Di sudut kota Yogyakarta yang riuh oleh mahasiswa dan wisatawan, seorang perempuan duduk termenung di beranda rumah kontrakannya yang sempit. Langit sore berwarna jingga, persis seperti ingatannya dua puluh tahun lalu, ketika ia masih gadis kecil yang berlari di pematang sawah tanpa beban. Kini, di usianya yang menginjak kepala tiga, ia memutuskan hal yang paling ditakutkan banyak orang: pulang. Bukan pulang untuk berlibur, melainkan pulang untuk menghadapi hantu masa lalunya sendiri. Perjalanan itu tertuang dalam film Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java), sebuah karya yang mengisahkan pergulatan hidup dan batin seorang perempuan penyintas kekerasan seksual yang kembali ke kampung halamannya.
Mimpi yang Sempat Terkubur di Bawah Pematang Sawah
Pertiwi, tokoh utama dalam film ini, digambarkan sebagai perempuan yang telah lama meninggalkan desanya. Ia pergi bukan karena ambisi, melainkan karena rasa malu dan takut yang mencekik. Kekerasan seksual yang dialaminya semasa remaja membuatnya merasa bahwa kampung halaman bukan lagi tempat berlindung, melainkan panggung tempat aibnya dipamerkan. Di kota, ia berjuang sendirian, menata hidup dari nol, belajar mencintai dirinya kembali setitik demi setitik. Namun, ada satu hal yang tak pernah bisa ia lepaskan: aroma tanah basah setelah hujan, suara gamelan dari balai desa, dan wajah ibunya yang menua perlahan tanpa pernah ia jenguk.
“Saya merasa hidup saya seperti empat musim. Ada musim semi ketika saya masih polos, musim panas ketika semuanya terasa membara dan menyakitkan, musim gugur ketika saya kehilangan arah, dan musim dingin yang membekukan hati saya,” ujar Pertiwi dalam sebuah adegan yang mengharukan. Kalimat itu bukan sekadar dialog, melainkan cerminan dari ribuan perempuan yang pernah mengalami hal serupa dan memilih diam karena takut disalahkan.
Kembali ke Rumah, Kembali ke Luka
Kepulangan Pertiwi bukan tanpa gejolak. Ia harus berhadapan dengan tetangga yang bisik-bisik, kerabat yang bertanya dengan nada menghakimi, dan tradisi desa yang masih menganggap perempuan sebagai penjaga kehormatan keluarga. Di satu sisi, ia rindu pelukan ibunya. Di sisi lain, ia tahu bahwa kedatangannya akan membuka kembali luka lama yang belum pernah benar-benar mengering. Sutradara menggambarkan konflik batin ini dengan sangat manusiawi: kamera sering kali menangkap punggung Pertiwi yang membungkuk, tangannya yang gemetar saat memegang cangkir teh, dan matanya yang berkaca-kaca ketika melihat kamar masa kecilnya yang masih sama.
“Aku pulang bukan karena aku sudah kuat. Aku pulang karena aku lelah berpura-pura kuat,” bisik Pertiwi kepada sahabat kecilnya dalam sebuah adegan di bawah pohon beringin tua.
Kalimat itu menyentuh banyak penonton. Banyak yang menangis, bukan karena adegan dramatis yang berlebihan, melainkan karena kejujuran yang sederhana: bahwa bangkit bukan berarti tidak pernah rapuh, melainkan berani mengakui kerapuhan itu sendiri.
Air Mata yang Menjadi Embun Pagi
Di babak akhir, Pertiwi menemukan hal yang tak pernah ia duga: ibunya telah lama menyimpan surat-surat yang tak pernah dikirim, berisi permohonan maaf karena tak mampu melindunginya dulu. Air mata pun jatuh di pipi keduanya, bukan air mata penyesalan, melainkan air mata penyembuhan. Film ini tidak menawarkan solusi instan. Ia hanya menunjukkan bahwa proses pulang, baik secara fisik maupun batin, adalah perjalanan panjang yang penuh liku, tetapi tetap layak untuk ditempuh.
Di balik layar, kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak penyintas untuk berani bercerita. Empat Musim Pertiwi bukan sekadar film, melainkan cermin bagi mereka yang pernah kehilangan suara. Melalui kisah Pertiwi, kita diingatkan bahwa tanah kelahiran tidak selalu menjadi tempat paling aman, tetapi kadang justru di sanalah kita belajar menerima diri sendiri seutuhnya. Musim boleh berganti, luka boleh membekas, namun selama masih ada keberanian untuk pulang, selalu ada harapan untuk bangkit.
Seperti kata Pertiwi di akhir cerita, “Musim dingin mungkin panjang, tapi ia tidak pernah abadi.” Dan bagi banyak perempuan di luar sana, kalimat itu cukup untuk membuat mereka bertahan satu hari lagi.
Comments (0)