Aug 25, 2026
entertainment

Goresan Kuas SBY dan Para Seniman Menyampaikan Pesan Damai di TIM

Di sudut Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta, seorang ibu paruh baya berdiri lama di depan satu lukisan. Kedua tangannya menggenggam erat tas kecil, matanya tak berkedip menatap kanvas berga...

Goresan Kuas SBY dan Para Seniman Menyampaikan Pesan Damai di TIM

Di sudut Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta, seorang ibu paruh baya berdiri lama di depan satu lukisan. Kedua tangannya menggenggam erat tas kecil, matanya tak berkedip menatap kanvas bergambar dua tangan yang saling menggenggam. Beberapa saat kemudian, air mata mengalir pelan di pipinya. “Saya tidak tahu siapa pelukisnya, tapi lukisan ini berbicara tentang rindu saya akan kedamaian,” ujarnya lirih.

Momen mengharukan itu hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah yang lahir di pameran seni bertajuk Art for Peace and a Better Future Collaboration. Sejak dibuka, pameran hasil kolaborasi SBY Art Community ini menjadi magnet bagi pencinta seni dan masyarakat umum yang ingin menyaksikan bagaimana goresan kuas bisa menjadi bahasa perdamaian yang universal. Pameran akan berlangsung di TIM hingga 30 Agustus 2026.

Dari Ruang Kecil ke Panggung Besar

Di balik layar pameran ini terdapat kisah panjang tentang kegigihan. SBY Art Community lahir dari kecintaan sederhana terhadap seni lukis, yang dipupuk dalam kesunyian pagi dan ketekunan yang tak pernah padam. Sejak lama, seni lukis menjadi ruang hening bagi para anggotanya untuk menuangkan gagasan, kegelisahan, dan harapan tanpa perlu berteriak.

“Setiap goresan kuas adalah doa,” begitu kata salah satu seniman yang terlibat dalam pameran ini. “Kami tidak mengejar panggung. Kami hanya ingin menyampaikan bahwa di tengah dunia yang ramai ini, masih ada ruang untuk kelembutan, untuk dialog, untuk saling memahami.”

Perjalanan mereka mengisahkan semangat yang tak pernah surut. Dari ruang berukuran 3x4 meter yang sederhana, tempat mereka berlatih melukis dengan peralatan seadanya, hingga akhirnya karya mereka digantung di dinding galeri bergengsi di jantung ibu kota. Bagi banyak anggota komunitas, momen ini bukan sekadar pencapaian, melainkan bukti bahwa mimpi yang dirawat dengan sabar akan menemukan jalannya sendiri.

Kuas yang Berbicara Lebih Lantang dari Kata

Lebih dari seratus karya dipajang dalam pameran ini, masing-masing membawa pesan damai dengan bahasa visualnya sendiri. Ada lukisan pemandangan alam yang tenang, potret manusia dengan tatapan teduh, hingga karya abstrak yang mengajak penonton merenung. Yang menyentuh, kata para kurator, adalah keseragaman nada: hampir semua karya memancarkan optimisme dan ajakan untuk bangkit bersama.

“Seni tidak pernah memihak pada kekerasan,” ujar seorang pengunjung lain yang datang bersama keluarganya. “Saya membawa anak saya ke sini karena ingin ia belajar bahwa perbedaan bisa disatukan oleh keindahan. Ini pelajaran yang tidak akan ia dapatkan dari layar ponselnya.”

Pesan itu tampaknya berhasil sampai. Sepanjang pameran berlangsung, pengunjung dari berbagai latar belakang tampak berbaur, berdiri berdampingan di depan setiap kanvas. Tak jarang terdengar percakapan hangat antara pengunjung yang sebelumnya tidak saling mengenal — diskusi tentang makna lukisan yang perlahan berubah menjadi perbincangan tentang kehidupan. Di sinilah seni bekerja dengan caranya yang halus: meruntuhkan sekat, membangun jembatan.

Harapan yang Menggantung di Dinding Galeri

Bagi generasi muda seniman, pameran ini menjadi sumber inspirasi tersendiri. Sejumlah mahasiswa seni rupa tampak sibuk membuat sketsa dari karya-karya yang dipajang, sementara yang lain berdiri lama membaca judul setiap lukisan seolah menyerap pesan di dalamnya. “Saya belajar bahwa seniman tidak harus berteriak untuk didengar,” kata seorang mahasiswa seni rupa yang ditemui di lokasi. “Cukup tulus, cukup konsisten, dan karyanya akan berbicara sendiri.”

Momen-momen seperti inilah yang membuat pameran ini terasa lebih dari sekadar ajang pamer. Ia menjadi ruang refleksi bagi siapa saja yang lelah oleh hiruk-pikuk pemberitaan yang menyesakkan. Di tengah dunia yang sering kali terasa terbelah, pameran ini menawarkan alternatif: sebuah ruang di mana orang bisa berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat kembali bahwa di balik segala perbedaan, ada keindahan yang bisa dibagikan bersama.

Sebuah Ajakan yang Terus Bergema

Pameran Art for Peace and a Better Future Collaboration masih berlangsung hingga 30 Agustus 2026. Namun bagi mereka yang telah menyaksikannya, pesan yang dibawa pameran ini dipastikan akan terus bergema jauh setelah lampu galeri dimatikan. Setiap lukisan yang tergantung di dinding adalah pengingat bahwa perdamaian bukanlah kata besar yang mustahil — melainkan sesuatu yang bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti sapuan kuas yang penuh ketulusan.

“Ketika orang bertanya apa yang bisa kami sumbangkan untuk dunia, jawabannya ada di dinding ini,” kata seorang seniman komunitas dengan mata berkaca-kaca. “Kami menyumbangkan harapan.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User