Di ruang tamu yang sunyi, dua gadis kecil itu duduk berdampingan. Mata mereka menerawang ke arah pintu, seolah menunggu sosok yang selama ini hanya bisa mereka temui dalam hitungan jam. Sarwendah, ibu mereka, mengisahkan momen itu dengan suara yang bergetar. "Mereka selalu bertanya, kapan kita bisa kumpul bareng-bareng lagi?" ujarnya, menggambarkan betapa dalam kerinduan dua buah hatinya kepada sang ayah, Ruben Onsu.
Perjalanan keluarga ini bukanlah kisah yang mudah. Di balik layar gemerlap dunia hiburan, ada dua anak yang tumbuh dengan pemahaman bahwa pertemuan dengan ayah mereka tak lagi sesederhana dulu. Sarwendah tak menampik, setiap kali jadwal bertemu tiba, putrinya selalu berpesan hal yang sama: mereka ingin ayah dan ibu hadir bersamaan, bukan bergantian.
Kerinduan yang Tak Bisa Dijadwalkan
Sarwendah menuturkan, keinginan anak-anak untuk bertemu dalam formasi lengkap kerap muncul di momen-momen tak terduga. Saat makan malam bersama, ketika melihat keluarga lain berjalan beriringan di pusat perbelanjaan, atau bahkan ketika sekadar menonton film kartun tentang keluarga utuh. "Ada kalanya mereka diam saja, tapi matanya bilang banyak hal," kenangnya. Ia pun menyadari, apa yang diinginkan anak-anak bukanlah sesuatu yang bisa diatur oleh jadwal atau kesepakatan tertulis.
Momen mengharukan terjadi ketika salah satu putrinya menuliskan pesan singkat untuk sang ayah. Dalam tulisan anak-anak yang polos, ia menuliskan keinginan sederhana: ingin dipeluk ayah dan ibu sekaligus, seperti dulu. Sarwendah menyimpan pesan itu baik-baik. "Saya enggak bisa memaksa apa pun. Tapi sebagai ibu, saya cuma bisa memastikan mereka tetap merasa dicintai," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Membangun Jembatan di Tengah Perbedaan
Bagaimana pun, Sarwendah berusaha menjadi jembatan. Ia tak ingin anak-anak tumbuh dengan luka karena harus memilih atau merasa kehilangan salah satu sosok orang tua. Setiap kali Ruben datang menjemput atau sekadar meluangkan waktu, ia selalu menyiapkan anak-anak dengan penuh kasih. "Saya bilang, ayah sayang kalian. Pergi sama ayah, cerita semuanya ke ayah," ujarnya. Namun ia mengakui, ada rasa getir yang harus ia sembunyikan saat harus menutup pintu dan menyaksikan mereka pergi tanpa dirinya.
Dalam beberapa kesempatan, Sarwendah dan Ruben memang sempat bertemu untuk urusan anak. Namun pertemuan itu tak selalu berjalan sesuai harapan anak-anak. Ada kalanya situasi membuat mereka harus bertemu secara terpisah. "Anak-anak itu sederhana, mereka cuma ingin lihat ayah dan ibu ada di satu ruangan yang sama," tegasnya. Keinginan itu bukanlah tuntutan, melainkan cerminan cinta anak yang masih utuh kepada kedua orang tuanya.
Belajar dari Ketulusan Anak
Sarwendah mengaku banyak belajar dari ketulusan putri-putrinya. Di tengah dinamika kehidupan yang rumit, anak-anak justru mengajarkan arti memaafkan dan menerima. "Mereka itu sumber kekuatan saya. Kalau saya lelah, saya lihat mereka, saya jadi bangkit lagi," tuturnya penuh syukur. Ia pun berharap, apa pun yang terjadi ke depan, komunikasi antara kedua orang tua tetap terjaga demi masa depan anak-anak.
Kisah Sarwendah ini menjadi pengingat bahwa di setiap perpisahan, ada harapan yang tetap dijaga oleh anak-anak. Mereka tak memahami ego orang dewasa, mereka hanya ingin merasakan kehangatan keluarga yang pernah mereka kenal. "Selama anak-anak bahagia, itu yang paling penting," pungkasnya. Sebuah doa sederhana dari seorang ibu, yang berjuang memastikan mimpi kecil putrinya tetap punya tempat untuk tumbuh.
Di rumah itu, dua gadis kecil masih menunggu. Bukan untuk sesuatu yang megah, hanya momen sederhana ketika ayah dan ibu duduk bersama, mendengarkan cerita mereka. Dan bagi Sarwendah, itulah inspirasi terbesar dalam perjalanan hidupnya.
Comments (0)