Dua sektor strategis Indonesia—keagamaan dan pariwisata olahraga—menunjukkan potensi luar biasa pada tahun ini. Di Timur Tengah, Arab Saudi mencatat lonjakan jemaah umrah global sebesar 22,5 persen pada awal musim 1448 Hijriah, dengan Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara pengirim jemaah terbanyak setelah Pakistan. Sementara itu di dalam negeri, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat mematok target ambisius agar Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) menjelma sebagai ajang sport tourism berkelas yang mampu menggerakkan perekonomian daerah. Dua kabar ini menjadi penanda optimisme kebangkitan sektor perjalanan dan olahraga nasional pasca-pandemi.
Lonjakan Jemaah Umrah Indonesia
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi bersama Program Pengalaman Jemaah melaporkan bahwa sebanyak 931.500 jemaah telah memasuki wilayah Kerajaan melalui visa umrah pada periode 15 Zulhijah hingga akhir Muharram. Angka ini merupakan bagian dari total kedatangan 1,27 juta jemaah dari seluruh dunia pada periode yang sama. Pertumbuhan ini mencerminkan keberlanjutan sektor umrah yang menjadi salah satu pilar penting dalam Visi Arab Saudi 2030.
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan ini. Posisi kedua setelah Pakistan menegaskan tingginya animo masyarakat Indonesia untuk menunaikan ibadah umrah. "Capaian tersebut mencerminkan dukungan berkelanjutan dari kepemimpinan Kerajaan dalam melayani jemaah," demikian pernyataan resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi yang dilansir SPA. Integrasi antarlembaga pemerintah dan pengembangan layanan digital menjadi pendorong utama di balik kemudahan perjalanan umrah saat ini. Mulai dari perencanaan perjalanan, pengurusan visa, hingga pengalaman di Tanah Suci, semuanya kini didukung oleh platform digital yang semakin mulus.
PON 2028: Dari Ajang Olahraga ke Penggerak Ekonomi
Di sisi lain, persiapan menuju PON XXII/2028 semakin mengerucut pada konsep sport tourism. Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman, menegaskan bahwa kesuksesan PON tidak bisa lagi hanya diukur dari penyelenggaraan dan prestasi semata. Saat meninjau Hapu Mbay Hall di Kabupaten Sumba Timur pada Minggu, 19 Juli 2026, Marciano memaparkan visi besarnya. "Selain sukses penyelenggaraan, prestasi, administrasi, PON harus sukses perekonomian yang di dalamnya sukses pariwisata. Bagaimana PON ini memberikan dampak ke seluruh pegiat di sektor pariwisata mulai akomodasi, konsumsi, UMKM dan sebagainya," ucapnya.
NTT dan NTB dipilih sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Kedua provinsi ini menawarkan lanskap alam yang memukau, mulai dari perbukitan Sumba hingga pesisir Lombok. Infrastruktur pendukung seperti Hapu Mbay Hall menjadi simbol kesiapan daerah dalam menyambut ribuan atlet, ofisial, dan wisatawan. Pemerintah daerah bersama KONI berharap ajang ini menciptakan efek domino berupa peningkatan okupansi hotel, transaksi UMKM, hingga promosi destinasi wisata unggulan ke mata nasional dan internasional.
Perbandingan Dampak Sektoral
| Aspek | Sektor Umrah | Sektor PON 2028 |
|---|---|---|
| Jumlah Partisipan | 931.500 jemaah (visa umrah) | Ribuan atlet dan ofisial (estimasi) |
| Lokasi Dampak | Arab Saudi (global) | NTT dan NTB (domestik) |
| Target Ekonomi | Visi 2030, layanan digital | Sport tourism, UMKM lokal |
| Peringkat Indonesia | Ke-2 setelah Pakistan | Tuan rumah (promosi daerah) |
Tabel di atas memperlihatkan bagaimana Indonesia berperan besar sebagai konsumen di sektor umrah sekaligus sebagai produsen pariwisata olahraga. Keduanya bertumpu pada integrasi layanan digital dan dukungan kebijakan pemerintah pusat. Pada kasus umrah, inovasi aplikasi dan platform daring memangkas birokrasi keberangkatan. Sementara di PON 2028, KONI bahkan telah meluncurkan Sports Intelligence sebagai strategi baru peningkatan prestasi olahraga berbasis data.
Konektivitas Dua Sektor
Meskipun berbeda ranah, umrah dan PON sama-sama membutuhkan ekosistem perjalanan yang matang. Penerbangan, akomodasi, konsumsi, serta transportasi lokal menjadi tulang punggung yang sama. Keberhasilan Indonesia sebagai negara pengirim umrah terbesar kedua membuktikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki daya beli dan mobilitas tinggi. Potensi ini dapat ditransformasikan ke dalam partisipasi dan kehadiran di ajang PON, khususnya bagi wisatawan domestik yang ingin menyaksikan kompetisi olahraga sekaligus menikmati keindahan NTT-NTB.
Pemerintah daerah diharapkan belajar dari efisiensi sistem umrah—terutama dalam hal digitalisasi layanan—untuk diterapkan pada akomodasi dan transportasi selama PON. Dengan begitu, target sport tourism berkelas bukan sekadar retorika, melainkan terwujud dalam pengalaman konkret yang dirasakan oleh para pengunjung.