Oct 15, 2026
entertainment

Ketika Mimpi Desainer Muda Indonesia Berpijak di Paris

Di sebuah ruang pertemuan sederhana di Jakarta, Thresia Mareta berdiri di depan sekelompok desainer muda yang matanya berbinar. Ia baru saja kembali dari Paris, membawa oleh-oleh yang jauh lebih berha...

Ketika Mimpi Desainer Muda Indonesia Berpijak di Paris

Di sebuah ruang pertemuan sederhana di Jakarta, Thresia Mareta berdiri di depan sekelompok desainer muda yang matanya berbinar. Ia baru saja kembali dari Paris, membawa oleh-oleh yang jauh lebih berharga dari sekadar suvenir: keyakinan bahwa karya anak bangsa layak berdiri sejajar dengan label-label dunia. "Mereka tidak datang untuk sekadar melihat. Mereka datang untuk membuktikan bahwa kita bisa," ujarnya lirih, seperti mengenang kembali momen mengharukan saat karya-karya itu dipamerkan di jantung mode dunia.

Perjalanan ini bukan perkara semalam. Di balik kilau lampu kota Paris, ada kisah panjang tentang kerja keras, air mata, dan mimpi yang tak pernah padam. Thresia, yang dikenal sebagai Co-Initiator sebuah program inkubasi bernama PINTU, mengisahkan bagaimana ia dan timnya berjuang mengangkat nama para desainer muda Indonesia agar diperhitungkan di panggung global. Baginya, ini bukan sekadar soal busana, melainkan tentang martabat dan identitas bangsa.

Ruang Kecil yang Melahirkan Mimpi Besar

Semua berawal dari ruangan berukuran tak lebih luas dari dapur rumah biasa. Di sudut ruangan itu, tumpukan kain, mesin jahit tua, dan sketsa berserakan menjadi saksi bisu perjuangan para peserta inkubator. Mereka datang dari berbagai penjuru negeri, membawa cerita masing-masing: ada yang harus menabung bertahun-tahun, ada yang sempat putus asa karena ditolak berkali-kali. "Saya pernah hampir menyerah," kenang salah satu peserta, suaranya bergetar. "Tapi di sini, saya belajar bahwa kegagalan hanyalah bagian dari perjalanan."

Thresia menuturkan, program ini lahir dari kegelisahan sederhana. Ia melihat begitu banyak talenta muda Indonesia yang brilian namun tak punya akses ke panggung internasional. Mereka terkurung oleh keterbatasan fasilitas dan minimnya jaringan. Maka, ia dan rekan-rekannya memutuskan untuk membuka pintu itu, meski harus melewati begitu banyak rintangan. "Kami tidak punya banyak dana. Yang kami punya hanya keberanian dan keyakinan," ucapnya sambil tersenyum tipis.

"Setiap jahitan yang mereka buat adalah doa. Setiap langkah di atas catwalk itu adalah perjuangan sebuah bangsa yang ingin dikenal."

Paris, dan Momen yang Mengubah Segalanya

Puncak dari perjalanan panjang itu terjadi ketika mereka tiba di Paris. Bukan sekadar jalan-jalan, para desainer muda ini harus mempersiapkan koleksi terbaik mereka, menyesuaikan dengan selera pasar global, dan yang paling sulit: menumbuhkan kepercayaan diri. Thresia mengisahkan bagaimana ia menyaksikan para peserta berlatih hingga larut malam, memperbaiki detail terkecil, dan saling menguatkan satu sama lain. "Ada momen ketika salah satu dari mereka menangis karena kelelahan. Tapi keesokan harinya, ia bangkit lagi dengan semangat baru," kenangnya.

Saat karya mereka akhirnya dipresentasikan, suasana berubah hening. Mata para penonton terpaku pada setiap helai kain yang bercerita tentang budaya Nusantara, dipadukan dengan sentuhan modern yang elegan. Thresia mengaku tak bisa menahan haru. "Saya melihat mereka berdiri tegak, bangga. Itu momen yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup," ujarnya. Air mata bangga menetes di pipinya, menyaksikan anak-anak asuhnya membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di level tertinggi.

Inspirasi yang Menyala untuk Generasi Berikutnya

Kisah ini bukan hanya tentang satu atau dua orang. Thresia berharap perjalanan PINTU dapat menjadi inspirasi bagi ribuan desainer muda lainnya di seluruh Indonesia. Ia ingin mereka tahu bahwa mimpi tidak pernah terlalu besar, asalkan ada kemauan untuk berjuang. "Jangan takut bermimpi setinggi langit. Kami sudah membuktikan bahwa dari ruang kecil di Jakarta, kita bisa sampai ke Paris," pesannya dengan mata berbinar.

Kini, di setiap pertemuan bersama para peserta residensi dan inkubator, Thresia selalu mengingatkan satu hal: bahwa kesuksesan sejati bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa banyak kita bisa mengangkat orang lain untuk ikut melangkah bersama. Perjalanan ini masih panjang, namun satu hal yang pasti, pintu menuju panggung dunia kini telah terbuka lebar bagi mereka yang berani bermimpi. Dan Thresia, bersama seluruh timnya, akan terus berdiri di belakang mereka, menjadi jembatan antara mimpi dan kenyataan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User