Kabar keprihatinan tengah melingkupi insan pers tanah air setelah lima orang jurnalis dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda. Kelima pemburu berita tersebut bersama tiga kru kapal hilang saat sedang menjalankan tugas peliputan lapangan untuk merekam aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Senin, 7 September 2026. Menyikapi musibah ini, Komisi I DPR RI mendesak pemerintah dan tim SAR gabungan untuk mengerahkan segala sumber daya demi mengoptimalkan penyisiran di lokasi kejadian.
Anggota Komisi I DPR RI, Junico Siahaan, menegaskan bahwa keselamatan serta kepastian nasib para awak media harus menjadi prioritas utama negara saat ini. Selain memfokuskan pencarian fisik di laut, pemerintah juga diminta hadir memberikan pendampingan psikologis serta keterbukaan informasi secara berkala kepada pihak keluarga korban yang kini dilanda kecemasan mendalam.
Mobilisasi Skala Besar dan Temuan Awal Tim SAR
Tim penyelamat gabungan telah mengerahkan armada skala besar demi menyisir area perairan yang dicurigai menjadi titik terakhir keberadaan kapal rombongan. Sebanyak 11 kapal perang dan patroli serta lebih dari 300 personel gabungan dari TNI AL, Basarnas, hingga Polairud diturunkan langsung ke perairan Selat Sunda.
Di tengah proses penyisiran tersebut, tim sempat menemukan sebuah pelampung keselamatan melayang di perairan Anyer. Meski demikian, pihak TNI AL belum bisa memastikan secara final apakah pelampung tersebut milik rombongan jurnalis yang hilang karena proses verifikasi lapangan masih berlangsung.
Berikut adalah ringkasan data operasional terkait penyisiran dan identitas korban hilang di Selat Sunda:
| Kategori Informasi | Rincian Data |
|---|---|
| Total Korban Hilang | 8 Orang (5 Jurnalis & 3 Kru Kapal) |
| Lokasi Terakhir Kontak | Perairan Selat Sunda (Arah Gunung Anak Krakatau) |
| Waktu Hilang Kontak | Senin, 7 September 2026 |
| Armada Pencarian | 11 Kapal Patroli / KRI TNI AL |
| Personel Dikontribusikan | 300 Personel Gabungan |
Kronologi Insiden Hilang Kontak di Selat Sunda
Berdasarkan informasi reportase yang berhasil dihimpun, berikut adalah urutan kronologis kejadian hilangnya rombongan jurnalis tersebut:
- Senin, 7 September 2026: Rombongan yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru berlayar mengarungi Selat Sunda menggunakan satu kapal nelayan/sewaan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk memantau aktivitas vulkanik.
- Senin Malam, 7 September 2026: Kapal mendadak hilang kontak dengan pihak darat di sekitar perairan Anyer menuju Krakatau, komunikasi terputus total.
- Selasa, 8 September 2026: Pihak kantor media dan keluarga melaporkan insiden hilang kontak. Basarnas serta TNI AL segera membuka posko darurat dan memulai penyisiran awal.
- Kamis, 10 September 2026: Tim pencari menemukan pelampung di perairan Anyer, namun status kepemilikannya masih diinvestigasi lebih lanjut.
- Jumat, 11 September 2026: Komisi I DPR RI secara resmi mendesak penyisiran diperluas dan dioptimalkan dengan keterlibatan 300 personel secara masif.
Adapun identitas kelima jurnalis yang berada di dalam kapal tersebut adalah sebagai berikut:
- M. Bagus Khoirunnas – Pewarta foto Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara
- Ari Basuki – Pewarta foto Merdeka.com
- Yudistiro Pranoto – Pewarta foto iNews.id
- Firman Daus – Jurnalis Anadolu Agency
- Donal Husni – Jurnalis lepas (freelancer)
Desakan DPR RI dan Perlindungan Keselamatan Awak Media
Politisi Komisi I DPR RI, Junico Siahaan, menyampaikan keprihatinan dan empati yang mendalam atas musibah yang menimpa para pekerja media ini. Ia mengingatkan betapa tingginya risiko keselamatan yang dipertaruhkan jurnalis demi menghadirkan informasi nyata kepada publik.
"Prioritas saat ini adalah menemukan seluruh orang yang berada di dalam kapal. Serta memastikan keluarga mereka memperoleh pendampingan dan kepastian informasi secara transparan," ujar Junico Siahaan saat memberikan keterangannya.
Junico menekankan bahwa berita visual dan informasi kebencanaan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari merupakan buah dari kerja keras serta keberanian para insan pers di medan ekstrem. Oleh sebab itu, negara wajib memberikan upaya terbaik saat para jurnalis mengalami situasi darurat saat bertugas.
Kini doa dan harapan besar dipanjatkan oleh seluruh kalangan agar proses kerja keras **300 personel penyelamat** di perairan Selat Sunda segera membuahkan titik terang, serta seluruh korban dapat ditemukan dalam keadaan selamat.
Comments (0)