Langit Jakarta sudah gelap ketika pintu ruang pemeriksaan itu akhirnya terbuka. Betrand Peto melangkah keluar dengan langkah yang tampak berat, ditemani sejumlah orang yang setia menunggunya sejak sore. Di depan awak media yang telah berjam-jam berdiri di lobi, pemuda 19 tahun itu menghela napas panjang sebelum berbicara. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh riuh pertanyaan wartawan. Namun matanya memancarkan sesuatu yang lain — sebuah keteguhan yang lahir dari sembilan jam berhadapan dengan penyidik.
Malam yang Terasa Tak Berujung
Pemeriksaan yang berlangsung sejak siang hingga malam itu menjadi salah satu momen terberat dalam perjalanan karier Betrand. Ia dicecar 55 pertanyaan oleh penyidik, semuanya berkaitan dengan peristiwa yang disebut terjadi di sebuah tempat hiburan di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Selama sembilan jam, ia duduk di kursi yang sama, menjawab satu per satu pertanyaan tanpa didampingi hiburan atau jeda yang berarti.
“Saya menjawab semua yang ditanyakan,” ujarnya lirih di hadapan media. Kalimat itu sederhana, tetapi menggema. Ia tidak berlari dari tuduhan yang mengarah padanya. Ia memilih duduk, mendengarkan, dan menjawab.
Jerat Tuduhan yang Menghantam
Tuduhan kekerasan seksual yang dialamatkan kepadanya jelas mengguncang. Dalam sekejap, nama yang selama ini dikenal lewat senyum dan suara emasnya itu berubah menjadi bahan perbincangan yang tak selalu ramah. Namun di balik layar, ada seorang pemuda yang berjuang menjaga kewarasannya.
“Yang saya tahu, saya tidak melakukan apa yang dituduhkan,” tegas Betrand, dikutip dari pernyataannya usai diperiksa, menirukan isi pernyataannya kepada penyidik. Ia menuturkan bahwa ia datang dengan niat baik untuk memberi keterangan, bukan untuk bersembunyi.
Pihak kuasa hukum menyebut pemeriksaan itu sebagai bentuk kooperasi penuh. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang berjalan, sambil memastikan bahwa hak-hak Betrand selama pemeriksaan tetap terpenuhi.
Ketika Nama Harus Dibela Sendiri
Bagi seseorang yang tumbuh di bawah sorotan kamera sejak kecil, malam itu adalah ujian yang berbeda. Ia tidak sedang tampil di atas panggung, melainkan duduk di ruangan dingin dengan puluhan pertanyaan yang menuntut kejujuran. Di situlah sisi manusiawinya muncul — bukan sebagai bintang, melainkan sebagai pemuda yang harus membela nama baiknya sendiri.
Dukungan pun mengalir. Sejumlah sahabat dan keluarga disebut hadir memberi semangat. Mereka menunggu di lorong, membawa air minum dan doa. Momen mengharukan itu menjadi pengingat bahwa di balik berita yang beredar, ada manusia yang juga bisa lelah dan terluka.
“Saya hanya ingin semua ini selesai dengan seadil-adilnya,” ucapnya pelan. Kalimat itu seperti mewakili isi hati banyak orang yang pernah dituduh tanpa bukti.
Jalan Panjang Menuju Terang
Kasus ini masih akan berjalan. Penyidik berjanji mendalami setiap keterangan, termasuk mengumpulkan bukti dan memeriksa saksi lain. Betrand sendiri menyatakan siap bila sewaktu-waktu dipanggil kembali. Ia ingin proses ini tuntas, agar hidupnya bisa kembali berjalan seperti semula.
Malam itu, saat ia berjalan menuju mobil yang menunggu, sorot kamera masih mengikutinya. Namun ada satu hal yang tak bisa dihapus dari wajahnya: keinginan untuk bangkit. Kisah ini belum berakhir, tetapi bagi Betrand, keberanian menjawab 55 pertanyaan adalah langkah pertama untuk kembali berdiri.
Comments (0)