Aug 26, 2026
entertainment

Juminten Edan: Saat Luka Batin Menjelma Teror Rumah Tangga

Pagi itu, aroma nasi goreng hangat masih mengepul dari dapur rumah mungil bercat biru. Juminten, perempuan berusia 34 tahun, berdiri mematung di depan kompor. Matanya kosong menatap uap yang menari-na...

Juminten Edan: Saat Luka Batin Menjelma Teror Rumah Tangga

Pagi itu, aroma nasi goreng hangat masih mengepul dari dapur rumah mungil bercat biru. Juminten, perempuan berusia 34 tahun, berdiri mematung di depan kompor. Matanya kosong menatap uap yang menari-nari, sementara spatula di tangannya bergetar pelan. Di ruang tengah, suaminya, Slamet, memandang dengan dada yang tiba-tiba terasa sesak. Bukan masakan yang membuatnya cemas, melainkan perubahan yang perlahan menggerogoti perempuan yang dicintainya itu. Tanpa sebab yang jelas, Juminten mulai berbicara sendiri, tertawa di saat-saat yang tak pantas, lalu tiba-tiba menangis histeris sambil menyebut nama-nama yang tak dikenal.

Langkah Pertama Menuju Kegelapan

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Awalnya hanya hal-hal kecil: Juminten sering lupa meletakkan barang, sering melamun di depan cermin lebih lama dari biasanya. Anak bungsunya, Rara, yang baru berusia enam tahun, sering menangis karena ibunya tiba-tiba memeluknya terlalu erat sambil berbisik, "Kamu bukan anak ibu." Slamet mencoba berpikir rasional—mungkin istrinya kelelahan atau stres karena tekanan ekonomi. Namun, ketika suatu malam ia terbangun dan mendapati Juminten duduk di ujung tempat tidur sambil menatapnya tanpa berkedip selama hampir satu jam, nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang jauh lebih gelap sedang terjadi.

Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Berlindung

Dalam hitungan minggu, rumah yang dulu penuh tawa berubah menjadi ruang penuh ketakutan. Juminten mulai melakukan hal-hal yang tak bisa dijelaskan akal sehat. Ia mencoret-coret dinding kamar dengan arang, menggambar simbol-simbol aneh yang tidak dimengerti siapa pun. Suatu sore, tetangga dikejutkan oleh teriakannya yang melengking dari halaman belakang. Juminten berdiri di bawah pohon mangga sambil mencakar-cakar tanah dengan tangan kosong, berteriak bahwa ada "mereka" yang ingin mengambil anak-anaknya. "Setiap malam, kami seperti hidup bersama orang asing," ujar Slamet dengan suara serak, matanya menerawang ke sudut ruangan yang remang. "Saya kehilangan istri saya, dan anak-anak kehilangan ibu mereka, padahal tubuhnya masih di sini."

Pencarian di Antara Serpihan Kenangan

Keluarga besar mulai turun tangan. Mereka membawa Juminten ke berbagai tempat—mulai dari dokter, psikiater, hingga tokoh spiritual. Diagnosis medis menyebutkan gangguan disosiatif yang dipicu trauma masa lalu, tapi keluarga juga dihadapkan pada bisik-bisik tetangga tentang hal-hal gaib. Di tengah kebingungan itu, Slamet menemukan sebuah buku harian tua di lemari pakaian istrinya. Terselip di antara halaman-halaman yang sudah menguning, ia membaca kisah yang tak pernah diceritakan Juminten: kehilangan seorang adik yang sangat dicintainya dalam sebuah kecelakaan tragis saat mereka masih remaja. Selama bertahun-tahun, Juminten memendam rasa bersalah dan duka yang tak pernah terucap.

Trauma yang Bersuara Lewat Tubuh

Buku harian itu menjadi kunci membuka tabir misteri. Psikolog yang menangani Juminten menjelaskan bahwa trauma yang terpendam bisa muncul dalam bentuk yang sangat ekstrem, terutama ketika pikiran tidak lagi mampu membangun tembok pertahanan. Perilaku "edan" yang ditunjukkan Juminten sejatinya adalah jeritan batin yang selama puluhan tahun dibungkam. Setiap teriakan, setiap tatapan kosong, adalah bahasa luka yang tak pernah menemukan kata-kata. "Trauma itu seperti bayangan," tutur psikolog yang mendampingi keluarga itu. "Ia menunggu saat paling rentan untuk kemudian mengambil alih kendali sepenuhnya."

Secercah Harapan di Tengah Badai

Hari ini, Juminten masih berjuang. Proses terapi berjalan perlahan, seperti meniti jembatan rapuh di atas jurang. Ada hari di mana ia kembali tersenyum dan memanggang kue kesukaan anak-anaknya, tapi ada pula hari di mana ia kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Slamet dan anak-anaknya belajar menerima bahwa penyembuhan bukanlah garis lurus. Mereka menempelkan catatan kecil di setiap sudut rumah: "Ibu, kami sayang Ibu." Mungkin, bagi sebagian orang, kisah ini hanyalah tentang seorang perempuan yang hilang akal. Tapi bagi mereka yang mau melihat lebih dalam, ini adalah cerita tentang betapa rapuhnya jiwa manusia, dan betapa kuatnya cinta keluarga yang memilih bertahan. Di balik tirai jendela rumah bercat biru itu, sebuah pertempuran sunyi terus berkecamuk—bukan antara manusia dan makhluk halus, melainkan antara kenangan dan harapan untuk sembuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User