Aug 26, 2026
Nasional

Keraton Solo Gelar Kirab Gunungan Grebeg Maulud, Warga Rebut Berkah

Suasana khidmat menyelimuti Kota Solo pada Jumat (5/9/2025). Sejak pagi, ribuan warga memadati jalanan di sekitar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Keraton Solo Gelar Kirab Gunungan Grebeg Maulud, Warga Rebut Berkah

Suasana khidmat menyelimuti Kota Solo pada Jumat (5/9/2025). Sejak pagi, ribuan warga memadati jalanan di sekitar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Mereka tak ingin melewatkan momen langka menyaksikan kirab Gunungan Grebeg Maulud, prosesi adat istimewa yang digelar sebagai puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dengan busana adat lengkap, para abdi dalem berjalan tertib mengapit gunungan raksasa berisi hasil bumi. Iringan gamelan mengalun merdu, menemani barisan prajurit keraton yang mengenakan busana kebesaran Keraton Solo. Udara pagi dipenuhi aroma dupa dan harum bunga, menciptakan nuansa sakral yang terasa begitu kuat.

Kirab Sakral dari Keraton Menuju Masjid Agung

Prosesi kirab dimulai dari lingkungan dalam keraton, kemudian melintasi sejumlah ruas jalan utama Kota Solo menuju Masjid Agung Surakarta. Sepanjang rute, warga memadati pinggir jalan. Sebagian datang sejak subuh hanya untuk mendapat tempat terbaik menyaksikan gunungan lewat. Tak sedikit pula wisatawan domestik maupun mancanegara yang sengaja hadir untuk merekam momen tersebut.

Gunungan dibawakan dengan cara diusung bersama-sama oleh beberapa orang abdi dalem. Gerakannya lambat namun penuh penghormatan, mencerminkan nilai kesabaran dan kebersamaan yang diajarkan dalam tradisi Jawa. Sesampainya di masjid, gunungan disembahyangkan dan didoakan oleh para ulama serta sesepuh keraton sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

"Ini warisan leluhur yang harus kita jaga. Setiap tahun saya selalu hadir, karena merasakan langsung atmosfernya jauh berbeda dibanding sekadar menonton di layar," ujar salah seorang warga Solo yang telah puluhan kali menyaksikan prosesi ini.

Filosofi Gunungan: Simbol Kemakmuran dan Kesyukuran

Grebeg Maulud bukan sekadar pertunjukan budaya. Di balik setiap tata cara prosesinya, tersimpan filosofi mendalam tentang hubungan antara pemimpin, rakyat, dan Sang Pencipta. Gunungan yang berbentuk menyerupai gunung tersusun dari berbagai komoditas hasil bumi, mulai dari beras, sayur-mayur, buah-buahan, hingga jajanan pasar tradisional.

Unsur GununganSimbolisme
Beras dan palawijaKesejahteraan dan ketahanan pangan rakyat
Sayur-mayur dan buah segarKesuburan alam dan hasil panen melimpah
Jajanan pasar dan rujakPersatuan dalam keberagaman cita rasa
Bunga dan daun mudaKesucian niat dan ketulusan hati

Bagi masyarakat Jawa, gunungan merupakan lambang alam semesta yang memberikan rezeki kepada manusia. Melimpahnya isi gunungan menjadi doa agar tahun-tahun berikutnya rakyat hidup makmur dan sejahtera.

Rebuthan, Momen Rebut-Rebutan Berkah

Puncak antusiasme warga terjadi saat sesi pembagian atau yang dikenal dengan istilah rebuthan. Setelah didoakan, isi gunungan dibagikan kepada masyarakat. Dalam hitungan detik, ribuan orang saling berebut memperoleh bagian gunungan. Bagi yang percaya, membawa pulang sebagian kecil isi gunungan diyakini membawa berkah, keberuntungan, dan keselamatan bagi keluarga.

Tidak jarang petani menyimpan potongan gunungan untuk dicampur ke benih tanaman mereka. Keyakinan lama menyebut hal itu akan membuat panen melimpah dan terhindar dari hama. Semangat rebutan ini justru menjadi daya tarik tersendiri, menampilkan wajah tradisi yang hidup, riang, dan membumi.

"Saya sudah antre dari jam lima pagi. Alhamdulillah dapat bagian gunungan. Insya Allah ini menjadi berkah untuk keluarga di rumah," kata seorang ibu warga yang berhasil membawa pulang sebagian isi gunungan dengan wajah bahagia.

Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan

Hadirnya Grebeg Maulud hingga hari ini menunjukkan harmoni antara nilai-nilai Islam dan kebudayaan lokal yang telah berlangsung berabad-abad. Tradisi ini menjadi bukti bahwa dakwah dapat berpadu dengan seni dan adat tanpa kehilangan substansinya. Pemerintah Kota Solo pun menjadikan acara ini bagian dari kalender pariwisata budaya yang terus dipromosikan.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Grebeg Maulud adalah ruang silaturahmi besar bagi masyarakat. Anak-anak belajar mengenal warisan leluhur, generasi tua menghidupkan kembali kenangan, dan kota Solo kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa yang tetap eksis di tengah arus modernisasi.

[SOCIAL_TWEET]: Kirab Gunungan Grebeg Maulud warnai puncak Maulid Nabi di Keraton Solo! Ribuan warga padati jalan dan rebut berkah gunungan. #GrebegMaulud #KeratonSolo #MaulidNabi[SOCIAL_TG]: 🕌 Keraton Solo gelar kirab Gunungan Grebeg Maulud, puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (Jumat, 5/9/2025). Ribuan warga memadati jalanan dan berebut berkah gunungan. Baca liputan lengkapnya hanya di Beritaseputar.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User