Di sudut jalan kecil yang masih lengang oleh embun, asap mengepul pelan dari sebuah gerobak kayu. Aroma pandan dan santan beradu dengan dinginnya pagi, mengundang siapa pun yang lewat untuk berhenti sejenak. Seorang perempuan setengah baya, berbalut jarit lusuh, menuangkan sesendok susu kental ke atas tumpukan ketan putih yang masih hangat. Senyumnya merekah saat seorang anak kecil berlari kecil, menggenggam uang receh, lalu berseru, “Seperti biasa, Mbah!”
Mbah Siti, begitu ia dipanggil, sudah 30 tahun menjajakan ketan susu di trotoar yang sama. Gerobaknya saksi bisu ribuan pagi yang ia lewati, mengantarkan sarapan sederhana pada para pekerja, mahasiswa, hingga anak-anak sekolah. Di antara uap ketan dan gemericik air hujan yang kadang menerpa atap terpalnya, ada cerita panjang tentang keteguhan dan cinta yang tak pernah lekang.
Aroma yang Membawa Pulang
Bagi banyak orang, ketan susu bukan sekadar penganan. Ada kenangan yang menempel di setiap butirnya. Aroma beras ketan yang ditanak dengan daun pandan seolah menjadi mesin waktu, membawa siapa saja kembali ke dapur masa kecil, ke tangan seorang ibu atau nenek yang lihai mengaduk santan di atas tungku.
Bagi Mbah Siti, kenangan itu terasa lebih dalam. Ia memulai segalanya dari nol, saat suaminya berpulang dan ia harus menghidupi tiga anaknya seorang diri. Bermodalkan resep warisan ibunya, ia memberanikan diri mendorong gerobak ke depan rumah petaknya. Tak banyak yang ia tahu tentang dagang kala itu. Yang ia punya hanyalah tekad dan keinginan agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah. “Awalnya sering pulang dengan ketan masih penuh,” kenangnya, matanya menerawang. “Tapi saya hanya bisa berdoa dan terus mencoba. Sampai akhirnya, pelanggan datang satu per satu.”
Kini, ketan susu racikannya dikenal dengan tekstur pulen yang sempurna, tidak lengket berlebihan, dan siraman susunya yang pas—gurih, manis, dan sedikit asin yang menyeimbangkan. Racikan itu lahir dari eksperimen panjang: memilih varietas ketan terbaik, mengukur takaran santan, hingga memastikan susu kental manis yang ia beli bukan yang asal murah. Semua ia lakukan dengan satu prinsip: menghadirkan yang terbaik, meski dari gerobak sederhana.
Tangan Lembut di Balik Setiap Porsi
Di balik ketan susu yang gurih dan pulen, ada tangan-tangan yang bekerja tanpa kenal lelah. Setiap pukul dua dini hari, Mbah Siti sudah bangun. Ia mencuci beras ketan yang telah direndam semalaman, lalu menanaknya dengan api sedang. Sembari menunggu, ia menyiapkan taburan kelapa parut yang dikukus lembut, memastikan tidak ada gumpalan dan tiap seratnya terlapisi rasa gurih alami. Proses itu memakan waktu hampir tiga jam sebelum akhirnya gerobak didorong ke tempat biasa.
Tangan tuanya kini mulai gemetar karena usia, tetapi semangatnya tidak. Cucunya, Raka, laki-laki 19 tahun yang baru lulus sekolah, kini ikut membantu. Awalnya ia malu mendorong gerobak di antara mobil-mobil mewah yang berlalu-lalang. Namun pelan-pelan, ia belajar bahwa kebanggaan tidak diukur dari apa yang dijual, melainkan dari seberapa tulus sesuatu dibuat. “Dulu saya suka ngumpet kalau teman lewat,” aku Raka sambil tertawa kecil. “Tapi sekarang saya sadar, Mbah bukan cuma jualan ketan. Beliau jualan kenangan dan kebahagiaan. Banyak yang bilang, kalau pagi belum makan ketan susu Mbah Siti, rasanya ada yang kurang.”
Lebih dari Sekadar Ketan
Ketan susu Mbah Siti mungkin tak pernah masuk daftar rekomendasi restoran mewah, tetapi ia punya tempat istimewa di hati para pelanggannya. Ada kisah seorang tukang ojek yang setiap pagi mampir, lalu suatu hari datang bersama istrinya yang baru melahirkan, meminta doa restu agar anaknya sehat. Ada pula mahasiswa rantau yang mengaku ketan susu ini mengobati rindu pada kampung halaman. Satu per satu cerita itu seperti helai benang yang dijalin menjadi satu kain kebersamaan.
“Saya cuma ingin orang merasa dipedulikan, meski cuma lewat seporsi ketan. Kalau mereka senang, saya sudah cukup bahagia,”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Mbah Siti, sederhana namun menusuk. Di tengah hiruk-pikuk kota yang kian individualis, gerobak kecilnya menjadi ruang hening tempat orang saling bertukar senyum tulus. Tak jarang, pelanggan yang datang bukan hanya membeli, tapi juga bercerita tentang hari mereka, tentang mimpi yang hampir putus, tentang harapan yang pelan-pelan tumbuh lagi.
Ketan susu yang gurih dan pulen itu sebenarnya hanyalah medium. Medium bagi cinta, ketekunan, dan pelukan hangat yang sering terlupakan. Setiap suapan mengingatkan bahwa di balik hal-hal kecil yang kita temui sehari-hari, mungkin tersimpan perjuangan yang tak kasat mata. Mbah Siti dan ketannya mengajarkan, bahwa kebahagiaan bisa lahir dari kesederhanaan yang dikerjakan sepenuh hati.
Pagi itu, ketika mentari mulai meninggi, Mbah Siti menutup gerobaknya lebih awal. Stok ketan hari itu habis total. Seorang anak kecil berlari mengejar, tetapi ia hanya bisa tersenyum, “Besok lagi, ya, Nak. Besok Mbah buatkan lebih banyak.” Dan esok hari, sebelum ayam jantan berkokok, ia akan kembali berdiri di sudut itu, menuangkan susu di atas ketan putih, meracik gurih dan pulen yang siap menyapa siapa pun yang butuh sedikit kehangatan.
Comments (0)