Oct 12, 2026
entertainment

Ifan Govinda Pamit Setelah 18 Tahun, Air Mata di Balik Panggung

Suara itu bergetar. Bukan karena salah nada, bukan karena kelelahan setelah berjam-jam latihan. Di hadapan orang-orang terdekatnya, Muhammad Irfan Hadari — pria yang selama ini dikenal sebagai vokal...

Ifan Govinda Pamit Setelah 18 Tahun, Air Mata di Balik Panggung

Suara itu bergetar. Bukan karena salah nada, bukan karena kelelahan setelah berjam-jam latihan. Di hadapan orang-orang terdekatnya, Muhammad Irfan Hadari — pria yang selama ini dikenal sebagai vokalis penuh energi di atas panggung — mengisahkan keputusan yang telah lama mengendap di hatinya. Ia memilih pamit dari Govinda, band yang telah menemaninya hampir 18 tahun, sejak ia masih anak muda yang tak tahu apa-apa soal industri musik.

Kabut lampu panggung yang biasa menyala terang kini berganti dengan suasana haru di sebuah ruangan sederhana. Di sanalah Ifan, sapaan akrabnya, menyampaikan pesan perpisahan itu. Bukan dengan gembar-gembor, bukan dengan konferensi pers megah, melainkan dengan cara yang paling jujur: berbicara langsung, dari hati ke hati, kepada mereka yang selama ini menyalakan semangatnya — para penggemar dan rekan-rekannya di band.

Jejak Langkah yang Tak Pernah Mudah

Perjalanan Ifan bersama Govinda bukan garis lurus yang mulus. Ia bergabung di masa ketika band ini belum memiliki panggung besar, belum memiliki sorotan, dan belum memiliki apa pun selain mimpi. Bersama rekan-rekannya, ia menapaki jalan itu dari bawah, dari panggung-panggung kecil, dari penonton yang bisa dihitung dengan jari. Setiap lagu yang lahir adalah hasil kerja sama, setiap penampilan adalah bukti bahwa mereka berjuang bersama.

Selama hampir dua dekade, suara Ifan menjadi penanda. Ia bukan sekadar vokalis; ia adalah wajah, jiwa, dan salah satu fondasi yang menopang perjalanan band ini. Ketika lagu-lagu mereka mulai dikenal, ketika panggung-panggung membesar, nama Ifan tak pernah lepas dari cerita Govinda. Publik mengenalnya sebagai bagian tak terpisahkan, sosok yang setiap kali membuka suara selalu mampu membawa pendengar masuk ke dalam emosi lagu.

Namun, di balik semua itu, ada harga yang harus dibayar. Perjalanan panjang selalu menyisakan ruang untuk lelah, untuk rindu pada hal-hal sederhana, dan untuk bertanya-tanya tentang arah yang ingin dituju dalam hidup. Ifan mengisahkan bahwa keputusan ini bukan datang dalam semalam. Ia telah memikirkannya lama, merenung di sela-sela kesibukan, hingga akhirnya ia merasa inilah waktunya.

Momen Mengharukan Penuh Air Mata

Pengumuman itu menjadi momen yang menyentuh banyak pihak. Bukan hanya bagi para penggemar, tetapi juga bagi rekan-rekan band yang telah berjuang bersamanya. Ada keheningan, ada isak, ada pelukan yang tak perlu banyak kata. Dalam kebersamaan itu, Ifan menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. Ia menyebut bahwa apa yang ia raih hari ini tidak akan pernah terjadi tanpa dukungan orang-orang yang percaya padanya.

"Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan ini. Kalian bukan cuma penonton, kalian keluarga," ujar Ifan dengan mata yang tak mampu lagi menahan air mata.

Keputusan mundur dari sebuah band yang telah menjadi rumah selama hampir 18 tahun tentu bukan hal yang mudah. Ifan mengakui bahwa ada rasa berat, ada keraguan, dan ada kenangan yang membuatnya ingin bertahan lebih lama. Tetapi ia juga sadar bahwa setiap perjalanan memiliki babak. Ada saatnya untuk memulai, dan ada saatnya untuk mengakhiri — bukan karena kalah, melainkan karena ingin memberi ruang bagi hal baru.

Mimpi yang Berlanjut di Jalan Berbeda

Munculnya kabar ini mengejutkan banyak penggemar. Di media sosial, ribuan pesan mengalir. Ada yang menuliskan kenangan konser pertama, ada yang mengingat lirik-lirik yang menemani masa sulit mereka, dan ada pula yang sekadar mengucapkan terima kasih. Bagi mereka, Ifan bukan hanya penyanyi; ia adalah bagian dari cerita hidup mereka sendiri.

Meski pamit dari Govinda, Ifan menegaskan bahwa ia tidak menghilang begitu saja. Ia menyebut bahwa musik masih mengalir dalam darahnya, dan perjalanan ini hanyalah salah satu babak. Ia ingin mengejar hal-hal yang selama ini tertunda — mungkin proyek pribadi, mungkin mimpi lain yang belum sempat ia kejar selama bertahun-tahun mengabdi pada satu band.

Kisah Ifan menjadi pengingat bahwa keberanian tidak selalu berarti bertahan. Kadang, keberanian adalah kemampuan untuk mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang dicintai, demi menemukan diri sendiri. Air mata yang jatuh di ruangan sederhana itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa cinta pada perjalanan yang telah dilalui begitu besar.

Perpisahan ini meninggalkan luka manis bagi Govinda dan para penggemarnya. Namun, seperti halnya lagu-lagu yang pernah ia nyanyikan, kisah Ifan akan terus hidup. Ia pamit, tetapi jejaknya tak akan hilang. Dan sebagaimana ia sering berkata di akhir penampilan: ini bukan akhir, hanya jeda sebelum melodi berikutnya dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User