Plaza Senayan, Jakarta, menjadi saksi perhelatan SEIKO Power Design Project 2026 yang berlangsung pada 21 Juli lalu. Pameran ini menampilkan deretan jam tangan konseptual dari para desainer internal SEIKO, dan salah satu yang paling menyita perhatian adalah Machining Marks, karya Naoya Sukeda, sang Design Director of SEIKO Selection Team.
Eksplorasi Jejak Mesin pada Sebuah Arloji
Machining Marks bukan sekadar penunjuk waktu. Ia adalah interpretasi artistik atas bekas-bekas proses pemesinan yang biasanya tersembunyi di balik finishing sempurna. Gagasan Sukeda justru mengangkat goresan, garis, dan tekstur yang terbentuk saat material dihaluskan, dipotong, dan dibentuk menjadi komponen presisi. Pola-pola yang acap dianggap cacat itu dijadikan elemen estetika utama pada dial, bezel, dan tautan gelang jam.
Di sudut area pameran, Sukeda menjelaskan bahwa ide ini muncul ketika ia mengamati lantai pabrik SEIKO, di mana serpihan logam dan permukaan yang belum dihaluskan memiliki keindahan tersendiri. “Setiap goresan bercerita tentang proses, tentang perjuangan material untuk menjadi sesuatu yang bernilai. Saya ingin menangkap momen itu dan mengabadikannya di pergelangan tangan,” ujarnya. Karya ini mengundang decak kagum karena berani menampilkan sisi ‘mentah’ yang biasanya ditutupi dalam industri jam mewah.
Bukan Hanya Jam, Melainkan Representasi Filosofi Monozukuri
Dalam tradisi manufaktur Jepang, monozukuri—seni pembuatan benda—menekankan keselarasan antara keahlian tangan dan mesin. Machining Marks menjadi wujud nyata dari filosofi tersebut. Setiap garis pada dial tidak dicetak, melainkan dihasilkan melalui proses pemotongan yang dikontrol ketat, sehingga tidak ada dua unit yang sepenuhnya identik. Nuansa metalik yang timbul dari pantulan cahaya pada tekstur tersebut menciptakan permainan visual yang berubah seiring sudut pandang, mirip dengan cara pandang tradisional Jepang terhadap keindahan yang tidak sempurna, wabi-sabi.
Sukeda, yang telah lebih dari satu dekade berkarier di divisi desain SEIKO, dikenal sebagai figur yang gemar menantang batasan konvensional. “Jam tangan bukan hanya fungsi dan kemewahan. Jam adalah kanvas. Saya ingin orang yang memakainya merasa terhubung dengan proses penciptaan, bukan hanya hasil akhirnya,” tambahnya. Kehadiran Machining Marks di Jakarta menjadi bukti bahwa SEIKO terus mendorong eksplorasi desain yang tidak hanya bergantung pada komplikasi mesin, tetapi juga kedalaman narasi material.
PDP 2026: Panggung Eksperimen Kolektif
Power Design Project (PDP) sendiri merupakan inisiatif tahunan SEIKO yang memberikan kebebasan penuh bagi tim desainnya untuk menciptakan purwarupa di luar lini produksi reguler. Edisi 2026 menghadirkan sejumlah konsep menarik, namun Machining Marks paling banyak diperbincangkan karena pendekatannya yang kontemplatif. Pengunjung pameran dapat melihat langsung detail jarum jam, indeks, dan tekstur permukaan yang seolah ‘menceritakan’ detik-detik proses bubut dan frais.
Antusiasme publik terlihat dari antrean yang mengular di depan etalase khusus karya Sukeda. Banyak yang mengabadikan momen, meneliti lekukan halus pada dial, dan bertukar pendapat tentang masa depan desain horologi. Seorang pengunjung mengungkapkan, “Biasanya kita hanya melihat jam yang sempurna. Ini justru menunjukkan bahwa ketidaksempurnaan itu sendiri adalah karya seni.”
Lebih dari Sekadar Inovasi Teknis
Di balik tampilan kasualnya, jam ini menyimpan cerita tentang dedikasi terhadap kerajinan. Proses pembuatannya memerlukan kolaborasi erat antara desainer dan insinyur produksi untuk memastikan bahwa tekstur yang dihasilkan tidak hanya indah, tetapi juga tidak mengganggu fungsi dan daya tahan. Bahan yang digunakan pun dipilih dengan cermat agar bekas pemesinan tetap terlihat jelas tanpa menjadi kasar saat menyentuh kulit.
SEIKO melalui PDP 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai jenama horologi yang tidak sekadar mengejar presisi dan komplikasi mekanis, tetapi juga menghargai narasi manusia di balik setiap helai detik yang berputar. Kehadiran Naoya Sukeda dan Machining Marks-nya di Jakarta meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus, mirip dengan pola-pola yang sengaja dibiarkannya tertinggal di permukaan logam: sebuah pernyataan bahwa kejujuran proses adalah kemewahan yang sesungguhnya.
Comments (0)