Aroma hujan masih menempel di dedaunan sore itu, saat Ikang Fawzi duduk di teras rumahnya, memandangi foto lama yang selalu ia simpan di dompet. Foto usang yang menampilkan senyuman lebar mendiang istrinya, Marissa Haque, bersama dua putri mereka—Bella dan Chiki—saat masih kanak-kanak. Di ruang yang sunyi itu, Ikang menghela napas panjang. Bukan napas putus asa, melainkan napas penuh rasa syukur yang tak terkira.
“Setiap kali melihat Bella dan Chiki bersuara lantang, saya seperti melihat Marissa hidup kembali,” ujarnya lirih, suaranya bergetar menahan haru. “Mereka benar-benar mewarisi nyali ibunya.”
Nyali yang Tak Pernah Padam
Bagi Ikang, mendiang Marissa Haque bukan sekadar istri tercinta—ia adalah simbol keberanian, seorang pejuang yang tak pernah lelah menyuarakan kebenaran. Semangat itu, rupanya, telah meresap jauh ke dalam jiwa kedua putrinya. Bella Fawzi, si sulung, dan Chiki Fawzi, sang bungsu, kini menjelma menjadi sosok perempuan muda yang vokal, terutama dalam isu kemanusiaan di Palestina.
Di media sosial, Bella kerap membagikan unggahan berisi dukungan moral terhadap rakyat Palestina. Ia menulis puisi-puisi yang menyayat hati dan mengunggah ilustrasi bertema perjuangan. Sementara Chiki, yang lebih pendiam, memilih jalannya sendiri—mengisi suara di berbagai forum diskusi daring, menyumbang dana dari hasil penjualan karya seninya, dan tak segan menyuarakan pendapatnya di hadapan publik. Ikang mengaku tak pernah memaksa. Semua berjalan begitu saja, seperti aliran sungai yang menemukan muaranya sendiri.
“Saya hanya menanam benih keberanian. Tapi Marissa yang menyiraminya setiap hari, bahkan setelah ia tiada. Nilai-nilai yang ia tanamkan pada anak-anak begitu kuat, sampai sekarang tumbuh subur,” kenang Ikang sambil tersenyum tipis.
Panggung Perjuangan di Atas Puing Kesedihan
Marissa Haque berpulang pada tahun 2024, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga kecilnya. Namun, alih-alih tenggelam dalam kesedihan, Ikang memilih untuk bangkit bersama anak-anaknya. Ia menyebut masa-masa awal kehilangan sebagai “panggung perjuangan di atas puing kesedihan”. Di situlah, kata Ikang, ia menyaksikan keajaiban terjadi.
Bella dan Chiki, yang semula lebih banyak menyimpan duka dalam diam, tiba-tiba tumbuh menjadi sosok yang lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Seolah semangat Marissa yang dulu kerap turun ke jalan membela kaum tertindas, merasuk ke dalam tubuh kedua putrinya. Kini, di setiap unggahan Bella, tampak jelas DNA perjuangan sang ibu. Di setiap celoteh Chiki, terdengar gema suara lantang Marissa.
“Bella bilang ke saya, ‘Papa, kita harus terus bersuara. Mama dulu mengajarkan bahwa diam di tengah ketidakadilan adalah pengkhianatan.’ Saya tertegun. Kata-kata itu persis seperti yang dulu sering Marissa ucapkan,” tutur Ikang, matanya menerawang jauh.
Sederhana Namun Berarti
Yang lebih mengharukan, aksi solidaritas anak-anaknya tak pernah dilakukan dengan sorak-sorai berlebihan. Semuanya berangkat dari kesederhanaan. Chiki, misalnya, memilih mengadakan lelang lukisan digital dan hasilnya disumbangkan ke lembaga kemanusiaan. Bella, di sisi lain, lebih suka mengedukasi pengikutnya dengan konten-konten reflektif tentang sejarah Palestina.
Ikang mengaku banyak belajar dari kedua putrinya. Ia yang dulu lebih banyak bergelut di dunia musik, kini ikut turun tangan membantu membagikan informasi yang mencerahkan. “Mereka mengingatkan saya bahwa perjuangan tidak selalu harus di jalanan. Kadang, perjuangan sejati lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan sepenuh hati,” ujarnya.
Di balik layar, Ikang sering kali menjadi penasihat sekaligus pendengar setia bagi kedua putrinya. Ia tak ingin anak-anaknya merasa sendirian menapaki jalan yang dulu dirintis oleh almarhumah sang ibu. Sebab, bagi Ikang, perjuangan ini adalah warisan keluarga. Warisan yang tak akan ia biarkan padam oleh waktu.
“Saya bangga, luar biasa bangga. Mereka bukan hanya mewarisi semangat ibunya, tapi juga mengembangkannya dengan cara yang lebih relevan. Marissa pasti tersenyum di atas sana,” ucap Ikang, kali ini dengan suara yang lebih mantap.
Hingga kini, Ikang Fawzi terus mendampingi Bella dan Chiki, menjaga agar semangat perjuangan yang telah diwariskan Marissa Haque tetap menyala. Di setiap aksi kecil yang mereka lakukan, ada cinta, ada rindu, dan ada api perjuangan yang tak akan pernah padam. Sebab, seperti kata Ikang, “Nyali sejati tak pernah mati, ia hanya berpindah ke raga yang siap meneruskan.”
Comments (0)