Krisis kelebihan kapasitas di lembaga pemasyarakatan Inggris kini telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Saking sesaknya penjara, pemerintah Inggris terpaksa mengambil langkah ekstrem dengan menyulap area publik dan ruang binatu (laundry) menjadi sel tahanan baru. Namun, kebijakan darurat ini langsung menuai kritik tajam dari berbagai pihak yang menilai pemerintah hanya melakukan solusi tambal sulam.
Kementerian Kehakiman Inggris baru-baru ini mempercepat pencairan anggaran sebesar £110 juta (sekitar Rp2,2 triliun) dari pos anggaran yang ada. Dana jumbo tersebut difokuskan untuk merombak ruang-ruang tak terpakai di dalam kompleks lapas demi menciptakan antara 200 hingga 900 kapasitas sel tambahan dalam waktu singkat.
Data Kritis Kapasitas Penjara Inggris
Langkah panik ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan laporan terkini, sistem penjara pria dewasa di wilayah Inggris dan Wales sudah beroperasi di ambang batas maksimal. Fasilitas penahanan nyaris tidak mampu lagi menampung narapidana baru yang masuk setiap harinya.
| Kategori Indikator | Kondisi Saat Ini |
|---|---|
| Tingkat Keterisian Lapas Pria | Lebih dari 98% |
| Sisa Ruang Tersedia | ±1.500 tempat tidur (posisi awal September) |
| Target Sel Tambahan Baru | 200 – 900 sel |
| Alokasi Anggaran Darurat | £110 Juta ($149 Juta) |
Bukan Solusi Akar Masalah
Mantan anggota Parlemen Inggris, Andrew Bridgen, secara terbuka mengecam langkah pemerintah tersebut. Dalam wawancaranya, ia menegaskan bahwa menambah beberapa ratus bilik darurat tidak akan mampu menyembuhkan penyakit kronis yang menjangkiti sistem peradilan dan pemasyarakatan Inggris.
"Sejujurnya, kita membutuhkan reformasi total dari akar hingga ke pucuk institusi-institusi ini. Memperbanyak ruang sempit tidak akan menyelesaikan persoalan mendasar di baliknya," tegas Bridgen.
Bridgen menyoroti bahwa krisis kelebihan kapasitas penjara merupakan akibat dari kurangnya pendanaan kronis selama bertahun-tahun serta prioritas penegakan hukum yang dinilai keliru. Kondisi lapas yang kian padat dan tidak manusiawi justru meningkatkan risiko instabilitas keamanan di dalam penjara itu sendiri.
Sorotan Standar Ganda dan Kasus Media Sosial
Selain masalah infrastruktur fisik, Bridgen juga melontarkan kritik pedas terhadap arah kebijakan peradilan pidana di Inggris saat ini. Ia menyinggung fenomena penegakan hukum yang dianggap timpang dan tidak proporsional dalam memenjarakan warga negara.
Menurut Bridgen, sistem hukum Inggris kini disibukkan oleh penindakan aktivitas digital warga. Diperkirakan sekitar 30 orang ditangkap setiap hari akibat unggahan di media sosial, dengan sekitar 1.200 orang dijebloskan ke penjara setiap tahunnya hanya karena pelanggaran ekspresi daring.
"Jika Anda menyebut seseorang dengan tuduhan tertentu di internet, Anda bisa langsung masuk penjara. Namun, pelaku kejahatan berat yang nyata di masyarakat justru kerap mendapat perlakuan hukum yang terlalu lunak," pungkasnya menyindir fenomena penegakan hukum dua standar (two-tier policing).
Selama pemerintah belum mereformasi kebijakan pemidanaan secara menyeluruh dan mengarahkan fokus hukum pada kejahatan berat yang nyata, menyulap ruang cuci pakaian menjadi kamar jeruji besi tampaknya hanya akan menunda ledakan krisis yang lebih besar di masa depan.
Kapasitas penjara pria dewasa di Inggris dan Wales kini telah terisi lebih dari 98%. Untuk mengatasi defisit ruang, pemerintah mengalokasikan dana darurat £110 juta guna mengubah ruang laundry menjadi sel tahanan. Mantan anggota parlemen Andrew Bridgen menilai langkah ini tak menyentuh akar masalah dan mengkritik sistem pemidanaan kasus media sosial. Baca analisis lengkapnya di Beritaseputar.com!
Comments (0)