Oct 10, 2026
entertainment

Ketika Artis Indonesia Bersatu dalam Doa untuk Garuda

Langit Jakarta malam itu belum sepenuhnya gelap ketika sejumlah nama besar dari dunia hiburan Tanah Air mulai mengunggah pesan yang sama di akun media sosial mereka. Bukan tentang proyek film terbaru,...

Ketika Artis Indonesia Bersatu dalam Doa untuk Garuda

Langit Jakarta malam itu belum sepenuhnya gelap ketika sejumlah nama besar dari dunia hiburan Tanah Air mulai mengunggah pesan yang sama di akun media sosial mereka. Bukan tentang proyek film terbaru, bukan pula soal album yang tengah digarap. Semuanya berbicara tentang satu hal: Timnas Garuda yang akan berlaga di final FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (5/10) malam nanti.

Di antara tumpukan notifikasi itu, nama Baila No Na muncul dengan unggahan sederhana namun sarat makna. Ia memilih bermain basket di sebuah lapangan terbuka di kawasan Jakarta Selatan bersama sejumlah teman—bukan sebagai bentuk ketidakpedulian, melainkan cara uniknya menyalakan semangat kompetisi. "Kalau kami saja bisa bermain dengan sepenuh hati, kenapa Garuda tidak?" tulisnya dalam keterangan foto yang memperlihatkan dirinya tersenyum lebar sambil memegang bola.

Unggahan itu disambut ribuan komentar dari warganet yang ikut membara. Ada yang menuliskan "Ayo Garuda!", ada pula yang mengaku terharu melihat artis-artis muda tetap menjaga nyala dukungan meski jadwal syuting padat. Di kolom komentar, nama Jennifer Coppen ikut mencuri perhatian. Ia mengunggah potret putrinya yang mengenakan jersey merah putih dengan caption penuh haru: "Kamu belum bisa bicara banyak, Nak. Tapi malam ini, Bunda akan berteriak untukmu dan untuk Indonesia."

Di Balik Sorotan Kamera, Ada Rindu yang Sama

Fenomena ini bukan sekadar euforia sesaat. Di balik unggahan-unggahan yang tampak ringan, tersimpan cerita personal yang jarang tersentuh kamera. Salah satu penyanyi yang enggan disebut namanya mengaku bahwa malam final nanti terasa berbeda. Ayahnya, seorang mantan pemain bola kampung di Solo, meninggal dua tahun lalu tanpa pernah sempat melihat Indonesia melaju sejauh ini.

"Setiap kali mendengar lagu kebangsaan berkumandang, saya selalu ingat almarhum. Malam nanti saya akan menonton sambil memegang jaket lamanya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di sela-sela latihan vokalnya.

Cerita serupa datang dari sejumlah figur publik lain yang memilih menunda jadwal syuting demi menyaksikan pertandingan secara langsung, baik di stadion maupun melalui layar kaca bersama keluarga. Ada yang mengatur ulang jadwal konser, ada pula yang sengaja pulang lebih awal dari lokasi syuting hanya untuk menyiapkan camilan dan mengundang tetangga menonton bersama.

"Bola itu bukan cuma soal menang atau kalah. Dia bisa menyatukan orang yang bahkan tidak saling kenal," kata seorang aktor senior yang ikut meramaikan seruan dukungan lewat siaran langsung di akun pribadinya.

Ketika Panggung Hiburan Berubah Jadi Tribun Virtual

Sepanjang Senin pagi hingga sore, jagat maya Indonesia berubah menjadi tribun raksasa. Tagar dukungan untuk Garuda bertengger di posisi teratas, diselingi potongan video para artis yang menyanyikan lagu kebangsaan dari rumah masing-masing.

Tidak sedikit yang mengunggah kenangan masa kecil: menonton pertandingan bersama kakek, bermain bola di gang sempit, atau menyimpan kliping koran lama tentang kemenangan Timnas di era 1990-an. Semua potongan memori itu mengalir menjadi satu narasi besar—bahwa sepak bola telah lama menjadi bahasa pemersatu yang melampaui usia, profesi, dan latar belakang.

Jennifer Coppen, dalam salah satu unggahannya, menuliskan harapan yang sederhana namun mengena. "Saya ingin anak saya tumbuh di negeri yang bangga pada timnya sendiri. Malam ini adalah salah satu caranya."

Baila No Na pun menambahkan pesan yang tak kalah menyentuh. Menurutnya, dukungan dari dunia hiburan bukan sekadar ikut-ikutan tren. "Kami ini bagian dari masyarakat juga. Kalau kami diam, siapa lagi yang menyemangati mereka dari jauh?" katanya.

Malam yang Menyatukan Banyak Doa

Menjelang kick-off, sejumlah artis dikabarkan berkumpul di sebuah kafe di kawasan Kemang untuk menonton bersama. Ada yang datang membawa syal merah putih, ada yang mengenakan jersey bertuliskan nama pemain favoritnya. Tawa dan sorakan bercampur menjadi satu, seolah menghapus sekat antara bintang panggung dan penonton biasa.

Di sudut lain kota, seorang penyanyi muda mengaku memilih menonton sendiri di kamar kosnya yang berukuran 3x4 meter. Di dindingnya terpampang poster timnas yang sudah mulai menguning. "Biar sederhana, yang penting saya ikut merasakan deg-degannya," ujarnya lirih.

Apa pun hasil akhir pertandingan nanti, satu hal yang telah terbukti malam ini: dukungan untuk Garuda bukan milik segelintir orang. Ia mengalir dari panggung hiburan ke ruang-ruang keluarga, dari layar ponsel ke doa yang dipanjatkan dalam diam.

Sepak bola, pada akhirnya, selalu berhasil menemukan cara untuk menyentuh sisi paling manusiawi dari siapa pun—termasuk mereka yang terbiasa tampil gemerlap di bawah sorot lampu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User