorang pelanggan setia yang telah berlangganan selama sepuluh tahun. "Gulai cumi Bu Ros itu tidak pernah berubah rasanya. Setiap suap mengingatkan saya pada masakan nenek saya di kampung," ujarnya haru.

Lebih dari Sekadar Hidangan

Di balik kelezatan gulai cumi, tersimpan kisah tentang perjuangan seorang perempuan yang membesarkan tiga anak dari satu kuali gulai. Rosmiati bercerita, saat suaminya meninggal sepuluh tahun lalu, ia hampir menyerah. "Tapi setiap kali saya mau berhenti, saya ingat anak-anak saya butuh makan. Saya ingat Ibu yang dulu berjalan kaki lima kilometer. Akhirnya saya bangkit," tuturnya sambil menyeka sudut matanya.

Kini, warung kecilnya selalu ramai, bahkan sering didatangi wisatawan yang penasaran dengan cita rasa autentik Padang. Meski begitu, Rosmiati tetap mempertahankan cara memasak tradisional. Ia tidak mau tergoda menggunakan bumbu instan demi mempercepat produksi. "Kalau saya mengubah resep, saya mengubah sejarah keluarga saya," katanya tegas.

Bagi Rosmiati, gulai cumi adalah warisan yang harus dijaga. Ia berharap suatu hari nanti anak perempuannya mau meneruskan usaha ini. "Saya ingin generasi setelah saya tetap mengenal rasa ini. Rasa yang lahir dari doa, air mata, dan cinta," ujarnya. Di tengah derasnya modernisasi kuliner, dapur kecil di sudut pasar itu tetap menjadi saksi bahwa masakan terbaik selalu lahir dari hati yang sederhana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User