Di sudut dapur berukuran tiga kali empat meter itu, aroma kunyit, lengkuas, dan daun jeruk purut menyeruak begitu pintu kayu dibuka. Ibu Rosma, perempuan berusia 58 tahun, berdiri di depan kompor tua yang masih setia menyala. Tangannya cekatan mengaduk santan dalam kuali besar. Di atas meja kayu, sepiring cumi segar menunggu giliran dimasukkan. "Cumi ini harus masuk di akhir," ujarnya pelan, nyaris seperti berbisik. "Kalau terlalu lama, dia keras. Nanti hilang lembutnya."
Kalimat sederhana itu ternyata menyimpan perjalanan panjang. Lebih dari tiga dekade Rosma merawat resep gulai cumi warisan ibunya, seorang pedagang kecil di Pasar Raya Padang. Ia mengisahkan bagaimana dulu ia hanya membantu mencuci cumi sambil mencuri dengar bisikan bumbu dari dapur ibunya. "Tidak ada catatan. Semua di hafalan tangan," katanya, matanya berkaca. Kini, di usia yang tak lagi muda, ia justru menjadi penjaga rasa yang tak pernah ia bayangkan akan jadi pusat hidupnya.
Bumbu yang Tak Pernah Diburu-buru
Bagi Rosma, gulai cumi bukan sekadar makanan. Ia adalah cara ia berbicara tentang cinta. Setiap pagi, sebelum matahari menampakkan diri, ia sudah menumbuk bumbu dengan lumpang batu warisan neneknya. Ada kemiri, ketumbar, dan cabai merah kering yang direndam air hangat agar aromanya bangkit. "Kalau pakai blender, rasanya berubah. Tidak ada napasnya," tuturnya sambil tersenyum. Ia percaya, kesabaran adalah bumbu kesebelas yang paling mahal.
Saat santan mulai mengeluarkan minyak dan berwarna kekuningan, Rosma memasukkan cumi satu per satu. Ia tak menuang semuanya sekaligus. Ada gestur tangan yang hati-hati, seolah cumi itu makhluk hidup yang perlu diperlakukan lembut. "Dulu, ibu saya bilang, cumi itu seperti manusia. Kalau dipaksa, dia melawan. Kalau dibiarkan, dia lembut," ujarnya. Tawa kecilnya mengisi dapur, namun mata yang berkaca tadi masih tersisa beningnya.
Momen Ketika Air Mata Berbaur dengan Kuah Kuning
Kisah gulai cumi Rosma tak melulu tentang keberhasilan. Di tahun 2016, ketika banjir besar melanda kampungnya, hampir seluruh peralatan dapurnya hanyut. Ia harus memulai dari nol dengan lumpang baru, kuali pinjaman, dan resep yang ia khawatirkan mulai menipis dari ingatan. "Bapak saya baru meninggal waktu itu. Saya duduk di dapur kosong, tidak tahu mau masak apa," kenangnya. Air mata menetes di sudut matanya. Ia melanjutkan, "Saya pikir, kalau saya berhenti memasak, artinya saya berhenti mengingat ibu dan bapak. Jadi saya bangkit."
"Saya pikir, kalau saya berhenti memasak, artinya saya berhenti mengingat ibu dan bapak. Jadi saya bangkit."
Sejak saat itu, Rosma mulai mengajarkan resep gulai cumi kepada para tetangga. Bukan untuk membuka usaha besar, melainkan agar kenangan itu tetap hidup. Kini, setidaknya sepuluh ibu di kampungnya bisa memasak gulai cumi dengan rasa yang ia akui "hampir sama". "Hampir, karena tangan setiap orang beda. Tapi saya senang," ucapnya.
Kelembutan yang Tak Pernah Instan
Dalam banyak percakapan, Rosma sering ditanya mengapa ia tidak membuat versi instan atau bumbu kemasan. Ia hanya tersenyum. Menurutnya, gulai cumi khas Padang adalah cermin dari cara orang Minang memandang hidup. Ada proses, ada waktu, dan ada penantian. "Orang sekarang mau cepat. Tapi rasa tidak bisa diburu-buru," katanya. Ia menyebut, santan harus dimasak dengan api kecil setidaknya satu jam agar tidak pecah, sementara cumi hanya butuh waktu sepuluh menit di akhir agar tidak alot.
Di balik layar dapur sederhana itu, Rosma menyimpan satu permintaan. Ia ingin suatu hari nanti, cucunya yang kini berusia tujuh tahun mau mewarisi lumpang batu dan resep itu. "Saya tidak minta dia jadi koki. Saya hanya minta dia tahu, di mana rumahnya," ujarnya lirih. Dapur itu pun kembali sepi, hanya ada desis kecil dari kuali dan aroma gulai yang perlahan mengepul keluar, seakan membawa serta seluruh kisah, perjuangan, dan cinta yang tak pernah ia ucapkan dengan kata-kata.
Bagi banyak orang, gulai cumi mungkin hanya hidangan di meja makan. Tetapi bagi Rosma, ia adalah saksi dari sebuah perjalanan panjang, tempat air mata pernah jatuh ke dalam kuah kuning, dan tempat mimpi sederhana tentang kenangan keluarga terus dijaga dengan penuh kelembutan.
Comments (0)