Di sebuah ruangan wawancara yang sunyi, dengan cahaya lampu yang lembut jatuh di wajahnya, Ju Ji-hoon tersenyum tipis ketika membicarakan sesuatu yang justru ditakuti banyak aktor: dibenci penonton. Bukan kebencian yang membuat karier meredup, melainkan kebencian yang membuktikan bahwa aktingnya berhasil menyentuh emosi paling dalam dari penonton.
Aktor Korea Selatan itu baru saja menyelesaikan proyek terbarunya, The Remarried Empress, sebuah drama yang mengangkat kisah kerajaan penuh intrik dan luka. Dalam cerita itu, ia memerankan sosok yang jauh dari kata pahlawan. Perannya sebagai karakter yang penuh ambisi dan berpotensi menyakiti tokoh utama membuatnya sadar bahwa gelombang kemarahan penonton akan datang menghampirinya. Namun anehnya, ia tidak menghindar. Ia justru menantikannya.
Ketika Karakter Tidak Harus Dicintai
Ju Ji-hoon mengisahkan bahwa sejak awal membaca naskah, ia sudah tahu peran ini bukan untuk mereka yang ingin dipuja. "Saya ingin karakter ini terasa nyata, dan manusia nyata tidak selalu baik," ujarnya dengan tenang, dikutip dari sebuah wawancara eksklusif. Baginya, tugas seorang aktor bukanlah membuat penonton menyukainya, melainkan membuat mereka merasakan sesuatu — bahkan jika rasa itu adalah amarah yang membara.
Di balik layar, ia menghabiskan berjam-jam mendiskusikan latar belakang karakternya dengan sutradara dan penulis naskah. Ia ingin tahu mengapa karakternya berbuat demikian, luka apa yang membentuknya, dan mengapa ia begitu keras kepala mempertahankan keinginannya. Proses itu, kata Ju Ji-hoon, membuatnya jatuh cinta pada sosok yang nantinya akan dibenci banyak orang.
"Kalau penonton marah, artinya mereka percaya pada ceritanya. Itu hadiah terbesar bagi seorang aktor."
Perjalanan Panjang Seorang Aktor yang Tak Takut Dicaci
Perjalanan Ju Ji-hoon di dunia akting bukan jalan yang selalu mulus. Ia pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan penonton, bagaimana kritik tajam menghantam, dan bagaimana air mata jatuh di balik senyum yang ia tunjukkan di depan kamera. Semua pengalaman itu membentuknya menjadi aktor yang tidak lagi takut pada reaksi negatif. "Saya sudah melewati masa-masa sulit, dan itu membuat saya lebih berani," kenangnya.
Menurutnya, karakter antagonis sering kali menjadi cermin bagi penonton. Mereka mengingatkan kita pada sisi gelap yang tidak ingin kita akui. Ketika penonton mencaci karakternya, mereka sebenarnya sedang berhadapan dengan kenyataan bahwa manusia bisa jatuh pada pilihan yang menyakitkan. Itulah yang membuat peran ini terasa begitu berarti bagi pria kelahiran 1982 itu.
Mimpi yang Sederhana dan Inspirasi yang Mengalir
Di tengah sorotan kamera dan ekspektasi industri, Ju Ji-hoon menyimpan mimpi yang sederhana: menjadi aktor yang bisa dipercaya. Ia tidak mengejar pujian, apalagi gelar bintang. Baginya, kepuasan terbesar adalah ketika seseorang menonton dan merasa ditemani oleh kisah yang ia bawakan.
Ia bercerita tentang momen mengharukan saat seorang penggemar menghampirinya dan berkata bahwa perannya di salah satu drama membuatnya bangkit dari keterpurukan. "Saat itu saya sadar, akting bukan sekadar pekerjaan. Ini cara saya menyentuh hidup orang lain," tuturnya dengan mata yang berbinar.
Kini, dengan The Remarried Empress, Ju Ji-hoon kembali membuka hatinya untuk dicaci, dikritik, bahkan dibenci. Namun di balik semua itu, ia berdiri tegak dengan satu keyakinan: bahwa cerita yang jujur, sekalipun menyakitkan, adalah cerita yang layak untuk diceritakan. Dan bagi aktor yang telah melewati berbagai badai ini, kemarahan penonton bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah koneksi yang lebih dalam.
Comments (0)