Oct 11, 2026
Hukum

Havana Syndrome Kembali Jadi Misteri, Puluhan Agen CIA Terdampak

WASHINGTON — Seorang perwira CIA terbangun di kamar hotelnya di London pada April 2019 dengan nyeri kepala paling hebat yang pernah ia rasakan seumur hidup

Havana Syndrome Kembali Jadi Misteri, Puluhan Agen CIA Terdampak

WASHINGTON — Seorang perwira CIA terbangun di kamar hotelnya di London pada April 2019 dengan nyeri kepala paling hebat yang pernah ia rasakan seumur hidup. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, matanya terasa berputar di dalam rongganya, dan keseimbangannya lenyap begitu saja. Ia berusaha berjalan ke kamar mandi untuk muntah, tetapi kakinya tidak lagi bisa dipercaya.

Keesokan harinya ia datang ke rapat kerja yang menjadi tujuan perjalanannya. Namun ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu: ia tidak bisa mengingat nama rekan-rekan di ruangan itu, orang-orang yang selama ini ia kenal baik. Pembicaraan berlangsung, dan ia hanya mampu menangkap serpihannya. Awalnya ia mengira itu keracunan makanan. Beberapa pekan kemudian, gejalanya tak juga pergi — kabut otak, hilang keseimbangan, dan telinga berdenging yang makin keras.

Kisah itu bukan kasus tunggal. Selama lebih dari satu dekade, puluhan petugas CIA dilaporkan mengalami gejala melemahkan serupa, mulai dari pusing hebat, gangguan memori, hingga tinnitus kronis. Fenomena inilah yang kemudian dikenal luas sebagai Havana syndrome, nama yang diambil dari kota tempat kasus pertama kali mencuat pada 2016.

Kronologi Kasus yang Tak Kunjung Terjelaskan

  1. 2016–2017, Havana: Sejumlah diplomat dan personel intelijen AS melaporkan serangan suara misterius disertai gejala neurologis akut. Kasus-kasus awal inilah yang memberi nama sindrom tersebut.
  2. 2018–2020, berbagai negara: Laporan serupa menyebar ke sejumlah kota dunia, termasuk insiden yang dialami perwira CIA di London pada April 2019.
  3. 2023: Komunitas intelijen AS menyimpulkan bahwa penyebabnya "sangat tidak mungkin" merupakan senjata energi dari negara asing, dan sebagian besar kasus bisa dijelaskan oleh kondisi medis lain atau faktor lingkungan.
  4. Sekarang: Sejumlah penyintas menolak kesimpulan itu dan terus menuntut transparansi serta penyelidikan lanjutan.

Dua Kubu yang Sama-sama Bersikeras

Sampai hari ini, belum ada satu pun penjelasan yang benar-benar disepakati. Di satu sisi berdiri kubu yang meyakini para korban adalah target serangan senjata energi terarah — teori yang menyebut gelombang mikro atau radiasi sebagai pemicunya. Di sisi lain, sejumlah laporan resmi menggambarkan gejalanya sebagai manifestasi mass hysteria atau gangguan neurologis fungsional yang dipicu tekanan kerja ekstrem.

Bagi para penyintas, menyebut kondisi mereka "histeria massal" terasa seperti menuduh mereka mengada-ada. Bagi pemerintah, membuka seluruh berkas intelijen berarti mengungkap operasi yang seharusnya tetap rahasia.

Yang membuat kasus ini sulit ditutup adalah absennya bukti fisik. Tidak ada senjata yang ditemukan, tidak ada alat perekam yang menangkap sumber suara, dan tidak ada data medis yang sepenuhnya konsisten antar-kasus. Gejala yang berbeda-beda pada setiap korban membuat diagnosis tunggal nyaris mustahil dirumuskan.

Bayangan Penutupan dan Pertanyaan yang Tersisa

Ketegangan bertambah dengan munculnya tuduhan adanya upaya penutupan. Sebagian penyintas merasa laporan mereka diremehkan, akses layanan kesehatan dipersulit, dan karier mereka justru terganggu setelah melapor. Pemerintah AS membantah hal itu, dengan alasan kerahasiaan demi melindungi operasi dan identitas petugas.

Di luar perdebatan ilmiah, ada satu hal yang tak bisa dibantah: puluhan orang hidup dengan dampak jangka panjang yang nyata. Mereka kehilangan ingatan, keseimbangan, hingga kemampuan bekerja seperti sebelumnya. Hingga kini, pertanyaan terbesar bukan sekadar apa yang menyerang mereka, melainkan siapa yang tahu apa — dan kapan mereka memilih untuk diam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User