Penggunaan minyak goreng bekas atau yang lebih dikenal dengan sebutan minyak jelantah kini tidak lagi dipandang sebagai limbah dapur yang mencemari lingkungan. Di tangan PT Pertamina (Persero), sisa bahan dapur ini justru disulap menjadi komoditas strategis pendukung transisi energi ramah lingkungan. Langkah inovatif BUMN energi ini mendapat apresiasi positif dari para pakar sektor energi nasional.
Pengamat energi Feiral Rizky Batubara menyatakan bahwa terobosan Pertamina mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar nabati (biofuel) merupakan langkah konkret yang patut diacungi jempol. Menurutnya, pemanfaatan limbah minyak jelantah bukan hanya membantu mengurangi pencemaran air dan tanah, tetapi juga menjawab tantangan kebutuhan energi bersih di masa depan secara efisien.
"Inisiatif Pertamina ini sangat sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan pencapaian target Net Zero Emission 2060. Mengubah limbah rumah tangga dan industri makanan menjadi energi terbarukan seperti Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) adalah strategi yang amat cerdas," ujar Feiral Rizky Batubara saat memberikan tanggapannya mengenai perkembangan energi terbarukan di Tanah Air.
Analisis Potensi Ekonomi dan Lingkungan Minyak Jelantah
Potensi minyak jelantah di Indonesia sangatlah melimpah mengingat tingginya konsumsi minyak goreng masyarakat sehari-hari. Berdasarkan data industri, Indonesia diperkirakan menghasilkan lebih dari 1,2 juta kiloliter minyak jelantah setiap tahunnya. Sayangnya, baru sekitar 18 persen dari total tersebut yang berhasil dikumpulkan dan dimanfaatkan secara resmi, sementara sisanya sering kali dibuang sembarangan hingga mencemari saluran air.
Dengan mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar sintetis, Pertamina mampu menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan jika dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil konvensional. Penggunaan bahan bakar berbasis minyak jelantah ini diproyeksikan mampu mengurangi jejak karbon hingga 80-90 persen sepanjang siklus hidupnya.
Berikut adalah perbandingan ringkas antara penggunaan bahan bakar fosil dan bahan bakar terbarukan berbasis minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO):
| Indikator Perbandingan | Bahan Bakar Fosil | Biofuel Minyak Jelantah (UCO) |
|---|---|---|
| Sumber Bahan Baku | Ekstraksi Minyak Bumi (Terbatas) | Limbah Domestik & Kuliner (Sirkular) |
| Reduksi Emisi Karbon | Baseline (0%) | Turun 80% - 90% |
| Dampak Lingkungan Limbah | Risiko Pencemaran Tambang | Mengurangi Limbah Air & Tanah |
| Kesiapan Teknologi | Konvensional | Pengolahan Modern (HVO / SAF) |
Langkah Strategis dan Peta Jalan Pengolahan Energi
Upaya mewujudkan ekosistem energi berbasis limbah ini memerlukan koordinasi yang terstruktur dari hulu ke hilir. Pertamina bersama para pemangku kepentingan telah menyusun beberapa rintisan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi minyak jelantah nasional:
- Penguatan Rantai Pasok dan Pengumpulan: Membangun kerja sama dengan pelaku UMKM sektor kuliner, industri makanan, serta masyarakat luas untuk mengumpulkan minyak jelantah agar tidak terbuang ke saluran pembuangan.
- Penerapan Teknologi Refinery Modern: Memanfaatkan kilang hijau (Green Refinery) milik Pertamina untuk memproses limbah minyak goreng menjadi produk energi berkualitas tinggi setara dengan standar internasional.
- Komersialisasi Bahan Bakar Penerbangan (SAF): Melakukan uji coba dan pengaplikasian bioavtur berbasis jelantah pada industri penerbangan komersial guna mendukung target pengurangan emisi di sektor transportasi udara.
Kendati demikian, Feiral mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini terletak pada tata kelola pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat. Pemerintah diharapkan dapat memberikan regulasi pendukung agar minyak jelantah tidak diekspor mentah-mentah ke luar negeri, melainkan diprioritaskan untuk kebutuhan pengolahan energi dalam negeri.
"Jika rantai pasok dalam negeri diperkuat dan regulasi berpihak pada industri pengolahan lokal, Indonesia tidak hanya mampu mandiri secara energi, tetapi juga memimpin dalam inovasi biofuel ramah lingkungan di kawasan Asia Tenggara," tutup Feiral.
Comments (0)