Oct 11, 2026
entertainment

Ifan Tinggalkan Govinda Setelah 18 Tahun Perjalanan Musik

Di depan ratusan pasang mata yang memadati sebuah panggung kecil di Bandung, Muhammad Irfan Hadari berdiri dengan gitar tergantung di bahunya. Suaranya sempat bergetar ketika ia mengucapkan kalimat ya...

Ifan Tinggalkan Govinda Setelah 18 Tahun Perjalanan Musik

Di depan ratusan pasang mata yang memadati sebuah panggung kecil di Bandung, Muhammad Irfan Hadari berdiri dengan gitar tergantung di bahunya. Suaranya sempat bergetar ketika ia mengucapkan kalimat yang selama berbulan-bulan ia simpan rapat-rapat: ia memutuskan mundur dari Govinda, band yang telah menjadi rumahnya selama hampir dua dekade.

Pengumuman itu bukan sekadar kabar kepergian seorang vokalis. Bagi banyak orang, Ifan—sapaan akrabnya—adalah suara yang menemani masa muda mereka. Ia adalah sosok yang mengisahkan kegelisahan, cinta, dan pencarian jati diri lewat lirik-lirik sederhana namun menusuk. Kini, setelah 18 tahun berjalan bersama, ia memilih menutup satu bab dan membuka lembaran baru.

Sebuah Perjalanan yang Tak Selalu Mulus

Ifan bergabung dengan Govinda ketika band itu masih berjuang dari panggung ke panggung kafe kecil. Bersama personel lainnya, ia melewati masa-masa sulit: latihan di ruang sempit, honor yang tak seberapa, hingga godaan untuk menyerah. Namun mimpi besar membuat mereka bertahan.

"Saya ingat betul bagaimana kami dulu hanya punya satu mikrofon rusak dan tetap bernyanyi sepenuh hati," kenang Ifan dalam sesi wawancara usai pengumuman. "Setiap tetes keringat itu adalah bagian dari kisah yang tidak akan pernah saya lupakan."

Perlahan, kerja keras mereka membuahkan hasil. Nama Govinda mulai diperbincangkan. Lagu-lagu mereka diputar di radio, dan undangan tampil mengalir deras. Ifan menjadi wajah depan yang bukan hanya menyanyi, tetapi juga merangkul penonton dengan keramahan khasnya. Di balik layar, ia dikenal sebagai pribadi yang teliti dan penuh perhatian pada detail musikal.

Air Mata di Balik Keputusan Besar

Keputusan mundur ini tidak lahir dalam semalam. Ifan mengaku butuh waktu berbulan-bulan untuk merenung, berkonsultasi dengan keluarga, dan berdiskusi jujur dengan rekan-rekannya. Ada momen ketika ia harus menahan air mata saat menyampaikan niatnya kepada personel Govinda lainnya.

"Mereka bukan hanya rekan band, mereka adalah saudara. Melepas ini terasa seperti melepas sebagian dari diri saya sendiri. Tetapi saya tahu, saya harus jujur pada diri sendiri."

Jika mengungkapkan alasannya, Ifan berbicara tentang keinginan untuk mengeksplorasi sisi lain dari dirinya. Ia ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, sekaligus mendalami proyek musik yang selama ini hanya tersimpan dalam catatan hariannya. Ia juga berharap bisa memberi ruang bagi generasi muda untuk mengambil estafet yang ia tinggalkan.

"Bukan karena kami tidak lagi akur. Justru kami semakin dewasa. Dan kedewasaan itu membuat kami mengerti bahwa setiap orang punya jalan masing-masing," ujarnya dengan suara pelan namun tegas.

Warisan yang Tidak Akan Pudar

Bagi para penggemar, kepergian Ifan meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam. Namun mereka juga menyadari, jejak yang ia tinggalkan tidak akan hilang begitu saja. Lagu-lagu Govinda telah menjadi bagian dari kenangan kolektif: teman setia saat patah hati, pengiring perjalanan pulang, hingga nyanyian perayaan atas pencapaian kecil dalam hidup.

Salah seorang penggemar setia, Rani, mengaku tumbuh besar bersama musik Govinda. "Suara Ifan itu seperti pelukan. Saya sedih, tapi saya juga bahagia karena dia berani mengambil keputusan untuk dirinya sendiri," tuturnya sambil menyeka mata.

Ifan menegaskan, ia tidak akan sepenuhnya menghilang dari dunia musik. Ia berjanji tetap menulis lagu dan sesekali tampil sebagai solois. Yang paling ia rindukan nanti, katanya, adalah kebersamaan di balik panggung—tawa lepas sebelum naik ke atas panggung, dan pelukan hangat setelah pertunjukan berakhir.

"Govinda akan selalu jadi bagian dari cerita hidup saya. Terima kasih untuk 18 tahun yang luar biasa. Ini bukan akhir, hanya bab baru yang saya tulis dengan penuh syukur," pungkasnya.

Ketika panggung perlahan gelap dan tepuk tangan menggema, Ifan tersenyum. Di matanya, ada haru, ada harapan, dan ada keyakinan bahwa perjalanan panjang ini—meski harus berpisah—adalah salah satu hal terindah yang pernah ia alami.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User