Aug 25, 2026
entertainment

Haruka Nakagawa: Kimono dan Panggilan Tanah Leluhur

Aroma tanah basah dan suara gemericik sungai kecil menyambut langkah Haruka Nakagawa begitu ia menuruni kendaraan yang membawanya dari hiruk-pikuk Tokyo. Di sudut desa yang sunyi, di antara rimbun pep...

Haruka Nakagawa: Kimono dan Panggilan Tanah Leluhur

Aroma tanah basah dan suara gemericik sungai kecil menyambut langkah Haruka Nakagawa begitu ia menuruni kendaraan yang membawanya dari hiruk-pikuk Tokyo. Di sudut desa yang sunyi, di antara rimbun pepohonan khas Jepang, sosoknya tampak menonjol—bukan karena gemerlap lampu panggung yang biasa ia tiupkan, melainkan karena balutan kimono berwarna lembut dengan motif bunga sakura yang menari di atas kain. Perempuan yang namanya dikenal luas di dunia hiburan Indonesia dan Jepang ini tengah menjalani perjalanan paling intim dalam hidupnya: pulang kampung, dengan sehelai kimono sebagai saksi bisu yang menyimpan segudang rindu.

Tidak ada kamera televisi, tidak ada sesi wawancara. Hanya ada jalan setapak yang menuntun pada rumah kayu berarsitektur tradisional, tempat ia pertama kali belajar berjalan dan mengeja mimpi. "Saya ingin kembali bukan sebagai selebritas, tapi sebagai anak yang rindu pelukan ibu," ucapnya lirih, seakan berbicara pada angin. Dan kimono itu, yang dipilih dengan saksama dari lemari tua milik sang ibu, menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia yang selama ini ia titi: gemerlap panggung hiburan dan kesederhanaan kampung halaman.

Mengurai Benang Sejarah di Setiap Serat Kimono

Kimono yang dikenakan Haruka bukanlah sembarang pakaian. Kain sutra itu adalah warisan dari sang nenek—perempuan tangguh yang mengajarkannya arti kebanggaan pada akar budaya. "Nenek selalu berkata, 'Kimono bukan sekadar kain, ia adalah doa yang ditenun dengan kesabaran.' Saat aku memakainya, aku bisa merasakan hangat tangannya yang dulu membimbingku," kenang Haruka, suaranya bergetar di antara desir angin yang menyapu taman kecil di belakang rumah.

Momen mengharukan itu semakin terasa saat ia membuka lemari kayu bercat merah yang sudah sedikit lapuk. Di dalamnya tersimpan kimono-kimono lain dengan motif yang mewakili setiap musim: sakura untuk musim semi, daun maple untuk musim gugur. Haruka memilih motif sakura, bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena bunga itu mengingatkannya pada masa kecil ketika ia dan nenek duduk di bawah pohon sakura, bercerita tentang hidup yang sederhana namun penuh makna.

"Setiap kali pulang, saya seperti diingatkan kembali bahwa mimpi besar saya bermula dari tempat yang sangat sederhana. Kimono ini adalah cara saya menghormati itu,"

tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Di Antara Dua Dunia, Kimono Menjadi Jangkar

Menjadi figur publik yang bergerak di dua negara—Indonesia dan Jepang—Haruka sering kali harus beradaptasi dengan ritme hidup yang serba cepat. Jadwal syuting, konser, dan tampil di depan kamera menuntutnya untuk selalu tampil sempurna. Namun di balik semua itu, ada kerinduan yang kadang tak tertahankan: rindu pada masakan ibu, rindu pada suara bel angin di teras rumah, dan rindu pada jati dirinya yang paling autentik. Pulang dengan kimono menjadi semacam ritual pribadi untuk mengobati luka batin yang sering terabaikan.

"Di Tokyo atau Jakarta, saya harus menjadi seseorang yang kuat. Tapi di sini, di kampung halaman, saya boleh menjadi rapuh. Dan kimono ini seperti pelukan yang mengizinkan saya untuk menangis," ungkapnya sambil tersenyum tipis. Di momen itulah, perjalanan seorang idol bergeser menjadi perjalanan seorang manusia yang sedang mencari keseimbangan. Bukan lagi tentang sorotan kamera, melainkan tentang berdamai dengan kerinduan.

Pesan Sederhana dari Lembut Kain dan Hangat Keluarga

Sore hari menjelang ketika Haruka duduk di tangga rumah, ditemani secangkir teh hijau hangat buatan ibunya. Ia memandangi pekarangan yang dulu menjadi arena bermainnya. Sesekali tetangga melambai, dan ia membalas dengan ramah, seolah belum pernah meninggalkan tempat ini. "Pulang kampung bukan sekadar perjalanan fisik. Bagi saya, ini adalah pengingat bahwa di balik semua pencapaian, ada akar yang harus terus dirawat," katanya, menyudahi perbincangan sore itu.

Kisah Haruka Nakagawa adalah potret tentang bagaimana selembar kimono mampu menjadi benang merah antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia bukan hanya soal gaya, melainkan soal makna—tentang bagaimana kita bisa tetap membumi di tengah langit yang semakin tinggi. Di balik layar kehidupan yang sibuk, ada keinginan sederhana untuk kembali ke tempat pertama kali hati ini berlabuh. Dan bagi Haruka, kimono adalah cara terindah untuk mengatakan, "Aku pulang."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User