Sep 19, 2026
Nasional

JAKARTA — Dokter Anak Imbau Orang Tua Kenali Ciri Disleksia Dini

Pernahkah Anda memperhatikan seorang anak yang begitu hebat dan tangkas saat bercerita secara lisan, namun mendadak membeku ketika diminta membaca satu kal

JAKARTA — Dokter Anak Imbau Orang Tua Kenali Ciri Disleksia Dini

Pernahkah Anda memperhatikan seorang anak yang begitu hebat dan tangkas saat bercerita secara lisan, namun mendadak membeku ketika diminta membaca satu kalimat sederhana di buku pelajaran? Bagi anak-anak dengan disleksia, deretan huruf di atas kertas tidak terlihat sebagai simbol yang mudah dipahami. Sebaliknya, barisan kata tersebut bisa tampak berantakan, terbalik, atau bahkan seolah menari-nari yang membingungkan pikiran mereka.

Kondisi ini bukanlah bentuk dari rasa malas atau kurangnya usaha dalam belajar. Dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang, dr. Farid Agung Rahmadi, menegaskan bahwa disleksia merupakan specific learning disability atau gangguan belajar spesifik yang berpusat pada kesulitan mengolah bahasa. Banyak orang tua dan guru yang terlambat menyadari kondisi ini, sehingga anak kerap mendapatkan label salah sebagai anak yang "lambat belajar".

Memahami Disleksia: Bukan Masalah Kecerdasan

Disleksia kerap kali disalahartikan oleh masyarakat awam. Banyak yang mengira bahwa kesulitan membaca berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan seorang anak. Padahal, pemahaman tersebut sangat tidak tepat. Anak dengan disleksia umumnya memiliki tingkat inteligensi yang normal, bahkan tak jarang di atas rata-rata.

"Disleksia adalah gangguan belajar spesifik neurobiologis. Anak-anak ini sebenarnya memiliki potensi luar biasa, namun otak mereka memproses informasi bahasa dengan cara yang berbeda dari anak-anak pada umumnya," ungkap dr. Farid Agung Rahmadi.

Karena perbedaan neurobiologis inilah, membaca kata-kata yang tampak mudah bagi kita bisa menjadi perjuangan yang sangat menyita energi bagi mereka. Tanpa pendampingan yang tepat, anak riskan mengalami depresi emosional dan kehilangan rasa percaya diri di sekolah.

Ciri-Ciri Utama Disleksia yang Wajib Diwaspadai

Mengenali tanda-tanda disleksia sejak dini adalah kunci utama untuk memberikan intervensi yang efektif. Orang tua dan tenaga pendidik perlu peka terhadap beberapa indikator berikut:

  • Kesulitan Mengenal Bunyi Huruf (Fonemik): Anak kesulitan menghubungkan antara bentuk huruf dengan bunyi bunyinya.
  • Sering Tertukar Huruf Mirip: Anak secara konsisten membalikkan huruf yang memiliki bentuk serupa, seperti 'b' dengan 'd', atau 'p' dengan 'q'.
  • Lambat dalam Membaca Ejaan Sederhana: Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengeja kata dasar yang terdiri dari tiga atau empat huruf.
  • Kesulitan Mengingat Urutan: Sering lupa urutan hari, angka, atau instruksi berganda yang diberikan secara berurutan.
  • Menghindari Aktivitas Membaca: Anak sering menunjukkan penolakan emosional atau frustrasi saat diminta membaca menyaring di depan kelas.

Mitos vs Fakta Seputar Disleksia

Untuk membantu orang tua memahami kondisi ini secara objektif, berikut adalah tabel perbandingan antara mitos umum dan fakta medis mengenai disleksia:

Mitos Populer Fakta Medis
Disleksia disebabkan oleh masalah penglihatan/mata. Disleksia adalah gangguan pemrosesan bahasa di otak, bukan masalah pada indra penglihatan.
Anak disleksia tidak akan bisa sukses secara akademis. Dengan metode belajar yang tepat, anak disleksia bisa sangat berprestasi dan sukses.
Anak hanya perlu belajar lebih keras untuk sembuh. Disleksia membutuhkan pendekatan metode belajar khusus (multisensori), bukan sekadar paksaan belajar keras.

Langkah Penting Bagi Orang Tua dan Guru

Ketika menemukan gejala-gejala tersebut pada anak, langkah pertama yang harus dilakukan adalah tidak panik dan menghindari tindakan menghakimi. Menghentikan kebiasaan membandingkan kemampuan anak dengan teman sebaya adalah langkah krusial untuk menjaga kesehatan mental sang buah hati.

Orang tua disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis tumbuh kembang anak atau psikolog pendidikan. Penanganan disleksia biasanya melibatkan metode pembelajaran multisensori, yaitu menggabungkan jalur penglihatan, pendengaran, dan gerakan fisik untuk membantu anak mengasosiasikan huruf dan bunyi dengan lebih efektif.

Dukungan moral dari lingkungan terdekat adalah fondasi paling utama. Ketika orang tua dan guru bekerja sama memberikan wadah yang inklusif, anak dengan disleksia akan mampu menemukan rasa percaya diri mereka kembali dan mengoptimalkan bakat luar biasa yang mereka miliki.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User