Oct 11, 2026
entertainment

Jirayut dan Mimpi Kecil Menonton Timnas di Tengah Jadwal Padat

Di sebuah sudut ruangan yang penuh dengan peralatan syuting, Jirayut duduk bersandar sambil menggenggam ponselnya. Matanya tak lepas dari layar, menatap jadwal pertandingan yang tertulis jelas: Indone...

Jirayut dan Mimpi Kecil Menonton Timnas di Tengah Jadwal Padat

Di sebuah sudut ruangan yang penuh dengan peralatan syuting, Jirayut duduk bersandar sambil menggenggam ponselnya. Matanya tak lepas dari layar, menatap jadwal pertandingan yang tertulis jelas: Indonesia vs Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (5/10). Dalam hati kecilnya, ia mengisahkan sebuah keinginan sederhana yang jarang ia ucapkan di depan kamera—ia ingin sekali berada di stadion, bukan hanya menjadi penonton dari balik layar kecil.

"Sebenarnya pengen banget nonton langsung. Tapi ya namanya kerja, harus lihat jadwal dulu," ujarnya lirih, suara khasnya yang biasa membuat orang tersenyum kini terdengar lebih dalam. Kalimat itu bukan sekadar keluhan, melainkan potret perjuangan seorang pekerja seni yang harus pandai membagi waktu antara panggung hiburan dan kecintaannya pada sepak bola tanah air.

Ketika Sepak Bola Menjadi Obat Rindu

Bagi Jirayut, sepak bola bukan sekadar tontonan. Ia mengaku sepak bola adalah jembatan yang menghubungkan dirinya dengan Indonesia, negara yang telah membesarkan namanya. Di balik gemerlap lampu studio dan tawa penonton, ada momen-momen sunyi ketika ia merindukan suasana stadion—teriakan suporter, aroma rumput basah, dan dentuman drum yang menggetarkan dada.

"Kalau nonton bareng teman-teman, rasanya seperti pulang. Walaupun jauh dari rumah, sepak bola bikin saya merasa dekat," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia mengisahkan bagaimana dulu, saat masih merintis karier, ia hanya bisa menonton pertandingan Timnas melalui layar televisi di kamar kosnya yang sempit. Kini, meski namanya sudah dikenal banyak orang, hasrat untuk duduk di tribun bersama ribuan suporter Merah Putih tak pernah pudar. Bahkan, ia sempat berkelakar bahwa ia rela menyisihkan jadwal syuting jika ada kesempatan menonton langsung.

Perjuangan di Balik Layar Sang Hiburan

Namun, menjadi figur publik berarti harus siap dengan konsekuensi. Jadwal padat, tuntutan pekerjaan, dan ekspektasi penggemar membuat waktu pribadinya semakin tipis. Jirayut bercerita bahwa ia sering kali harus memilih antara menghadiri undangan syuting atau menyaksikan pertandingan tim favoritnya. Pilihan itu tidak selalu mudah, dan di balik senyumnya, ada rasa kehilangan yang ia simpan rapi.

"Kadang saya cuma bisa nonton highlight-nya aja. Tapi ya tetap semangat, karena saya tahu perjuangan pemain juga berat," tuturnya. Baginya, semangat Timnas Indonesia yang berjuang di lapangan adalah cerminan dari perjalanan hidupnya sendiri—penuh rintangan, namun selalu bangkit.

Ia pun berharap, suatu hari nanti bisa menyaksikan langsung laga Indonesia vs Thailand di stadion, merasakan atmosfer yang selama ini hanya ia bayangkan. "Pokoknya kalau ada rezeki dan waktu, saya pasti datang. Doakan ya," pintanya sambil tersenyum.

Harapan Kecil yang Menyentuh Hati

Kisah Jirayut mungkin terdengar sederhana. Namun di balik keinginan menonton pertandingan, tersimpan mimpi seorang anak rantau yang ingin merayakan cinta pada Indonesia dengan cara paling jujur: hadir dan bersorak bersama. Ia tidak meminta kemewahan, hanya kesempatan untuk menjadi bagian dari momen bersejarah, merasakan getaran kebanggaan yang selama ini ia bagikan lewat layar kaca.

Di tengah jadwal yang padat dan tuntutan pekerjaan, Jirayut tetap menyimpan harapan itu. Sebuah harapan kecil yang menyentuh, bahwa suatu hari ia akan duduk di bangku stadion, mengenakan jersey merah putih, dan menyanyikan lagu kebangsaan dengan air mata haru. Karena bagi Jirayut, menonton Timnas bukan sekadar hiburan—itu adalah wujud cinta, rindu, dan perjuangan yang tak pernah selesai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User