Oct 11, 2026
entertainment

Ketika Mimpi Jauh Itu Kembali Dijual di Tengah Kota

Di sebuah sudut Plaza Indonesia yang biasanya lengang pada pukul sebelas siang, seorang perempuan paruh baya berdiri termangu di depan deretan poster destinasi. Tangannya menggenggam selebaran yang su...

Ketika Mimpi Jauh Itu Kembali Dijual di Tengah Kota

Di sebuah sudut Plaza Indonesia yang biasanya lengang pada pukul sebelas siang, seorang perempuan paruh baya berdiri termangu di depan deretan poster destinasi. Tangannya menggenggam selebaran yang sudah sedikit terlipat. Di matanya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan — bukan sekadar keinginan berlibur, melainkan kerinduan yang lama terpendam.

"Dulu saya dan almarhum suami selalu bilang, suatu hari kita akan lihat Gunung Fuji dari dekat," ujarnya pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Sekarang saya datang ke sini sendirian. Tapi saya tetap mau pergi. Untuk dia."

Momen kecil itu menjadi semacam pembuka yang mengharukan dari sebuah perhelatan yang mungkin bagi banyak orang hanya soal diskon tiket dan promo kartu kredit. Namun di balik layar gemerlap pameran perjalanan yang digelar bersama antara sebuah bank global dan maskapai penerbangan Jepang pada 8 Oktober 2026, tersimpan banyak kisah serupa: cerita tentang mimpi yang tertunda, janji yang ingin ditunaikan, dan perjalanan yang bagi sebagian orang adalah bentuk paling sederhana dari harapan.

Bukan Sekadar Pameran Tiket

Sepanjang lorong acara, terlihat puluhan stan dengan warna-warni brosur dan layar digital yang menampilkan panorama empat musim. Ada yang menawarkan paket ke Hokkaido saat salju turun, ada pula yang menjanjikan keindahan sakura di Kyoto pada awal April. Namun yang membuat suasana berbeda adalah cara para pengunjung memandang semua itu — bukan dengan kalkulator di kepala, melainkan dengan kenangan di hati.

Seorang pria muda yang datang bersama ibunya mengisahkan bahwa ia menabung selama tiga tahun untuk membawa orang tuanya ke Tokyo. "Bapak saya dulu kerja di pabrik, tidak pernah naik pesawat sekali pun," katanya sambil tersenyum malu. "Saya ingin dia tahu bahwa dunia itu luas, dan dia berhak melihatnya."

Perjalanan, dalam banyak kisah yang terdengar di ruangan itu, bukan lagi soal destinasi. Ia menjadi bahasa cinta yang jarang diucapkan, cara mengucapkan terima kasih yang tak sempat disampaikan lewat kata-kata.

Perjuangan Kecil di Balik Layar

Yang jarang terlihat adalah bagaimana mimpi-mimpi itu disiapkan jauh sebelum pameran dibuka. Di balik meja registrasi, seorang staf perempuan mengaku sudah bekerja sejak dini hari. "Kami ingin setiap orang yang datang merasa dilayani, bukan sekadar dilayani secara formal," ujarnya. "Kalau ada yang nangis karena akhirnya bisa beli tiket, kami juga ikut terharu."

Tim penyelenggara menyebut bahwa pameran ini memang dirancang untuk mempertemukan calon pelancong dengan penawaran yang lebih ramah kantong — mulai dari cicilan ringan hingga bonus bagasi tambahan. Namun yang lebih penting, menurut mereka, adalah menghadirkan rasa percaya bahwa perjalanan jauh bukan lagi kemewahan yang mustahil.

Seorang konsultan perjalanan yang sudah delapan tahun mendampingi wisatawan bercerita, ia paling sering menemani pasangan lanjut usia yang baru pertama kali ke luar negeri. "Mereka biasanya bilang, 'Ini mungkin perjalanan terakhir kami.' Saya selalu jawab, 'Justru karena itu, kita buat yang paling indah.'" Matanya berkaca-kaca saat mengucapkannya.

Inspirasi yang Pulang Bersama Pengunjung

Menjelang sore, kerumunan mulai merenggang. Beberapa orang pulang dengan tas berisi brosur, sebagian lain dengan tiket yang baru saja dicetak. Namun ada juga yang pulang hanya dengan cerita — dan itu pun terasa cukup.

Perempuan paruh baya yang berdiri di depan poster Gunung Fuji tadi akhirnya duduk di kursi tunggu, masih menggenggam selebaran. Ketika ditanya apakah ia benar-benar akan berangkat tahun depan, ia mengangguk mantap.

"Saya sudah bilang sama anak-anak, tahun depan saya ke Jepang," katanya, kali ini dengan suara lebih tegas. "Bukan untuk melupakan, tapi untuk meneruskan perjalanan yang belum selesai."

Di sudut ruangan yang ramai itu, di antara lampu sorot dan musik latar yang lembut, ada satu hal yang tampak jelas: perjalanan selalu punya cara untuk menyentuh sisi paling manusiawi dari diri kita. Ia bukan cuma soal tiba di suatu tempat, melainkan tentang siapa yang kita bawa dalam hati saat melangkah pergi — dan siapa yang kita temui saat kembali.

Bagi banyak orang yang hadir hari itu, pameran tersebut mungkin hanya singgah sesaat. Tapi bagi sebagian lainnya, ia adalah titik awal dari keberanian yang lama dipendam. Dan kadang, itulah bentuk inspirasi paling sederhana: izin untuk akhirnya pergi, dan keberanian untuk kembali membawa cerita.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User