Kabar kurang menyenangkan kembali datang dari kawasan wisata unggulan Jawa Timur. Setelah sempat merasakan situasi kondusif selama tiga pekan pascapemadaman total, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan kembali membara di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Munculnya titik api baru ini sontak membuat petugas gabungan dan relawan harus kembali bersiaga penuh menembus medan perbukitan yang terjal.
Kondisi vegetasi savana yang mengering akibat cuaca terik serta hembusan angin kencang di kawasan dataran tinggi mempercepat perambatan api. Berdasarkan pemantauan di lapangan, kobaran api dengan cepat melahap rumput kering dan semak belukar hingga asap pekat tampak membubung tinggi di atas cakrawala kawasan Bromo.
Kronologi Titik Api Membakar Savana Pengol
Berdasarkan data laporan lapangan dan penuturan petugas, berikut adalah rangkaian kronologis kembalinya amukan si jago merah di kawasan Bromo:
- Kamis Petang (10/9/2026) – Titik Awal Terdeteksi: Petugas patroli TNBTS mendeteksi kepulan asap pertama kali di sekitar area Savana Pengol menjelang matahari terbenam. Api dengan cepat membesar karena bahan bakar alami yang sangat kering.
- Kamis Malam – Api Merambat ke Perbukitan: Akibat dorongan angin malam pegunungan yang bertiup kencang, lidah api merambat naik menuju punggung perbukitan di sekitarnya dan membentuk garis api yang terlihat jelas dari kejauhan.
- Jumat Pagi – Pengerahan Tim Gabungan: Puluhan personel gabungan dari Balai Besar TNBTS, BPBD, TNI, Polri, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) langsung diterjunkan ke titik lokasi untuk melakukan penyekatan dan pemadaman manual menggunakan metode gepyok serta tangki semprot punggung.
"Kami mengerahkan seluruh sumber daya yang ada sejak laporan pertama masuk. Fokus utama tim di lapangan saat ini adalah membuat sekat bakar agar api tidak meluas ke area blok hutan lindung dan jalur utama aktivitas wisata," ungkap salah satu koordinator lapangan tim penanganan karhutla.
Tantangan Berat Medan Curam dan Hembusan Angin
Upaya pemadaman karhutla di kawasan Gunung Bromo kali ini menghadapi tantangan geografis yang cukup berat. Sebagian besar area yang terbakar berada di lereng-lereng curam dengan tingkat kemiringan ekstrem, sehingga menyulitkan akses mobil pemadam ataupun suplai air manual.
Selain kendala medan, faktor cuaca ekstrem menjadi ancaman tersendiri. Angin kencang yang arahnya kerap berubah sewaktu-waktu berisiko memicu loncatan bara api ke area savana lain yang belum terbakar. Petugas gabungan kini menerapkan strategi gabungan:
- Pembuatan parit atau firebreak darurat di sepanjang jalur perambatan api.
- Pemadaman langsung pada titik api yang masih dapat dijangkau personel darat secara aman.
- Pemantauan berkala menggunakan drone termal untuk mendeteksi potensi bara sekam di bawah permukaan tanah.
Imbauan Keselamatan untuk Wisatawan dan Warga
Otoritas terkait terus mengimbau masyarakat sekitar, pelaku jasa wisata jip, maupun wisatawan untuk selalu waspada dan tidak melakukan tindakan ceroboh yang memicu api, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau menyalakan api unggun tanpa pengawasan ketat. Hingga saat ini, evaluasi berkala terus dilakukan untuk memastikan keamanan jalur wisata Bromo dari ancaman kepulan asap pekat maupun bahaya perambatan api.
Comments (0)