Jakarta — Tiga dekade berlalu sejak peristiwa berdarah 27 Juli 1996 yang

Refleksi Tiga Dekade: Luka yang Tak Boleh Dilupakan Dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Prof Sukidi menggarisbawahi bahwa peringatan 30 tahun Ku

Jul 19, 2026 - 19:55
0 0
Jakarta — Tiga dekade berlalu sejak peristiwa berdarah 27 Juli 1996 yang

Refleksi Tiga Dekade: Luka yang Tak Boleh Dilupakan

Dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Prof Sukidi menggarisbawahi bahwa peringatan 30 tahun Kudatuli bukan sekadar seremoni mengenang masa lalu. Lebih dari itu, peristiwa tersebut merupakan laboratorium politik yang mengajarkan bagaimana mesin otoritarianisme bekerja secara sistematis untuk membungkam suara kritis dan menghancurkan kekuatan oposisi sipil.

"Peristiwa 27 Juli adalah cermin. Ia memantulkan wajah asli kekuasaan yang menolak dikontrol dan diawasi. Dari situlah kita belajar bahwa demokrasi tidak akan pernah diberikan secara cuma-cuma oleh penguasa; ia direbut, dipertahankan, dan dirawat setiap hari oleh masyarakat sipil yang berani," ujarnya.

"Otoritarianisme selalu mencari celah untuk kembali. Ia bisa menyelinap lewat populisme, lewat politisasi identitas, atau lewat regulasi yang tampak legal namun mematikan ruang kebebasan. Karena itu, keberanian warga negara untuk berkata 'tidak' terhadap segala bentuk penyelewengan kekuasaan harus menjadi habitus, bukan sekadar momen."

Konstelasi Politik 1996 dan Akar Otoritarianisme

Untuk memahami bobot refleksi Prof Sukidi, perlu ditarik garis sejarah ke pertengahan 1990-an. Kudatuli merujuk pada serangan terhadap kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, yang saat itu dipimpin Megawati Soekarnoputri. Serangan dilakukan oleh sekelompok orang yang diduga kuat didukung oleh aparat, sebagai buntut dari manuver politik pemerintah Orde Baru yang ingin menyingkirkan Megawati dari tampuk kepemimpinan PDI melalui kongres ilegal di Medan. Peristiwa itu menelan korban jiwa, luka-luka, dan menghilangkan sejumlah aktivis pro-demokrasi.

Prof Sukidi menilai, operasi pembungkaman itu menunjukkan betapa rezim saat itu melihat partai politik independen sebagai ancaman eksistensial. "Mereka tidak ingin ada pusat kekuasaan alternatif. Semua harus tunduk pada satu komando. Itu esensi otoritarianisme: monolitisme politik yang menolak pluralitas," katanya.

Keberanian Sipil sebagai Pilar Demokrasi

Dosen dan pemikir kebhinekaan itu menekankan bahwa pelajaran utama dari Kudatuli adalah pentingnya keberanian kolektif masyarakat sipil. Menurutnya, mahasiswa, jurnalis, aktivis buruh, dan komunitas akar rumput yang turun ke jalan pasca-peristiwa itu membuktikan bahwa tekanan dari bawah mampu mengguncang fondasi rezim yang tampak kokoh.

Beberapa poin kunci yang disampaikan Prof Sukidi mengenai bagaimana menjaga keberanian melawan otoritarianisme di era modern antara lain:

  • Pendidikan kewargaan yang kritis — Membentuk generasi yang tidak mudah terpesona oleh narasi populis dan mampu membedakan antara pemimpin yang melayani dengan pemimpin yang mendominasi.
  • Penguatan ruang publik inklusif — Memastikan bahwa mimbar-mimbar diskusi, media independen, dan forum-forum warga tetap hidup dan tidak dimonopoli oleh kepentingan sempit.
  • Solidaritas lintas sektor — Menghubungkan kembali gerakan buruh, petani, mahasiswa, dan kelas menengah dalam satu barisan demokrasi yang solid, seperti yang pernah terjadi di akhir 1990-an.
  • Penolakan terhadap politisasi institusi penegak hukum — Mengawal agar aparat keamanan dan lembaga peradilan kembali ke jalur profesionalismenya sebagai pelayan publik, bukan alat politik penguasa.

Relevansi Kudatuli di Era Digital

Prof Sukidi juga menyoroti bahwa bentuk otoritarianisme di abad ke-21 telah bermetamorfosis. Jika dulu represi dilakukan secara fisik dan kasat mata, kini pembungkaman bisa terjadi melalui algoritma, kontrol narasi digital, dan intimidasi siber terhadap pengkritik pemerintah. "Platform digital bisa menjadi instrumen pengawasan massal yang lebih mengerikan daripada intelijen konvensional. Literasi digital dan keberanian bersuara di ruang maya adalah front baru perjuangan demokrasi," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa generasi muda perlu memahami bahwa kebebasan yang dinikmati sekarang adalah hasil dari pengorbanan dan nyawa para pendahulu. Tanpa ingatan sejarah yang kuat, bangsa ini rentan mengulangi siklus represi yang sama. "Amnesia sejarah adalah teman terbaik bagi bangkitnya kembali otoritarianisme. Jangan biarkan 27 Juli 1996 hanya menjadi tanggal di kalender tanpa makna perjuangan di dalamnya."

Refleksi 30 tahun Kudatuli ini sekaligus menjadi alarm bagi seluruh elemen bangsa bahwa demokrasi adalah proyek yang tidak pernah selesai. Ia membutuhkan partisipasi aktif dan keberanian moral dari setiap warga negara, bukan hanya dari sekelompok elite atau aktivis. Prof Sukidi menutup refleksinya dengan pesan sederhana namun mendalam: "Kebebasan bukan hadiah. Ia adalah medan pertempuran."


FAQ Esensial

1. Apa itu Peristiwa Kudatuli dan mengapa penting untuk dikenang?
Kudatuli adalah serangan terhadap kantor DPP PDI di Jakarta pada 27 Juli 1996 yang diduga kuat didalangi oleh rezim Orde Baru untuk menyingkirkan Megawati Soekarnoputri. Peristiwa ini penting karena menjadi simbol perlawanan terhadap otoritarianisme dan titik awal kebangkitan gerakan reformasi yang mengakhiri kekuasan Soeharto dua tahun kemudian.

2. Siapa Prof Sukidi Mulyadi dan apa kaitannya dengan refleksi ini?
Prof Sukidi Mulyadi adalah seorang pemikir kebhinekaan, akademisi, dan intelektual publik yang kerap menyuarakan pentingnya toleransi, pluralisme, dan demokrasi di Indonesia. Refleksinya atas peringatan 30 tahun Kudatuli menekankan perlunya keberanian sipil yang berkelanjutan sebagai benteng melawan bangkitnya kembali otoritarianisme.

3. Apakah ancaman otoritarianisme masih relevan bagi Indonesia saat ini?
Ya, menurut Prof Sukidi, ancaman otoritarianisme tidak pernah benar-benar hilang, melainkan berubah bentuk. Ia bisa muncul lewat populisme, politisasi identitas, pelemahan lembaga pengawas demokrasi, hingga kontrol narasi di era digital. Oleh karena itu, kewaspadaan dan keberanian warga negara tetap harus dijaga.

[TAGS]: Kudatuli, 27 Juli 1996, Prof Sukidi Mulyadi, demokrasi Indonesia, otoritarianisme

[SOCIAL_TWEET]: 30 tahun berlalu, luka Kudatuli masih menganga. Prof Sukidi Mulyadi mengingatkan: keberanian melawan otoritarianisme harus dijaga karena demokrasi bukan hadiah, melainkan medan pertempuran. #Kudatuli #Demokrasi #27Juli1996

[SOCIAL_FB]: "Kebebasan bukan hadiah. Ia adalah medan pertempuran." — Prof Sukidi Mulyadi merenungkan 30 tahun Peristiwa Kudatuli. Dari tragedi berdarah di Kantor DPP PDI hingga pelajaran untuk era digital, satu hal pasti: otoritarianisme selalu mencari celah untuk kembali. Keberanian kita hari ini menentukan masa depan demokrasi Indonesia esok. Simak selengkapnya refleksi penting ini.

[SOCIAL_TG]: Refleksi 30 Tahun Kudatuli oleh Prof Sukidi Mulyadi: Jangan sampai amnesia sejarah membuka jalan bagi otoritarianisme versi baru. Keberanian sipil adalah vaksin demokrasi. Baca selengkapnya.

[SOCIAL_THREADS]: 27 Juli 1996. Sebuah kantor partai diserang. Puluhan aktivis diculik dan hilang. Itu adalah pesan keras dari rezim: jangan berani melawan. Tapi nyatanya, keberanian itu tidak mati. Dua tahun kemudian, Rezim Orde Baru tumbang. Hari ini, Prof Sukidi Mulyadi mengingatkan kita: otoritarianisme belum mati — ia hanya berganti baju. Demokrasi butuh lebih dari sekadar pemilu, ia butuh warga yang berani berkata tidak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User