Oct 11, 2026
entertainment

Jejak Langkah Pulang Usai Konser Avenged Sevenfold di JIS

Malam itu, langit Jakarta Selatan masih basah oleh sisa hujan sore. Di luar pagar Stadion Internasional Jakarta, ribuan orang berjalan pelan sambil sesekali menoleh ke belakang, seolah enggan melepas ...

Jejak Langkah Pulang Usai Konser Avenged Sevenfold di JIS

Malam itu, langit Jakarta Selatan masih basah oleh sisa hujan sore. Di luar pagar Stadion Internasional Jakarta, ribuan orang berjalan pelan sambil sesekali menoleh ke belakang, seolah enggan melepas dentuman gitar yang baru saja memecah keheningan Sabtu malam. Ada yang masih menyanyikan potongan lirik dengan suara serak, ada pula yang hanya diam, menikmati sisa adrenalin yang perlahan surut. Bagi mereka yang baru saja menyaksikan Avenged Sevenfold, malam itu belum benar-benar berakhir—perjalanan pulang adalah babak terakhir yang harus dijalani dengan sabar.

Menghindari Sesak di Gerbang Utama

Begitu lampu panggung padam, gelombang manusia langsung bergerak serentak menuju pintu keluar. Petugas keamanan berulang kali mengingatkan agar penonton tidak berhenti di tengah jalan. Salah satu penonton, Rendra, mengisahkan bahwa ia sengaja memilih berjalan kaki ke arah barat alih-alih memadati gerbang utama. “Saya lihat antrean di pintu utara sudah seperti sungai manusia. Akhirnya saya jalan santai ke sisi lain, sambil nyanyi-nyanyi sendiri,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Bagi yang membawa kendaraan pribadi, area parkir di sekitar JIS memang menjadi titik paling rawan macet. Banyak pengendara memilih menunggu hingga satu jam sebelum menyalakan mesin. Di sudut trotoar, beberapa penjual air mineral dan kopi keliling mendadak menjadi penyelamat bagi tenggorokan yang kering setelah berteriak sepanjang konser.

Opsi Transportasi yang Bisa Jadi Penyelamat

Pihak penyelenggara telah menyiapkan sejumlah rekayasa lalu lintas di sekitar kawasan. Bus TransJakarta dari halte terdekat menjadi pilihan favorit karena tidak terjebak kemacetan di jalur khusus. Namun, antrean di halte juga tak bisa dibilang pendek. Seorang penonton asal Bekasi, Sari, mengaku memilih berjalan kaki ke stasiun kereta terdekat. “Lumayan jauh, tapi kaki ini sudah terlatih berdiri empat jam di depan panggung,” katanya sambil tertawa kecil. Perjalanan dengan kereta memang kerap menjadi jalan keluar paling masuk akal ketika jalanan utama sudah padat merayap.

Bagi yang menggunakan taksi atau kendaraan daring, disarankan menetapkan titik jemput di luar radius stadion. Titik-titik seperti trotoar seberang atau gedung perkantoran sekitar biasanya lebih mudah dijangkau dan menghindarkan pengemudi dari jebakan arus lalu lintas satu arah.

Menjaga Keselamatan dan Kenangan

Yang tak kalah penting adalah menjaga kondisi tubuh. Setelah berjam-jam berdiri, berdesakan, dan melompat, tubuh rentan lelah. Beberapa penonton terlihat duduk di kursi trotoar, mengatur napas sebelum melanjutkan perjalanan. Ada juga yang berbagi cerita dengan sesama penonton, saling menguatkan meski baru bertemu malam itu. Momen-momen sederhana seperti itu kerap menjadi kenangan yang tak terlupakan—bukan hanya soal konsernya, tapi tentang bagaimana orang-orang asing bisa merasa seperti keluarga dalam satu malam.

Bagi yang membawa anak atau pasangan, pastikan untuk tidak terburu-buru. Berjalan mengikuti arus, memilih rute yang lebih lengang, dan menghindari kerumunan di pintu keluar sempit bisa membuat perjalanan pulang jauh lebih nyaman. Jangan ragu meminta bantuan petugas jika tersesat atau kehilangan rombongan.

Ketika Lagu Terakhir Masih Terngiang

Di atas kendaraan masing-masing, banyak yang masih memutar ulang lagu-lagu Avenged Sevenfold dari ponsel. Ada yang memeluk jaket hitam bertuliskan nama band, ada yang menoleh ke jendela sambil menatap lampu jalan yang berkelebat. Perjalanan pulang bukan sekadar soal sampai ke rumah, tapi tentang membawa pulang sisa energi malam itu ke dalam mimpi. “Besok kerja, tapi nggak apa-apa. Ini malam yang layak dikenang,” ujar Rendra lagi sebelum berpisah di halte.

Panduan sederhana ini bukanlah aturan baku. Setiap orang punya caranya sendiri untuk pulang—ada yang memilih cepat, ada yang menikmati lambat. Namun apa pun jalannya, yang terpenting adalah keselamatan dan kenangan indah yang dibawa. Sebab setelah malam yang panjang, yang tersisa bukan hanya suara gitar, tetapi juga kisah tentang perjalanan pulang yang menyentuh hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User