Oct 10, 2026
entertainment

Keonho Menapaki Panggung Chanel di Paris Fashion Week

Di antara derap langkah model papan atas dan kilatan kamera para fotografer mode, sebuah momen kecil terjadi di balik panggung sebuah show Chanel di Paris. Seorang pemuda bernama Keonho berdiri di bal...

Keonho Menapaki Panggung Chanel di Paris Fashion Week

Di antara derap langkah model papan atas dan kilatan kamera para fotografer mode, sebuah momen kecil terjadi di balik panggung sebuah show Chanel di Paris. Seorang pemuda bernama Keonho berdiri di balik tirai, menarik napas panjang, dan memejamkan mata sesaat. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia melangkah keluar sebagai bagian dari rumah mode legendaris asal Prancis itu.

Debut Keonho di Paris Fashion Week bersama Chanel bukan sekadar sebuah penampilan. Bagi banyak orang yang mengikuti perjalanannya, momen itu adalah titik temu antara kerja keras bertahun-tahun dan sebuah mimpi yang pernah terasa terlalu jauh untuk dijangkau.

Malam Panjang Sebelum Panggung Menyala

Kisahnya tidak dimulai di ruang ganti megah, melainkan di ruang-ruang sederhana tempat ia belajar memahami tubuhnya sendiri sebagai seorang model. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, ia kerap berdiri berjam-jam di depan cermin, mengulang cara berjalan, menata wajah, dan membiasakan diri menahan rasa gugup yang datang tanpa diundang.

Bagi Keonho, menjadi model bukan soal penampilan semata. Ia mengisahkan bahwa perjalanan menuju panggung internasional penuh dengan penolakan, jadwal castings yang melelahkan, dan momen-momen ketika ia hampir menyerah. Ada malam-malam ketika ia pulang tanpa hasil, hanya membawa catatan tentang apa yang harus diperbaiki, lalu mengulanginya lagi keesokan hari.

"Saya tidak pernah berpikir bisa berada di tempat ini. Yang saya lakukan hanya mencoba lagi besok," ujarnya dengan nada tenang.

Ketika kabar bahwa ia terpilih untuk tampil bersama Chanel datang, reaksi pertamanya bukan kegembiraan, melainkan rasa tidak percaya. Ia mengaku perlu beberapa saat untuk memproses berita itu, seolah dunia berhenti berputar sejenak sebelum akhirnya kembali bergerak dengan tempo yang jauh lebih cepat.

Paris, Kota yang Mengubah Segalanya

Paris selalu punya cara sendiri menyambut mereka yang datang dengan mimpi. Kota itu penuh dengan sejarah mode, nama-nama besar, dan standar yang tidak mudah ditembus. Untuk Keonho, tiba di sana berarti berjalan di atas lantai yang sama dengan para idola yang selama ini hanya ia lihat lewat layar.

Di balik layar persiapan show, suasana tegang namun penuh semangat. Setiap detail diatur dengan cermat: penataan busana, riasan, hingga jarak antarmodel saat berjalan. Keonho mengisahkan bahwa ia banyak belajar dari sesama model yang lebih berpengalaman, yang dengan sabar berbagi tips kecil namun berarti.

Satu hal yang paling ia ingat adalah betapa pentingnya tetap menjadi diri sendiri di tengah tekanan besar. Ia menyadari bahwa setiap model membawa cerita masing-masing, dan justru keunikan itu yang membuat seseorang bertahan di industri yang bergerak sangat cepat ini.

Kisah yang Menginspirasi di Balik Satu Penampilan

Bagi kebanyakan penonton, sebuah fashion show berlangsung hanya beberapa belas menit. Namun di balik layar, ada berbulan-bulan persiapan, doa, dan kerja keras yang tak terlihat. Momen mengharukan bagi Keonho terjadi ketika ia melihat keluarganya menyaksikan dari jauh, dengan bangga menyimpan tautan siaran yang menampilkan langkahnya di runway.

Air mata yang ia tahan selama ini akhirnya menetes bukan karena sedih, melainkan karena ia tahu perjuangannya selama ini membuahkan hasil. Banyak yang menyebut kisahnya sebagai inspirasi bagi mereka yang sedang berjuang mengejar mimpi di jalur yang belum tentu ramah.

Industri mode memang keras, tetapi kehadiran figur seperti Keonho mengingatkan kita bahwa setiap orang berhak untuk bangkit dari penolakan dan mencoba lagi. Debutnya bersama Chanel di Paris Fashion Week hanyalah satu babak awal; perjalanannya masih panjang, penuh kemungkinan, dan menunggu untuk ditulis lebih jauh.

Kini, ketika lampu panggung telah padam dan kursi-kursi penonton kosong, tersisa satu kesan yang membekas: bahwa mimpi sederhana seorang anak muda, yang pernah berlatih sendirian di depan cermin kecil, akhirnya menemukan panggungnya di kota penuh cahaya bernama Paris.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User