Hari belum sepenuhnya gelap ketika suara pertama itu meluncur dari bibir panggung. Udara sore di BSD mulai diselimuti energi yang tak biasa. Di tengah lautan manusia yang berdiri berjejal, seorang ibu separuh baya menggenggam tangan anak lelakinya, lalu bersama-sama mengikuti lantunan nada yang terasa sangat akrab. Malam itu bukan sekadar konser, melainkan pertemuan hati dan kenangan yang berubah menjadi gemuruh kolektif.
Pintu Gerbang Suara Emas
Begitu Judika melangkah ke tengah panggung Trans TV Festival Vol. 5, atmosfer langsung berubah. Dengan kemeja sederhana dan senyum yang melebar, ia menyapa penonton seolah-olah tengah bicara dengan sahabat lama. Tanpa banyak kata, intro dari lagu “Bukan Rayuan Gombal” pecah, dan seketika seluruh lapangan berubah menjadi paduan suara raksasa. Penonton dari berbagai usia—remaja, pekerja kantoran, sampai kakek nenek—serempak membalas lirik demi lirik. Ada yang memejamkan mata, ada yang melompat, dan banyak yang merekam momen itu dengan ponsel sambil bibirnya tetap tak berhenti bernyanyi.
Sinta, 24 tahun, yang datang dari Tangerang bersama ibunya, tak sanggup menyembunyikan harunya. “Ini lagu yang dulu ibu sering putar saat masa-masa sulit sepeninggal ayah. Bisa menyanyikannya langsung begini, rasanya seperti melepas semua beban,” ujarnya setengah berseru di tengah gemuruh suara, matanya berkaca-kaca. Judika sendiri beberapa kali menghentikan nyanyiannya, membiarkan puluhan ribu orang yang mengambil alih bait lagu. Ia tersenyum lebar, sesekali menepuk dada kiri tanda terima kasih yang tak terucap.
Karaoke Massal dan Jejak Kenangan
Kekuatan terbesar malam itu adalah betapa pribadinya lagu-lagu yang dinyanyikan. Ketika Judika membawakan “Aku Yang Tersakiti”, suasana berubah magis. Sebagian penonton mengangkat lengan kanan, sebagian lagi bersandar di bahu pasangan masing-masing. Seorang pria berjaket hitam di barisan depan tampak menyeka sudut matanya berulang kali. “Ini lagu yang menemani saya saat putus cinta dulu,” katanya singkat setelah lagu usai, sebelum kembali larut dalam nyanyian berikutnya.
Ribuan suara itu menyatukan orang-orang dari beragam latar. Di sudut lain, sekelompok mahasiswa yang baru kenal di area festival saling mengalungkan tangan, membentuk lingkaran kecil sambil berteriak lantang: “Karena cinta, karena cinta!” Bukan sekadar nyanyian, mereka seolah sedang merayakan persahabatan yang baru beberapa jam terbentuk. Di dekat panggung, seorang pemuda dengan gugup meraih tangan kekasihnya tepat saat lirik “jangan sakiti dia yang tulus mencintamu” berkumandang. Si perempuan membalas dengan isyarat restu, lalu keduanya berpelukan dalam diam.
Festival ini menghadirkan lebih dari sekadar panggung musik. Di sepanjang area, pengunjung dapat menjajal wahana permainan keluarga, berfoto di instalasi seni yang terang-benderang, dan mencicipi aneka jajanan dari puluhan tenant yang berbaris rapi. Tapi malam itu, semuanya seperti menjadi latar belaka. Pusat gravitasi ada di depan panggung utama, di mana Judika menjadi konduktor tak resmi bagi karaoke massal tanpa batas waktu.
Yang Tak Lekang oleh Panggung
Menjelang lagu pamungkas, “Jikalau Kau Cinta”, puluhan balon bercahaya diterbangkan penonton. Langit malam BSD dihiasi titik-titik kecil yang bergoyang pelan, mengikuti irama lambat yang menghanyutkan. Anak-anak kecil di pundak ayah mereka ikut menggoyangkan lengan, meski mungkin belum paham betul arti liriknya. Sebuah keluarga yang berdiri di pinggir panggung, tampak sang ibu menangis haru. “Tiga tahun lalu kami hampir kehilangan harapan karena pandemi. Malam ini seperti hadiah kecil bahwa kami bisa kembali berkumpul dan bernyanyi tanpa rasa takut,” katanya sambil tersenyum getir.
Tepat setelah encore, Judika turun panggung sambil membungkuk dalam-dalam, dan sorakan masih menggema beberapa menit setelahnya. Sebagian penonton tetap tinggal, duduk di rerumputan, seperti enggan meninggalkan sisa-sisa energi yang baru saja mereka ciptakan bersama. Seorang petugas kebersihan, Pak Herman, yang sudah tiga kali bekerja di acara festival itu, berkata, “Biasanya setelah konser selesai, sampah berserakan dan orang cepat pulang. Tapi kali ini banyak yang malah duduk-duduk dulu, seperti masih ingin mengulang momennya. Saya jadi ikut terharu.”
Di tengah kemeriahan yang ditawarkan Trans TV Festival—dari lomba kostum, penampilan artis lain, hingga bazar produk lokal—momen pembuka oleh Judika menjadi sulit disaingi. Bukan karena spektakel panggung yang berlebihan, melainkan karena kejujuran interaksi antara satu suara dan ribuan hati yang meresponsnya. Di malam yang hangat itu, BSD bukan sekadar lokasi festival; ia menjadi rumah sementara bagi kenangan kolektif yang dinyanyikan dengan mata berbinar dan suara yang kadang sumbang, tapi penuh rasa.
Comments (0)