Oct 10, 2026
entertainment

Ketika Mimpi Seniman Asia Menemukan Panggung di Kemayoran

Di salah satu sudut Hall B Jakarta International Expo, Kemayoran, seorang perempuan muda berdiri termangu di depan lukisan berukuran dua kali tinggi tubuhnya. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena warna ...

Ketika Mimpi Seniman Asia Menemukan Panggung di Kemayoran

Di salah satu sudut Hall B Jakarta International Expo, Kemayoran, seorang perempuan muda berdiri termangu di depan lukisan berukuran dua kali tinggi tubuhnya. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena warna kanvas itu buruk, melainkan karena ia baru saja melihat karya perdananya dipajang di sebuah panggung yang selama ini hanya ia saksikan dari layar ponsel. "Saya menabung empat tahun untuk bisa sampai ke sini," ujarnya lirih, nyaris tenggelam oleh riuh pengunjung yang lalu-lalang.

Momen sederhana itu menjadi salah satu potret paling mengharukan dari perhelatan Art Jakarta 2026, ajang seni rupa yang kembali memusatkan perhatian kawasan Asia ke ibu kota. Selama beberapa hari, Kemayoran menjelma menjadi ruang bertemunya ribuan mimpi — dari pelukis senior yang karyanya telah melanglangbuana, hingga perupa muda yang baru pertama kali menapakkan kaki di panggung internasional.

Panggung yang Menyatukan Banyak Suara

Berjalan menyusuri lorong-lorong pameran, pengunjung disuguhi narasi yang jauh lebih luas dari sekadar jual beli karya. Galeri-galeri dari berbagai negara Asia menghadirkan perjalanan budaya masing-masing: ada yang mengangkat kisah nelayan pesisir, ada pula yang merekam jejak urbanisasi lewat instalasi video. Setiap bilik seolah berbicara dengan bahasa emosinya sendiri.

Salah satu kurator mengisahkan bahwa tahun ini pihaknya sengaja memberi ruang lebih besar bagi seniman perempuan dan perupa dari daerah. "Kami ingin panggung ini bukan hanya milik nama-nama besar, tetapi juga tempat mereka yang selama ini berjuang tanpa sorotan," katanya. Keputusan itu membuahkan hasil. Beberapa karya yang paling ramai dikunjungi justru datang dari seniman yang sebelumnya nyaris tak dikenal.

"Seni tidak pernah bertanya dari mana kamu berasal. Ia hanya bertanya, seberapa jujur kamu bercerita."

Kutipan itu terpampang di dinding salah satu instalasi, dan seakan menjadi mantra seluruh ajang. Di balik layar, puluhan pekerja seni, teknisi, dan relawan bahu-membahu menyusun karya sejak dini hari. Ada yang menempelkan potongan kaca satu per satu, ada yang mengatur tata cahaya hingga berkali-kali demi mendapatkan suasana yang tepat.

Air Mata di Balik Karya

Bagi banyak perupa, perjalanan menuju Kemayoran bukanlah jalan lurus. Seorang seniman asal kota kecil menuturkan bagaimana ia sempat hampir menyerah ketika pandemi menghantam penghasilannya. "Saya sempat menjual kamera untuk membeli cat," kenangnya sambil tersenyum getir. Kini, salah satu lukisannya menjadi bagian dari koleksi yang dipamerkan di ruang utama.

Kisah serupa datang dari seorang ibu dua anak yang mengaku melukis hanya di sela-sela pekerjaannya sebagai penjahit. "Malam-malam setelah anak tidur, saya baru bisa menyentuh kanvas. Kadang hanya satu jam, tapi itu yang membuat saya tetap hidup," ujarnya. Karya-karyanya yang bersahaja justru menarik perhatian kolektor karena kejujuran yang terpancar dari setiap goresan.

Tidak jarang pengunjung berhenti lebih lama, membaca keterangan karya, lalu menghela napas panjang. Emosi itu yang membuat Art Jakarta 2026 terasa berbeda: bukan sekadar pameran, melainkan ruang berbagi cerita antar manusia.

Inspirasi yang Dibawa Pulang

Menjelang sore, area pameran semakin padat. Para pelajar datang untuk belajar, kolektor mencatat, dan keluarga muda mengajak anak-anak mereka mengenal warna. Di tengah keramaian, seorang lelaki tua duduk di kursi lipat, memandangi satu lukisan cukup lama. "Saya dulu juga ingin jadi pelukis," katanya pelan. "Mungkin sekarang saya bisa mulai lagi."

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, namun di situlah inti dari perhelatan seni seperti ini: ia tidak hanya memamerkan keindahan, tetapi juga menyalakan kembali mimpi yang sempat padam. Panggung di Kemayoran menjadi saksi bahwa di balik setiap karya, ada perjuangan, air mata, dan harapan yang tak pernah benar-benar habis.

Ketika lampu ruang pameran perlahan diredupkan dan pengunjung mulai pulang, para seniman masih berdiri di dekat karya mereka. Ada yang memotret untuk kenang-kenangan, ada yang memeluk rekan sejawat. Bagi mereka, Art Jakarta 2026 bukan sekadar agenda tahunan, melainkan pengingat bahwa seni rupa Asia memiliki denyut nadi yang kuat — dan Jakarta, untuk beberapa hari, menjadi jantung yang memompanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User