Di sudut tribun Gelora Bung Karno, Sabtu malam pekan lalu, seorang pemuda bernama Rizky masih berdiri tegak meski ribuan orang di sekelilingnya mulai duduk lesu. Kaos hitam bergambar tengkorak bersayap itu basah oleh keringat. Matanya terus menatap panggung utama yang berjarak puluhan meter dari tempatnya berdiri. Ia sudah menabung sejak setahun lalu, rela tidak jajan selama berbulan-bulan, demi menyaksikan langsung band idolanya, Avenged Sevenfold, menggebrak Jakarta. Namun malam itu, mimpi yang ia rawat perlahan berubah menjadi kekecewaan yang ia ceritakan dengan suara berat.
"Saya datang bukan cuma buat dengar lagu. Saya datang buat merasakan getarannya, buat nangis bareng orang-orang yang paham arti lagu-lagu ini. Tapi dari awal sampai tengah, suaranya kayak radio rusak. Sember, pecah, kadang vokal tenggelam," kisah Rizky, yang mengaku menempuh perjalanan tujuh jam dari kota kecilnya. Air mata yang seharusnya jatuh karena haru, malam itu justru jatuh karena kecewa.
Berjuang di Antara Harapan dan Kenyataan
Kekecewaan serupa mengalir deras di media sosial. Ribuan penonton mengisahkan pengalaman mereka dengan nada yang sama: sound yang jauh dari kata memuaskan. Ada yang menyebut gitar tidak terdengar tajam, ada yang mengeluh drum seperti tenggelam di balik bising kerumunan. Di tengah kerumunan itu, seorang perempuan bernama Sari memilih bertahan di barisan paling depan. Ia mengaku sudah menonton band asal Huntington Beach itu sejak era 2000-an, dan ini adalah kali ketiga ia menyaksikan mereka live. Namun malam itu, ia harus menelan kenyataan pahit.
"Vokal Matt terdengar samar. Padahal momen paling menyentuh buat saya adalah saat mereka main lagu lambat, ketika semua orang bisa bernyanyi bersama. Malam ini, saya cuma bisa menebak liriknya," ujarnya sambil tersenyum getir.
Layout yang Berubah di Menit Terakhir
Bukan hanya soal suara. Sejumlah penonton juga mengeluhkan perubahan tata letak panggung dan area penonton yang terjadi mendadak. Beberapa pemegang tiket kategori tertentu mengaku harus berpindah posisi di menit-menit terakhir, setelah berjam-jam mengantre demi mendapatkan tempat terbaik.
"Kami sudah berdiri sejak sore, dapat posisi depan. Begitu masuk, ada petugas bilang area ini dipindah. Rasanya seperti semua persiapan kami dianggap tidak ada," tutur Dimas, seorang mahasiswa yang datang bersama empat kawannya. Ia mengaku tidak marah pada bandnya. Kemarahannya lebih pada koordinasi yang menurutnya kurang matang. "Saya nggak nyalahin Avenged. Mereka cuma main. Yang bikin repot itu di balik layar," tambahnya.
Di Balik Layar Sebuah Panggung Besar
Menyelenggarakan konser berskala internasional memang bukan pekerjaan sederhana. Ada ratusan kru, puluhan ton peralatan, dan jadwal yang harus disusun detail. Namun bagi penonton, hasil akhirnya adalah satu-satunya yang mereka rasakan. Mereka tidak melihat rapat tengah malam, tidak melihat perjuangan teknisi menyesuaikan mixer di tengah tekanan waktu. Yang mereka tahu, tiket sudah dibeli, perjalanan sudah ditempuh, dan malam itu seharusnya menjadi kenangan indah.
Seorang teknisi yang enggan disebut namanya mengaku timnya sempat menghadapi kendala teknis di lokasi. "Kami berusaha maksimal. Tapi memang ada hal-hal di luar kendali," ucapnya singkat, seperti ingin menjelaskan tanpa membela diri.
Di luar stadion, setelah lampu panggung padam, Rizky duduk di trotoar bersama ribuan penonton lain yang perlahan membubarkan diri. Ia masih menyimpan tiket di saku. "Saya nggak akan bilang konser ini jelek. Saya cuma berharap lain kali, kalau mereka balik lagi, ini jadi lebih baik. Saya masih mau nabung lagi. Karena lagu-lagu mereka yang bikin saya bangkit dari masa sulit," ujarnya sambil tersenyum. Malam itu, pelajaran tentang mimpi dan kenyataan datang dari tempat yang tak terduga: dari panggung yang gemuruh, namun suaranya belum sepenuhnya sampai ke hati.
Comments (0)